KESIAPAN AMIL ZAKAT DALAM MENGHADAPI ERA TEKNOLOGI 4.0

  • Tanggal : 03/12/2022
  • Diposting oleh : Admin

(Yogyakarta – BAZNAS DIY) Kembali bekerjasama dengan MQFM dalam Salam Jogja,  Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) DIY  berbincang tentang  Kesiapan Amil Zakat Dalam Menghadapi Era Teknologi 4.0
Bersama Tara Fadila dan Shofia Putri selaku host MQFM, kali ini H. Ahmad Lutfi, SS., MA., menjelaskan, “Teknologi 4.0 mengkombinasikan antara teknologi informasi dengan jaringan internet. Konsekuensinya, akan terjadi pengurangan SDM”.
Dalam pengelolaan ZIS dan DSKL, tentunya BAZNAS harus menyesuaikan. Selama ini BAZNAS sudah melakukan dengan SIMBA, sebuah sistem informasi manajemen BAZNAS yang bisa digunakan dalam pengeloaan ZIS dan DSKL baik dalam Penghimpunan, Pendistribusian, Pelaporan, maupun Operasional, yang bisa dilihat oleh BAZNAS secara Nasional
“BAZNAS juga sudah menyiapkan kantor digital, yaitu Muzaki bisa membayar zakat dengan cara digital. Sedangkan untuk SDM tentunya masih tetap dibutuhkan, karena tidak semua pekerjaan dilaksanakan oleh mesin seperti di pabrik. Seperti input SIMBA, input Muzaki. Muzaki datang juga musti didoakan oleh Amil/SDM. Juga dalam pembuatan desain-desain grafis juga tidak bisa dilakukan oleh mesin. Amil-Amil zakat juga terus dilatih, seperti sertifikasi juga tentang fiqih, dan juga teknologi tidak boleh ditinggalkan. SIMBA sudah diberlakukan sejak tahun 2016 secara Nasional dan bahkan tiap tahun selalu diberikan BAZNAS Award bagi BAZNAS yang aktif menggunakan SIMBA, sehingga Amil-Amil aktif dan tepat waktu mengentri data melalui SIMBA”,  lanjut Wakil Ketua Bidang SDM, Administrasi dan Umum BAZNAS DIY ini
 Selanjutnya Tara bertanay, apakah kinerja Amil akan semakin meningkat dengan adanya SIMBA? Dan migrasinya tentunya butuh strategi dalam bermigrasi dari manual ke digital?
Menanggapi pertanyaan ini, Lutfi menyampaiakn tentang pelatihan secara terus menerus di SIMBA, karena updating data juga selalu ada. Biasanya cara ini dilakukan BAZNAS R.I.
Namun demikian, BAZNAS DIY juga mengadakan pelatihan untuk BAZNAS Kabupaten/Kota dalam SIMBA dan juga mengadakan koordinasi maupun evaluasi dengan BAZNAS Kabupaten/Kota.
Tara kembai bertanya, apa dampaknya setelah menggunakan SIMBA?
Mengenai hal ini, Lutfi berujar, “Kalau dulu, laporan yang setiap bulan dan enam bulan sekali dan tahunan berbentuk manual. Dan setelah menggunakan SIMBA lebih cepat”.
Dalam pemanfaatan teknologi, tentunya terdapat kendala.  Perangkat yang memenuhi spesifikasi, jaringan internet juga harus sesuai. Kadang-kadang saat jaringan tidak lancar, akan terkendala.
“Apabila terjadi kendala seperti ini, di kami masih punya tanda terima yang manual. Saat penambahan SDM, harus dilatih dahulu agar SDM bisa dipersiapan dalam pengopasionalan SIMBA. Selain itu, bisa juga menggunakan transfer melalui rekening. Bisa juga menggunakan QRIS yang dicantumkan di website”, urai Lutfi.
Apakah SIMBA bisa dilihat oleh masyarakat umum?
Namun, SIMBA masih bersifat internal, jadi apabila masyarakat ingin tahu data SIMBA, bisa melihat langsung di kantor, juga bisa dilihat di website BAZNAS DIY.
Meski sudah menggunakan sistem digital, yang manual dan konvensional juga masih dilayani, (tidak ditinggalkan) seperti layanan di kator dan jemput zakat.
Lalu Shofia Putri dan Tara kembali menyampaikan pertanyaan  berkaitan dengan SIMBA, pelayanan apa saja yang sudah didapat oleh masyarakat dalam SIMBA.
Lutfi mengungkapakan, dengan SIMBA laporan bisa dilakukan dengan cepat dan tepat secara Syar’i. Apabila tidak didukung oleh teknologi, maka akan sulit terpantau dengan baik.
Dalam layanan masyarakat, dengan SIMBA maka masyarakat bisa lebih cepat mengetahui tentang Pengelolaan ZIS dan DSKL. Selain  itu, pengelolaan ZIS dan DSKL  bisa dilihat dari website, instagram, maupun facebook yang terus update informasi.
Selain itu, dengan SIMBA, data Muzaki maupun Mustahik juga bisa dilihat.
Laporan pada masyarakat juga bisa dilakukan dalam pengajian tiap bulan, BAZNAS DIY melaporkan dalam bentuk video dan laporan secara langsung maupun online yang dibacakan Pimpinan BAZNAS DIY secara bergantian setiap bulan.
Untuk transparansi, setiap proposal selalu didata, dan dalam pentasarufannya disesuaikan dengan program yang sudah ditetapkan oleh BAZNAS. Program-program yang dicanangkan BAZNAS, selalu selaras dengan Asnaf-Asnaf yang berhak mendapatkan pentasarufan zakat.
Bagi Muzaki yang ingin membayar zakat, secara digital bisa melalui rekening, website dan QRIS, dan ini selalu kami lakukan sosialisasi ke masyarakat
Apabila penyaluran melalui BAZNAS dan LAZ resmi, maka penyalurannya akan terarah dan terpantau karena semuanya sudah terpantau oleh SIMBA.
Meskipun demikian, secara konvensional juga masih kami lakukan seperti bayar zakat secara langsung bertemu langsung dengan Amil, agar didoakan. Pembayaran bisa datang langsung ke kantor BAZNAS DIY
Statemen akhir dalam siaran pagi ini, Lutfi menegaskan zakat adalah kewajiban umat Islam yang memilik emas 85 gram, disamakan dengan penghasilan apabila sudah memiliki penghasilan 6,5 jt/bulan, maka wajib membayar zakat. Pembayaran sebaiknya tiapa bulan agar tidak terasa berat daripada dibayar satu tahun sekali.
Tidak lupa Lutfi berpesan bagi masyarakat yang sudah wajib bayar zakat, maka segera bayar. Dan bagi yang belum wajib, bisa membayar infak. Karena dengan membayar zakat ataupun infak, insyaAllah hartanya akan semakin berkah, hartanya bisa bertambah, dan karirnya akan makin sukses. Dan dengan membayar zakat melalui BAZNAS dan LAZ resmi, yang sudah bagus transparansi pengelolaannya. (Mie)
 
BAYAR ZAKAT