Breaking News

KRATON NGAYOJOKARTO

Berawal Mangkubumi yang membantu Pakubuwana II hingga mampu meredakan api konflik dr perang saudara, kemudian mendapatkan hadiah berupa sebidang tanah dari Pakubuwana II. Namun, luas tanah yang diberikan bgt byak, rupanya menimbulkan kecemburuan di kraton.

Salah seorang pangeran lalu memprotes ketidakadilan terkait hadiah tersebut kepada Gubernur Jendral Baron Van Imhoff. Gubernur jenderal di Batavia itu lantas mengeluarkan keputusan yang membuat tanah tersebut tidak jadi dimiliki oleh Mangkubumi.

Keputusan Gubernur membuat berang dia meminta izin kepada kakaknya, PB II “Daripada pemberian atau lungguh (tahta) saya dikurangi, lebih baik buanglah saja saya sampai saya tidak bisa kembali lagi ke Jawa” ujar Pangeran Mangkubumi. Akhirnya diberi bekal berupa uang 3000 golden “Ini jatah untuk makan anak buahmu, silahkan pergi” jawab Pakubuwana II, kemudian malamnya ia pergi.

Sejak saat itulah pecah perang Mangkubumen. Puluhan ribu prajurit Belanda dan prajurit Jawa tewas. Perlawanan ini mendorong gubernur dari VOC untuk Jawa utara, Nocholas Hartingh mengambil sikap. Untuk menyelamatkan daerah operasionalnya, secara tertutup Hartingh melakukan perundingan dengan Pangeran Mangkubumi.

Setelah berkali-kali melakukan perundingan, Hartingh bersepakat dengan keinginan Pangeran Mangkubumi yang juga hendak menjadi penguasa di tanah Jawa. Pada 23 September 1754, nota kesepahaman antara VOC dan Mangkubumi terlaksana. Dan nota tersebut disampaikan kepada Pakubuwana III, sang pengganti Pakubuwana II.

Nota tersebut menyatakan bahwa Pangeran Mangkubumi mendapatkan wilayahnya. Pada 4 November 1754, Pakubuwana III menyatakan persetujuannya terhadap hasil perundingan gubernur Jawa utara dengan Mangkubumi. Surat pernyataan itu disampaikan oleh Pakubuwana III kepada Gubernur Jendral VOC, Jacob Mossel.

Kesepakatan itu mendorong terjadinya sebuah perjanjian besar yang ditandatangani di Desa Giyanti, beberapa kilometer di sebelah timur Surakarta, kini kawasan Karanganyar.

Penandatanganan Perjanjian Giyanti ini menjadi pangkal dari terbelahnya tanah Jawa menjadi dua bagian, atau yang dikenal dengan istilah “Palihan Nagari”. Hal ini menjadi awal mula naik Tahta Mangkubumi di Yogyakarta sebagai Sri Sultan Hamengkubuwana I dengan gelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Sejak ditandatangani perjanjian tersebut pada 13 Februari 1755.
Demikian sekilas fersi tentang berdiri Kraton Ngayojakarta atau Mataram Jogja, yg menandai adeking kuto Ngajokarto Hadiningrat 263 tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*