Breaking News

Penerapan sistem zakat era khalifah Umar bin Abdul Aziz

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ke-8 setelah Sulaiman Bin Abdul Malik. Beliau dilahirkan di hilwan tidak jauh dari Kairo, pada tahun 63H/683M, ketika itu ayahnya adalah seorang gubernur di Mesir. Tetapi menurut Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan bahwa Umar dilahirkan di Madinah. Umar adalah putra dari Abd Al-Aziz bin Marwan bin Hakam dan Ibunya adalah Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar Ibnul-Khattab.

Kehidupannya yang penuh bergemilang harta dan tenggelam dalam kemewahan yang biasa dilakukan oleh Bani Umayyah  ia dididik dan dibesarkan dalam istana yang tanaha-tananh perkebunan di Hijaz, Syam, Mesir Yaman dan Bahrain. Dari sana ia mendapat pengahasilan yang besar sebanyak 40.000 dinar setiap tahun.

Awalnya Umar II merasa keberatan untuk menerima jabatan sebagai khalifah yang telah dipilih oleh khalifah sebelumnya yaitu Sulaiman melalui surat wasiat, tetapi kaum muslim terus mendesak ia untuk menerima jabatan tersebut dan akhirnya ia menerima jabatan tersebut dengan anggapannya bahwa amanah tersebut tidak ringan. Berbeda halnya dengan orang pada umumnya, apabila menerima jabatan tinggi biasanya menyambut dengan suka cita dan hal tersebut merupakan anugrah dari tuhan, tetapi untuk Umar II, ia merasa hal sebaliknya. Ia malah berkata “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, padahal kata-kata tersebut biasanya diucapkan pada orang yang sedang tertimpa musibah.

Setelah Umar II menjadi Khalifah, ia memutuskan untuk memberikan segala kekayaan yang dimiliki kepada kas negara, termasuk kekayaan yang dimiliki istrinya yang bernama Fatimah binti Abdul Malik yang merupakan pemberian dari ayahnya yang berupa kalung emas dengan nilai 10.000 dinar emas. Alasan khalifah melakukan hal tersebut belum ada yang mampu untuk memakai kalung dengan harga yang sama. Maka Umar II juga melarang ibu negara untuk mengenakannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah sosok pemimpin yang terlahirkan di istana dan tumbuh sebagai pangeran yang hidupya serba mewah. Ia selalu menjadi omongan Karena kerapian, ketampanan, kewangian dan kegemerlapan pakaiannya. Bahkan gayanya dalam berjalan yang begitu indah diikuti banyak orang pula.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat itu merangsang tumbunhnya demand permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya Supply. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tetapi juga menjadi faktor simulant bagi pertumbuhan ekonomi ditingkat makro.

Itulah yang kemudian terjadi di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorangpun yang menerima zakat. Artinya para mustahiq benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi swasta dan subsidi social dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkwainan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan “negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda”, secara tidak langsung hal ini juga menunjukan pemerintahan yang sukses dalam membina masyarakat dan mengorganisir pengelolaan zakat.

Firman Allah pada surat At-Taubah ayat 103 : “ Ambillah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (harta) dan mensucikan jiwa mereka”. Ayat diatas menegaskan pentingnya partisipasi aktif pihak-pihak yang berkuasa untuk mengambil zakat pada mereka yang memenuhi kategori wajib zakat. Sebagaiman pemerintah dan ulama serta masyarakat dimasa lalu bekerja sama untuk mengelola zakat dan infaq lainnya. Menurut sejarah pada zaman pemerintahan khalifah umar pernah menyuruh aparatnya untuk melakukan sensus  (pencatatan) mengenai penduduknya. Data yang diharapkan adalah jumlah penduduk miskin dan jumlah penduduk berada (memiliki harta yang cukup) untuk mengeluarkan zakat dengan pemungutan zakat yang benar, penduduk miskin dapat diberdayakan atau memberdayakan dirinya, untuk kemudian menjadi wajib membayar zakat tahun berikutnya jika usahanya berhasil

Adapun perubahan beberapa kebijakan sistem zakat di era Khalifa Umar bin Abdul Aziz adalah

  1. Memungut kebijakan atas kuda dikarenakan bayak dari peternak kuda yang kaya oleh hasil peternakan kuda.
  2. Mengehentikan pembagian zakat kepada muallaf Karena islam sangat kuat pada era itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*