Breaking News

Zakat Konsumtif dan Zakat Produktif

Zakat merupakan salah satu rukun Islam. Secara istilah zakat adalah harta yang secara khusus disedekahkan kepada penerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Pendistribusian zakat dilakukan berdasarkan skala prioritas kewilayahan. Zakat bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan sesuai dengan UU No.23 Tahun 2011. Secara umum, pendistribusian zakat yang sering dilakukan berupa zakat konsumtif kepada para mustahiq. Zakat konsumtif merupakan zakat yang diberikan kepada 8 asnaf untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi zakat konsumtif ini kurang begitu membantu untuk kebutuhan jangka panjang. Hal ini dikarenakan zakat konsumtif hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari dan akan habis tanpa menghasilkan atau hanya untuk jangka pendek. Maka dari itu, diperlukan juga pola pendidstribusian zakat yang bersifat zakat produktif kepada para mustahiq.
Dalil yang memperbolehkan zakat produktif sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yaitu ketika Rasulullah memberikan uang zakat kepada Umar bin Al-Khatab yang bertindak sebagai amil zakat seraya bersabda “Ambilah dahulu, setelah itu milikilah (berdayakanlah) dan sedekahlah kepada orang lain dan apa yang datang kepadamu dari harta semacam ini sedang engkau tidak membutuhkannya dan bukan engkau meminta, maka ambillah. Dan mana-mana yang tidak demikian maka janganlah engkau turutkan nafsumu.”
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada BAB II Badan Amil Zakat Nasional bagian kedua pendistribusian pasal 25 dan pasal 26 bahwa zakat wajib didistribusikan kepada mustahik sesuai syariat Islam yang dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan dan kewilayahan, serta pada bagian ketiga pendayagunaan pasal 27 bahwa zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat dilakukan apabila kebutuhan dasar mustahik telah terpenuhi sesuai dengan Peraturan Menteri.
Berdasarkan fatwa MUI bahwa dana zakat yang diberikan kepada fakir miskin dapat bersifat produktif, salah satu bentuk zakat produktif yaitu diinvestasikan dengan syarat dana zakat yang diinvestasikan disalurkan pada usaha halal sesuai dengan syariat dan peraturan yang berlaku, usaha layak serta dibina dan diawasi oleh pihak berkompeten yaitu lembaga yang mengelola dana investasi tersebut. Metode pendistribusian zakat produktif menggunakan akad qardhul hasan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa zakat produktif diperbolehkan berdasarkan Hadits Shahih Riwayat Muslim dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011. Kata produktif sendiri berasal dari bahasa inggris yaitu “productive” yang berarti menghasilkan atau memberikan banyak hasil. Maka, zakat produktif adalah pengelolaan dana zakat yang diberikan kepada penerima zakat sesuai dengan syariat ( 8 asnaf ) yang memberikan penghasilan jangka panjang bagi para penerima zakat. Penyaluran dana zakat produktif ini dilakukan dalam rangka mewujudkan salah satu tujuan disyariatkannya zakat, yaitu mengurangi kemiskinan umat secara bertahap dan berkesinambungan.

Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat apabila kebutuhan dasar mustahik telah terpenuhi. Zakat produktif memberikan dampak positif pada pembangunan, pertumbuhan perekonomian, dan kesejahteraan ummat apabila dilakukakan secara optimal. Zakat produktif ini sangat penting dalam membangun masyarakat produktif dan inovatif dalam membangun perekonomian bangsa yang sejahtera. Zakat produktif dapat dipergunakan sebagai program pengentasan kemiskinan dengan cara pendistribusian zakat berupa modal usaha, alat-alat usaha, pelatihan keterampilan, serta bimbingan usaha. Sedangkan, dampak positif zakat produktif untuk para mustahiq yaitu dapat hidup mandiri sehingga ia tidak butuh lagi menerima zakat ketika ekonominya telah mapan.
Maka dari itu, paradigma distribusi zakat dari orientasi konsumtif harus dapat diubah menjadi orientasi produktif, agar kemiskinan dapat lebih efektif ditangani karena zakat dapat dijadikan modal usaha untuk mengubah dhuafa ke arah lebih mandiri dan sejahtera. Pengelolaan zakat produktif harus dipahami oleh semua masyarakat, khususnya muzaki, amil dan mustahiq. Berzakat sebaiknya dikelola oleh lembaga amil zakat yang amanah dan terpercaya.
BAZNAS DIY dengan program Baitul Qiradh BAZNAS (BQB) merupakan lembaga ekonomi keuangan mikro syariah berbadan hukum koperasi yang menyalurkan dana ZIS secara produktif baik melalui pinjaman kebajikan (Al Qardhul Hasan) maupun melalui pembiayaan dengan pola syariah kepada para mustahiq.
Meskipun demikian penyaluran zakat konsumtif akan tetap ada sampai kapanpun, hanya saja penggunaan kedua cara tersebut, yaitu konsumtif maupun produktif memiliki komposisi besar-kecilnya masing-masing tergantung kebutuhan masyarakat. Sementara itu, pemberdayaan zakat produktif akan lebih mempercepat pertumbuhan perekonomian.

Written by Fazril Achsan, Rahman Emol Aveiro kroos and Nurochmah Fitriatna. Published on Wednesday, 19 October 2016 14:30.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*