WhatsApp Icon
Kepedulian melalui Zakat, BAZNAS DIY Bantu YAKETUNIS

Yogyakarta — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyalurkan zakat terikat dari muzaki kepada Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (YAKETUNIS). Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk uang sebagai wujud kepedulian dan dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan serta kebutuhan yayasan.

Penyaluran zakat terikat ini merupakan bentuk amanah BAZNAS DIY dalam mengelola dan menyalurkan dana zakat sesuai dengan peruntukannya. Bantuan yang diterima YAKETUNIS diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yayasan serta mendukung pelayanan dan pemberdayaan bagi penyandang tunanetra yang berada dalam binaan YAKETUNIS.

Melalui penyaluran ini, BAZNAS DIY berharap manfaat zakat dapat dirasakan secara nyata oleh penerima manfaat. Dukungan dari para muzaki menjadi bagian penting dalam menghadirkan kepedulian dan kebermanfaatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

BAZNAS DIY juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada muzaki yang telah menunaikan zakat melalui BAZNAS DIY. Kepercayaan tersebut menjadi amanah untuk terus mengelola dan menyalurkan zakat secara amanah, profesional, transparan, dan tepat sasaran.

Semoga bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat bagi YAKETUNIS dan menjadi amal jariyah bagi para muzaki yang telah berbagi melalui zakat.

Zakat Anda, Kepedulian untuk Sesama. Bersama BAZNAS DIY, Zakat Menguatkan Indonesia

12/08/2026 | Kontributor: admin
Amalan Pembuka Rezeki di Muharram yang Bisa Dilakukan Setiap Hari

 

Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini menjadi awal tahun dalam kalender Hijriah sekaligus momentum bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Banyak kaum muslimin yang memanfaatkan bulan Muharram untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan harapan memperoleh keberkahan hidup, termasuk kemudahan dalam urusan rezeki.

Berbicara tentang Amalan pembuka rezeki di Muharram, penting untuk dipahami bahwa rezeki tidak hanya berbentuk harta benda. Rezeki juga dapat berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, pekerjaan yang baik, hingga ketenangan hati. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan yang dapat mendatangkan keberkahan dan membuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menghindari perbuatan dosa. Keutamaan Muharram juga terlihat dari anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak puasa sunnah pada bulan ini.

Momentum Muharram menjadi kesempatan terbaik bagi setiap muslim untuk memulai lembaran baru dengan meningkatkan kualitas ibadah. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah SWT, semakin besar pula peluang mendapatkan keberkahan hidup dan kelapangan rezeki.

Mengapa Amalan Bisa Menjadi Pembuka Rezeki?

Dalam Islam, rezeki berasal dari Allah SWT. Namun, Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk berikhtiar dan melakukan berbagai amalan yang dapat mendatangkan rahmat serta keberkahan.

Banyak ayat Al-Qur'an dan hadis yang menjelaskan bahwa ketakwaan, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya dapat menjadi sebab datangnya rezeki. Oleh karena itu, menjalankan Amalan pembuka rezeki di Muharram bukan berarti mengharapkan kekayaan secara instan, melainkan berusaha mendekatkan diri kepada Allah agar hidup dipenuhi keberkahan.

Amalan Pembuka Rezeki di Muharram yang Bisa Dilakukan Setiap Hari

1. Memperbanyak Istighfar

Istighfar merupakan amalan sederhana tetapi memiliki keutamaan yang luar biasa. Dengan memperbanyak memohon ampun kepada Allah SWT, seorang muslim membersihkan dirinya dari dosa yang dapat menjadi penghalang datangnya rezeki.

Luangkan waktu setiap hari untuk mengucapkan istighfar setelah salat, saat bekerja, maupun ketika sedang beristirahat. Kebiasaan ini akan membantu hati menjadi lebih tenang dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat adalah kewajiban utama seorang muslim. Selain menjadi tiang agama, salat juga menjadi sarana memohon pertolongan dan keberkahan kepada Allah SWT.

Menjaga salat tepat waktu merupakan salah satu Amalan pembuka rezeki di Muharram yang sangat dianjurkan. Dengan menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT, seorang muslim akan mendapatkan kemudahan dalam berbagai urusan kehidupan.

3. Membaca Al-Qur'an Setiap Hari

Membaca Al-Qur'an membawa ketenangan dan keberkahan dalam hidup. Tidak harus banyak, yang terpenting adalah konsisten setiap hari.

Bulan Muharram menjadi waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan membaca Al-Qur'an secara rutin. Selain mendapatkan pahala, hati juga akan lebih dekat kepada Allah sehingga kehidupan terasa lebih berkah.

4. Bersedekah Secara Rutin

Sedekah merupakan salah satu amalan yang paling sering dikaitkan dengan kelapangan rezeki. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah.

Sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Memberikan bantuan kepada tetangga, berbagi makanan, membantu fakir miskin, atau mendukung kegiatan sosial juga termasuk sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT.

5. Menjalankan Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Puasa sunnah pada bulan Muharram memiliki keutamaan yang besar. Salah satu yang paling terkenal adalah puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Selain mendapatkan pahala, puasa membantu melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketakwaan inilah yang menjadi salah satu sebab dibukanya pintu rezeki.

6. Menyambung Silaturahmi

Menjalin hubungan baik dengan keluarga, kerabat, dan sahabat termasuk amalan yang dapat memperluas rezeki. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

Muharram dapat menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang dan mempererat tali persaudaraan sesama muslim.

7. Memperbanyak Doa

Doa adalah senjata orang beriman. Allah SWT menyukai hamba-Nya yang selalu memohon kepada-Nya.

Ketika menjalankan Amalan pembuka rezeki di Muharram, jangan lupa untuk memperbanyak doa memohon keberkahan, kemudahan usaha, kesehatan, dan rezeki yang halal serta baik.

8. Membantu Orang Lain

Salah satu cara mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan membantu sesama manusia. Ketika seseorang memudahkan urusan orang lain, Allah SWT akan memudahkan urusannya.

Membantu tidak selalu berkaitan dengan materi. Memberikan tenaga, waktu, ilmu, atau sekadar nasihat yang baik juga termasuk bentuk pertolongan yang bernilai ibadah.

9. Menjaga Kejujuran dalam Bekerja

Rezeki yang halal dan berkah diperoleh melalui cara yang baik. Karena itu, kejujuran harus menjadi prinsip utama dalam bekerja maupun berbisnis.

Kejujuran mungkin tidak selalu menghasilkan keuntungan besar dalam waktu singkat, tetapi keberkahannya akan dirasakan dalam jangka panjang.

10. Bertawakal kepada Allah SWT

Setelah berusaha dan berdoa, seorang muslim harus bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Sikap tawakal membuat hati lebih tenang dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan ekonomi maupun masalah kehidupan lainnya.

Tips Agar Amalan Pembuka Rezeki di Muharram Menjadi Istikamah

Banyak orang bersemangat beribadah di awal Muharram, tetapi kesulitan mempertahankannya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan beberapa langkah agar amalan dapat dilakukan secara konsisten:

  • Mulai dari amalan yang ringan dan mudah dilakukan.
  • Tetapkan target harian yang realistis.
  • Buat jadwal ibadah yang teratur.
  • Cari lingkungan yang mendukung kegiatan keagamaan.
  • Perbanyak doa agar diberikan keistiqamahan.
  • Evaluasi diri secara berkala.

Konsistensi dalam beribadah jauh lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan besar yang hanya dilakukan sesekali.

Rezeki yang Berkah Lebih Penting daripada Rezeki yang Banyak

Dalam pandangan Islam, keberkahan rezeki lebih utama daripada jumlahnya. Banyak orang memiliki penghasilan besar tetapi tidak merasakan ketenangan hidup. Sebaliknya, ada yang penghasilannya sederhana namun hidupnya penuh kebahagiaan dan kecukupan.

Karena itu, tujuan utama menjalankan Amalan pembuka rezeki di Muharram bukan semata-mata mencari kekayaan dunia, melainkan memperoleh rezeki yang halal, berkah, dan membawa manfaat bagi diri sendiri serta orang lain.

Bulan Muharram merupakan waktu yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Berbagai Amalan pembuka rezeki di Muharram seperti istighfar, salat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berpuasa sunnah, menyambung silaturahmi, memperbanyak doa, membantu sesama, menjaga kejujuran, dan bertawakal dapat dilakukan setiap hari oleh umat Islam.

Dengan menjalankan amalan-amalan tersebut secara istiqamah, seorang muslim tidak hanya berharap mendapatkan kelapangan rezeki, tetapi juga keberkahan hidup yang lebih luas. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan, keberkahan, dan rezeki yang halal kepada setiap hamba-Nya yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, khususnya melalui Amalan pembuka rezeki di Muharram yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.

12/08/2026 | Kontributor: admin
Merawat Asa di Usia Senja Melalui Paket Logistik Lansia di Kulon Progo

Kulon Progo – Sebagai wujud kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat lanjut usia, BAZNAS DIY bersama BAZNAS Kabupaten Kulon Progo melaksanakan penyerahan paket logistik bagi para lansia di Kabupaten Kulon Progo. Bantuan yang disalurkan berupa paket kebutuhan pokok serta uang santunan sebagai bentuk perhatian kepada para lansia yang membutuhkan.

Program ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam mengoptimalkan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti para lansia. Melalui bantuan tersebut, diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan sehari-hari sekaligus memberikan semangat dan kebahagiaan bagi para penerima manfaat.

Paket logistik yang disalurkan berisi berbagai kebutuhan pokok yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan harian, sementara uang santunan diberikan sebagai tambahan dukungan agar para lansia dapat memenuhi kebutuhan lainnya sesuai kondisi masing-masing.

Kegiatan penyaluran berlangsung dengan penuh kehangatan. Para lansia menyambut bantuan yang diberikan dengan rasa syukur dan bahagia.

Melalui sinergi antara BAZNAS DIY dan BAZNAS Kabupaten Kulon Progo, diharapkan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari dana zakat yang telah ditunaikan oleh para muzaki. BAZNAS juga mengajak masyarakat untuk terus menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh para mustahik di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Semoga bantuan yang disalurkan menjadi berkah bagi para penerima manfaat dan menjadi amal jariyah bagi seluruh muzaki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya melalui BAZNAS.

05/08/2026 | Kontributor: admin
Kolaborasi Kebaikan Dimulai, BAZNAS DIY dan Yayasan Madania Bahas Pembentukan UPZ

 

Yogyakarta – BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerima kunjungan silaturahmi dari jajaran pengurus Yayasan Madania dalam rangka maembahas rencana pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ), sebagai upaya memperkuat penghimpunan dan pengelolaan zakat di lingkungan yayasan.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi. Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS DIY memberikan pemaparan mengenai peran strategis UPZ, mekanisme pembentukan, serta tata kelola pengumpulan zakat, infak, dan sedekah yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Melalui silaturahmi ini, diharapkan terjalin sinergi yang baik antara BAZNAS DIY dan Yayasan Madania dalam mengoptimalkan potensi zakat sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

BAZNAS DIY menyambut baik inisiatif Yayasan Madania dan berharap proses pembentukan UPZ dapat berjalan dengan lancar sebagai langkah bersama dalam memperkuat ekosistem zakat yang amanah, profesional, dan berdampak.

04/08/2026 | Kontributor: admin
Nisab Zakat Penghasilan Tahun Ini dan Cara Menentukannya

 

Memahami nisab zakat penghasilan merupakan langkah penting bagi setiap Muslim yang ingin menunaikan zakat secara tepat sesuai syariat. Nisab menjadi batas minimum penghasilan yang menentukan apakah seseorang telah wajib membayar zakat atau belum. Oleh karena itu, mengetahui cara menentukan nisab sangat diperlukan agar kewajiban zakat dapat ditunaikan dengan benar.

Apa Itu Nisab?

Nisab adalah batas minimum harta atau penghasilan yang harus dimiliki seseorang sebelum dikenakan kewajiban zakat. Dalam zakat penghasilan, nisab mengacu pada nilai 85 gram emas dalam satu tahun.

Apabila total penghasilan yang diperoleh selama satu tahun telah mencapai atau melebihi nilai tersebut, maka seseorang wajib menunaikan zakat penghasilan sebesar 2,5 persen. Ketentuan ini menjadi acuan bagi umat Islam dalam menentukan kewajiban zakat atas pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan, profesi, maupun usaha yang halal.

Cara Menentukan Nisab

Untuk menentukan nisab zakat penghasilan, langkah pertama adalah mengetahui harga emas yang berlaku saat ini. Selanjutnya, harga emas tersebut dikalikan dengan 85 gram untuk memperoleh nilai nisab tahunan.

Setelah nilai nisab tahunan diketahui, penghasilan yang diperoleh selama satu tahun dapat dibandingkan dengan nilai tersebut. Jika total penghasilan telah mencapai atau melampaui nisab, maka zakat penghasilan wajib ditunaikan.

Perhitungan zakat penghasilan dilakukan dengan mengeluarkan 2,5 persen dari penghasilan yang telah memenuhi syarat wajib zakat.

Contoh Penerapan Nisab

Sebagai contoh, jika nilai 85 gram emas pada tahun berjalan setara dengan jumlah tertentu, maka penghasilan tahunan seorang Muslim perlu dibandingkan dengan nilai tersebut.

Apabila total penghasilan selama satu tahun melebihi nilai nisab, maka ia telah memenuhi syarat wajib zakat penghasilan. Sebaliknya, jika penghasilannya masih berada di bawah nisab, maka zakat penghasilan belum diwajibkan.

Karena harga emas dapat berubah dari waktu ke waktu, nilai nisab juga akan menyesuaikan dengan perkembangan harga emas yang berlaku.

Kesalahan Umum dalam Menentukan Nisab

Beberapa kesalahan yang masih sering terjadi saat menentukan nisab zakat penghasilan antara lain:

- Menggunakan nilai nisab yang sudah tidak sesuai dengan harga emas terkini.

- Tidak menghitung total penghasilan secara menyeluruh dalam satu tahun.

- Menganggap semua penghasilan otomatis wajib dizakati tanpa membandingkannya dengan nisab.

- Tidak memperbarui informasi mengenai ketentuan nisab yang berlaku pada tahun berjalan.

Dengan memahami cara menentukan nisab secara tepat, kewajiban zakat dapat ditunaikan sesuai ketentuan syariat dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi para penerima zakat.

Cek Nisab Zakat Anda

Masih ragu apakah penghasilan Anda sudah mencapai nisab? Gunakan layanan kalkulator BAZNAS DIY https://diy.baznas.go.id/bayarzakat untuk mengetahui nisab dan menghitung kewajiban zakat penghasilan secara mudah dan akurat. Setelah mengetahui jumlah zakat yang harus ditunaikan, Anda dapat menyalurkannya melalui BAZNAS DIY agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.

31/07/2026 | Kontributor: admin

Berita Terbaru

Tips Memburu Pahala Berlipat Ganda Melalui Sedekah Subuh di Sisa Ramadhan
Tips Memburu Pahala Berlipat Ganda Melalui Sedekah Subuh di Sisa Ramadhan
Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Di bulan penuh berkah ini, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Tidak heran jika banyak umat Islam berlomba-lomba melakukan berbagai ibadah untuk meraih keberkahan tersebut. Salah satu amalan yang semakin populer dan dianjurkan adalah berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh. Banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan pada waktu subuh memiliki keutamaan tersendiri. Dalam hadis disebutkan bahwa setiap pagi ada malaikat yang mendoakan orang-orang yang bersedekah. Oleh karena itu, menjelang berakhirnya bulan suci, momen ini menjadi kesempatan emas untuk semakin giat berburu pahala ramadhan melalui amalan sedekah subuh. Artikel ini akan membahas berbagai tips dan keutamaan sedekah subuh agar umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di sisa bulan Ramadhan. Keutamaan Berburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Salah satu cara terbaik dalam berburu pahala ramadhan adalah dengan memperbanyak sedekah. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa sedekah memiliki nilai yang sangat besar dalam Islam, terlebih ketika dilakukan di bulan penuh rahmat ini. Allah SWT juga menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa sedekah akan dilipatgandakan pahalanya. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 menyebutkan bahwa orang yang bersedekah di jalan Allah akan mendapatkan balasan seperti satu benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai memiliki seratus biji. Ayat tersebut menunjukkan betapa besar pahala yang dijanjikan Allah bagi orang yang gemar bersedekah. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah menjadi salah satu strategi penting dalam berburu pahala ramadhan. Keistimewaan Sedekah Subuh dalam Islam Sedekah subuh adalah sedekah yang dilakukan pada waktu subuh atau setelah melaksanakan salat subuh. Waktu ini dianggap sangat istimewa karena pada saat itulah malaikat turun untuk mendoakan manusia. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap pagi hari dua malaikat turun. Salah satu dari mereka berdoa: Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang bersedekah. Sedangkan yang lainnya berdoa: Ya Allah, binasakanlah harta orang yang menahan sedekah."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah subuh memiliki keutamaan yang luar biasa. Ketika seseorang bersedekah pada waktu subuh, malaikat akan mendoakan keberkahan bagi dirinya. Hal ini tentu menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk semakin giat berburu pahala ramadhan dengan memanfaatkan waktu subuh untuk bersedekah. Mengapa Sedekah Subuh Sangat Dianjurkan di Sisa Ramadhan? Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Hal ini karena pada periode tersebut terdapat malam yang sangat istimewa yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, melakukan sedekah subuh di sisa bulan Ramadhan dapat menjadi cara efektif untuk terus berburu pahala ramadhan. Beberapa alasan mengapa sedekah subuh sangat dianjurkan antara lain: Waktu yang penuh keberkahanWaktu subuh merupakan salah satu waktu yang diberkahi oleh Allah SWT. Banyak doa yang mudah dikabulkan pada waktu ini. Didukung doa malaikatMalaikat secara langsung mendoakan orang yang bersedekah setiap pagi. Meningkatkan keikhlasanSedekah di waktu subuh biasanya dilakukan dalam keadaan sepi dan tanpa diketahui banyak orang sehingga lebih menjaga keikhlasan. Menjadi pembuka pintu rezekiBanyak ulama menjelaskan bahwa sedekah dapat membuka pintu rezeki dan keberkahan hidup. Dengan berbagai keutamaan tersebut, sedekah subuh menjadi amalan yang sangat baik untuk dilakukan ketika sedang berburu pahala ramadhan. Tips Memburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Subuh Agar sedekah subuh dapat dilakukan secara konsisten hingga akhir Ramadhan, ada beberapa tips yang dapat diterapkan oleh umat Islam. 1. Niatkan untuk Berburu Pahala Ramadhan Langkah pertama adalah meluruskan niat. Setiap amalan dalam Islam sangat bergantung pada niatnya. Niatkan sedekah subuh semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT dan sebagai bentuk berburu pahala ramadhan. Dengan niat yang tulus, sedekah yang diberikan meskipun kecil akan bernilai besar di sisi Allah. 2. Sisihkan Rezeki Khusus untuk Sedekah Agar sedekah subuh bisa dilakukan secara rutin, sebaiknya sisihkan sebagian rezeki sejak awal Ramadhan. Misalnya dengan membuat anggaran khusus untuk sedekah harian. Cara ini akan membantu seseorang tetap konsisten dalam berburu pahala ramadhan tanpa merasa terbebani secara finansial. 3. Sedekah Tidak Harus Besar Banyak orang mengira bahwa sedekah harus dalam jumlah besar. Padahal dalam Islam, sedekah sekecil apa pun sangat bernilai jika dilakukan dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang dapat bersedekah bahkan dengan setengah butir kurma. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memulai berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh meskipun dengan nominal kecil. 4. Gunakan Platform Sedekah yang Terpercaya Di era digital saat ini, sedekah bisa dilakukan dengan sangat mudah melalui berbagai platform donasi atau lembaga zakat terpercaya. Dengan memanfaatkan teknologi, umat Islam tetap dapat berburu pahala ramadhan meskipun memiliki aktivitas yang padat. 5. Ajak Keluarga untuk Ikut Sedekah Subuh Mengajak keluarga untuk bersama-sama melakukan sedekah subuh dapat menjadi kebiasaan baik yang penuh berkah. Misalnya dengan menyediakan kotak sedekah di rumah yang diisi setelah salat subuh. Cara ini tidak hanya membantu berburu pahala ramadhan, tetapi juga mendidik anak-anak agar terbiasa berbagi sejak dini. 6. Sedekah dalam Bentuk Makanan Sahur atau Berbuka Selain uang, sedekah juga bisa diberikan dalam bentuk makanan. Memberikan makanan untuk sahur atau berbuka kepada orang yang membutuhkan merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Ini menjadi salah satu cara praktis dalam berburu pahala ramadhan di sisa hari bulan suci. Hikmah Berburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Ada banyak hikmah yang bisa dirasakan ketika seseorang rajin bersedekah, terutama di bulan Ramadhan. Pertama, sedekah dapat membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Kedua, sedekah mampu menumbuhkan rasa empati kepada sesama manusia. Ketiga, sedekah dapat menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup. Selain itu, sedekah juga memiliki dampak sosial yang sangat besar. Melalui sedekah, kita dapat membantu saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dengan demikian, semangat berburu pahala ramadhan tidak hanya memberikan manfaat spiritual bagi diri sendiri, tetapi juga membawa kebaikan bagi masyarakat luas. Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan. Salah satu cara terbaik untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini adalah dengan berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh. Sedekah subuh memiliki banyak keutamaan, mulai dari doa malaikat, keberkahan rezeki, hingga pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan sisa Ramadhan dengan memperbanyak sedekah, baik dalam bentuk uang, makanan, maupun bantuan lainnya. Semoga dengan semangat berburu pahala ramadhan, kita semua dapat meraih keberkahan, ampunan, dan ridha Allah SWT di bulan suci ini. Mengawali hari dengan tangan di atas adalah cara terbaik untuk mengundang datangnya rida Allah sepanjang hari. Jangan biarkan momentum fajar berlalu tanpa jejak kebaikan yang menetap di buku amal Anda. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA10/03/2026 | admin
BAZNAS DIY Salurkan Hidangan Berkah Ramadhan untuk Anak-anak Panti Asuhan
BAZNAS DIY Salurkan Hidangan Berkah Ramadhan untuk Anak-anak Panti Asuhan
Yogyakarta – Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan serta memperkuat kepedulian sosial kepada sesama, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyalurkan program Hidangan Berkah Ramadhan kepada anak-anak di sejumlah panti asuhan yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Hidangan Berkah Ramadhan merupakan salah satu kegiatan sosial BAZNAS DIY yang bertujuan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak panti asuhan melalui pemberian hidangan berbuka puasa. Melalui program ini, BAZNAS DIY menyalurkan paket hidangan berbuka kepada para penerima manfaat agar mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan penuh kebahagiaan. Pendistribusian hidangan dilakukan oleh tim BAZNAS DIY bersama relawan dengan mengunjungi langsung panti asuhan penerima manfaat. Selain sebagai bentuk penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat selama bulan Ramadhan. Program Hidangan Berkah Ramadhan ini dilaksanakan hampir setiap hari selama bulan suci Ramadhan. Hidangan yang didistribusikan merupakan amanah dari para donatur yang telah menitipkan infak, sedekah, maupun fidyah melalui BAZNAS DIY untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk anak-anak panti asuhan. Salah satu perwakilan BAZNAS DIY menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen BAZNAS dalam menyalurkan amanah para muzaki dan donatur kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. “Melalui program Hidangan Berkah Ramadhan ini, kami berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan kebahagiaan bagi anak-anak panti asuhan serta memperkuat semangat berbagi di tengah masyarakat. Bantuan ini juga merupakan amanah dari para donatur yang telah mempercayakan infak, sedekah, dan fidyahnya melalui BAZNAS DIY,” ujarnya. BAZNAS DIY berharap program Hidangan Berkah Ramadhan ini dapat memberikan manfaat serta menambah kebahagiaan bagi para penerima manfaat dalam menjalankan ibadah di bulan suci. Ke depan, BAZNAS DIY akan terus menghadirkan berbagai program sosial dan kemanusiaan agar manfaat zakat, infak, dan sedekah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta.
BERITA10/03/2026 | Admin
Berbagi Berkah Ramadhan, BAZNAS DIY dan PWI DIY Turun ke Jalan Bagikan Takjil
Berbagi Berkah Ramadhan, BAZNAS DIY dan PWI DIY Turun ke Jalan Bagikan Takjil
Yogyakarta – Dalam rangka mengisi keberkahan bulan suci Ramadhan 1447 H, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) DIY bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY menggelar aksi sosial berbagi takjil kepada para pengguna jalan. Kegiatan yang berlangsung pada Senin sore (9/3/2026) di depan Kantor PWI DIY, Jalan Gambiran 45, Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Aksi sosial tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Para pengendara yang melintas tampak antusias menerima paket takjil untuk berbuka puasa. Ketua PWI DIY, Hudono, mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada BAZNAS DIY atas terjalinnya sinergi dalam kegiatan sosial tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memiliki makna tersendiri karena untuk pertama kalinya para pengurus PWI DIY terlibat langsung dalam kegiatan berbagi di depan kantor organisasi mereka. “Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Momentum Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk berbagi dan mempererat kepedulian sosial. Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi kami berbagi langsung di depan kantor PWI DIY,” ujar Hudono. Ia menuturkan bahwa sebanyak 150 paket takjil yang disiapkan habis dibagikan dalam waktu singkat, bahkan kurang dari sepuluh menit. Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan. “Tak sampai sepuluh menit, semua paket sudah habis. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias. Kami berharap kerja sama antara PWI DIY dan BAZNAS DIY tidak berhenti di sini, tetapi dapat berlanjut pada kegiatan sosial lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya. Sementara itu, Wakil Ketua IV BAZNAS DIY Bidang SDM, Administrasi, dan Umum, H. Ahmad Lutfi SS., MA., menyampaikan bahwa besarnya antusiasme masyarakat menjadi catatan tersendiri bagi BAZNAS DIY untuk meningkatkan jumlah paket pada kegiatan serupa di masa mendatang. “Ternyata 150 paket masih kurang karena begitu banyak masyarakat yang membutuhkan. Ada beberapa yang belum kebagian. Hal ini menjadi evaluasi bagi kami agar ke depan jumlah paket yang disediakan bisa lebih banyak lagi,” jelas H. Ahmad Lutfi SS., MA.,. Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan berbagi takjil merupakan bagian dari program Ramadhan BAZNAS DIY yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun. Selain membagikan takjil di berbagai titik, BAZNAS DIY juga menyalurkan takjil ke sejumlah panti asuhan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. “Hingga saat ini, sekitar 2.000 paket takjil telah kami distribusikan ke berbagai panti asuhan di DIY. Program ini merupakan bentuk kepedulian kami agar adik-adik di panti juga dapat merasakan kebahagiaan berbuka puasa di bulan Ramadhan,” ujarnya. Selain program takjil, BAZNAS DIY juga menyalurkan bantuan “Ramadhan Bahagia” kepada hampir 2.000 pegawai honorer di wilayah DIY dengan nilai bantuan sekitar Rp200.000 per paket. “Ini adalah bagian dari amanah yang diberikan para muzaki kepada kami. Dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun kami salurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” kata H. Ahmad Lutfi SS., MA., Melalui kegiatan ini, BAZNAS DIY dan PWI DIY berharap kolaborasi antara lembaga zakat dan organisasi profesi wartawan dapat terus terjalin, sehingga semakin banyak kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas sekaligus menghadirkan keberkahan bagi para muzakki yang telah menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS DIY.
BERITA10/03/2026 | admin
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, kaum muslimin menjalankan ibadah puasa, meningkatkan amal ibadah, serta memperbanyak doa dan sedekah. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi hingga lupa untuk menilai kembali kualitas iman dan amalnya. Karena itu, hadirnya bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk merenung, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seorang muslim dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Makna Muhasabah dalam Islam Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata Arab hasaba – yuhasibu – muhasabah yang berarti menghitung atau mengevaluasi. Dalam konteks spiritual, muhasabah berarti proses introspeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan. Muhasabah merupakan ajaran penting dalam Islam. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”(HR. Tirmidzi) Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya selalu melakukan evaluasi diri agar dapat memperbaiki kesalahan sebelum datang hari perhitungan di akhirat. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi waktu yang sangat tepat untuk menilai kembali kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia. Mengapa Ramadhan Menjadi Waktu Terbaik untuk Muhasabah Diri? Ada beberapa alasan mengapa bulan suci ini sangat tepat dijadikan sebagai waktu refleksi spiritual. 1. Pintu Ampunan Allah Dibuka Lebar Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keadaan ini menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan besar untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan Salah satu keutamaan Ramadhan adalah dilipatgandakannya pahala amal kebaikan. Hal ini memotivasi umat Islam untuk meningkatkan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Dengan memanfaatkan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kualitas ibadahnya selama ini dan berusaha memperbaikinya. 3. Suasana Spiritual yang Lebih Kuat Ramadhan identik dengan berbagai aktivitas ibadah seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, hingga sedekah. Suasana spiritual ini membantu seseorang untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kondisi tersebut menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri yang sangat efektif untuk memperbaiki kualitas keimanan. Cara Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri Agar Ramadhan benar-benar menjadi waktu refleksi spiritual, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Mengevaluasi Ibadah yang Selama Ini Dilakukan Langkah pertama dalam menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri adalah mengevaluasi kualitas ibadah yang telah dilakukan selama ini. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan renungan antara lain: Apakah shalat lima waktu sudah dilakukan tepat waktu? Seberapa sering membaca Al-Qur’an? Apakah ibadah dilakukan dengan khusyuk atau hanya sekadar rutinitas? Dengan melakukan evaluasi tersebut, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. 2. Memperbanyak Taubat dan Istighfar Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak taubat dan istighfar. Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. An-Nur: 31) Dengan memperbanyak taubat, hati menjadi lebih bersih dan kehidupan spiritual pun semakin meningkat. 3. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam Ramadhan momentum muhasabah diri, penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti Menghindari konflik dan permusuhan Mempererat silaturahmi Membantu sesama yang membutuhkan Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. 4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebaikan Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, terutama ketika Ramadhan. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kepeduliannya terhadap sesama. Sedekah tidak selalu berupa uang. Amal kebaikan juga dapat dilakukan melalui: Memberi makanan berbuka puasa Membantu orang yang kesulitan Menyebarkan ilmu yang bermanfaat Memberikan senyuman dan kebaikan kepada orang lain 5. Memperbanyak Membaca dan Merenungi Al-Qur’an Ramadhan dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Dalam konteks Ramadhan momentum muhasabah diri, membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan ayat, tetapi juga memahami maknanya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat Muhasabah Diri di Bulan Ramadhan Menjadikan Ramadhan sebagai waktu introspeksi membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim. 1. Meningkatkan Kualitas Iman Muhasabah membantu seseorang untuk lebih sadar akan kesalahan yang pernah dilakukan. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. 2. Menumbuhkan Keikhlasan dalam Beribadah Ketika seseorang melakukan evaluasi diri, ia akan menyadari bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Hal ini membuat ibadah menjadi lebih ikhlas dan bermakna. 3. Membentuk Pribadi yang Lebih Baik Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada kehidupan sosial dan moral. Agar Semangat Muhasabah Tidak Berhenti Setelah Ramadhan Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Banyak orang yang rajin beribadah selama bulan suci, tetapi kembali lalai setelahnya. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya semangat sementara. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: Menjaga shalat tepat waktu Membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari Melanjutkan kebiasaan sedekah Menghindari perbuatan maksiat Dengan konsistensi tersebut, nilai-nilai Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Ramadhan momentum muhasabah diri merupakan waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk mengevaluasi amal perbuatan, memperbanyak taubat, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan melakukan muhasabah selama Ramadhan, seseorang dapat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Lebih dari itu, proses introspeksi ini membantu membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa. Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin. Jadikan Ramadhan momentum muhasabah diri untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat. Setelah kita menyelami kedalaman hati dan menyadari segala kekurangan diri, saatnya menyucikan jiwa serta harta yang kita miliki. Zakat bukan sekadar kewajiban melainkan instrumen pembersih harta agar keberkahan senantiasa mengalir dalam kehidupan kita. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, kaum muslimin menjalankan ibadah puasa, meningkatkan amal ibadah, serta memperbanyak doa dan sedekah. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi hingga lupa untuk menilai kembali kualitas iman dan amalnya. Karena itu, hadirnya bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk merenung, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seorang muslim dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Makna Muhasabah dalam Islam Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata Arab hasaba – yuhasibu – muhasabah yang berarti menghitung atau mengevaluasi. Dalam konteks spiritual, muhasabah berarti proses introspeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan. Muhasabah merupakan ajaran penting dalam Islam. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”(HR. Tirmidzi) Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya selalu melakukan evaluasi diri agar dapat memperbaiki kesalahan sebelum datang hari perhitungan di akhirat. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi waktu yang sangat tepat untuk menilai kembali kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia. Mengapa Ramadhan Menjadi Waktu Terbaik untuk Muhasabah Diri? Ada beberapa alasan mengapa bulan suci ini sangat tepat dijadikan sebagai waktu refleksi spiritual. 1. Pintu Ampunan Allah Dibuka Lebar Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keadaan ini menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan besar untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan Salah satu keutamaan Ramadhan adalah dilipatgandakannya pahala amal kebaikan. Hal ini memotivasi umat Islam untuk meningkatkan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Dengan memanfaatkan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kualitas ibadahnya selama ini dan berusaha memperbaikinya. 3. Suasana Spiritual yang Lebih Kuat Ramadhan identik dengan berbagai aktivitas ibadah seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, hingga sedekah. Suasana spiritual ini membantu seseorang untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kondisi tersebut menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri yang sangat efektif untuk memperbaiki kualitas keimanan. Cara Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri Agar Ramadhan benar-benar menjadi waktu refleksi spiritual, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Mengevaluasi Ibadah yang Selama Ini Dilakukan Langkah pertama dalam menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri adalah mengevaluasi kualitas ibadah yang telah dilakukan selama ini. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan renungan antara lain: Apakah shalat lima waktu sudah dilakukan tepat waktu? Seberapa sering membaca Al-Qur’an? Apakah ibadah dilakukan dengan khusyuk atau hanya sekadar rutinitas? Dengan melakukan evaluasi tersebut, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. 2. Memperbanyak Taubat dan Istighfar Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak taubat dan istighfar. Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. An-Nur: 31) Dengan memperbanyak taubat, hati menjadi lebih bersih dan kehidupan spiritual pun semakin meningkat. 3. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam Ramadhan momentum muhasabah diri, penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti Menghindari konflik dan permusuhan Mempererat silaturahmi Membantu sesama yang membutuhkan Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. 4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebaikan Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, terutama ketika Ramadhan. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kepeduliannya terhadap sesama. Sedekah tidak selalu berupa uang. Amal kebaikan juga dapat dilakukan melalui: Memberi makanan berbuka puasa Membantu orang yang kesulitan Menyebarkan ilmu yang bermanfaat Memberikan senyuman dan kebaikan kepada orang lain 5. Memperbanyak Membaca dan Merenungi Al-Qur’an Ramadhan dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Dalam konteks Ramadhan momentum muhasabah diri, membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan ayat, tetapi juga memahami maknanya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat Muhasabah Diri di Bulan Ramadhan Menjadikan Ramadhan sebagai waktu introspeksi membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim. 1. Meningkatkan Kualitas Iman Muhasabah membantu seseorang untuk lebih sadar akan kesalahan yang pernah dilakukan. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. 2. Menumbuhkan Keikhlasan dalam Beribadah Ketika seseorang melakukan evaluasi diri, ia akan menyadari bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Hal ini membuat ibadah menjadi lebih ikhlas dan bermakna. 3. Membentuk Pribadi yang Lebih Baik Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada kehidupan sosial dan moral. Agar Semangat Muhasabah Tidak Berhenti Setelah Ramadhan Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Banyak orang yang rajin beribadah selama bulan suci, tetapi kembali lalai setelahnya. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya semangat sementara. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: Menjaga shalat tepat waktu Membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari Melanjutkan kebiasaan sedekah Menghindari perbuatan maksiat Dengan konsistensi tersebut, nilai-nilai Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Ramadhan momentum muhasabah diri merupakan waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk mengevaluasi amal perbuatan, memperbanyak taubat, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan melakukan muhasabah selama Ramadhan, seseorang dapat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Lebih dari itu, proses introspeksi ini membantu membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa. Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin. Jadikan Ramadhan momentum muhasabah diri untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat. Setelah kita menyelami kedalaman hati dan menyadari segala kekurangan diri, saatnya menyucikan jiwa serta harta yang kita miliki. Zakat bukan sekadar kewajiban melainkan instrumen pembersih harta agar keberkahan senantiasa mengalir dalam kehidupan kita. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Zakat Kurangi Beban Pajak: Membaca Ulang PMK 114 Tahun 2025 Dalam Perspektif Kepatuhan dan Tata Kelola
Zakat Kurangi Beban Pajak: Membaca Ulang PMK 114 Tahun 2025 Dalam Perspektif Kepatuhan dan Tata Kelola
Di Indonesia, zakat dan pajak sering diposisikan dalam dua ruang yang berbeda: satu berbasis keyakinan, satu berbasis kewarganegaraan. Padahal secara regulatif, keduanya sudah lama dipertemukan dalam satu kerangka hukum. Terbitnya PMK Nomor 114 Tahun 2025 bukan sekadar pembaruan administratif, tetapi penegasan kembali bahwa zakat yang dibayarkan melalui lembaga resmi dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh). Fondasi Hukumnya Tidak Berdiri Sendiri Pengakuan zakat dalam sistem perpajakan Indonesia bertumpu pada beberapa regulasi penting, antara lain: Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) yang mengatur pengurang penghasilan bruto. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, yang menegaskan peran negara dalam tata kelola zakat. Peraturan teknis Kementerian Keuangan, termasuk PMK 114/2025, yang mengatur prosedur administratif dan pembuktiannya. Dari konstruksi hukum ini terlihat bahwa negara tidak memposisikan zakat sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kewajiban keagamaan yang diakui dalam sistem fiskal — dengan syarat tertentu. Apa yang Ditegaskan dalam PMK 114/2025? PMK 114/2025 memperjelas beberapa hal krusial: Zakat harus dibayarkan melalui lembaga resmi yang dibentuk atau disahkan pemerintah dan memiliki NPWP. Bukti pembayaran menjadi dokumen kunci dalam pelaporan SPT Tahunan. Pengakuan sebagai pengurang penghasilan bruto berlaku sepanjang tidak menciptakan rugi fiskal pada tahun pajak berjalan. Kesesuaian nominal dan periode pembayaran harus dapat ditelusuri secara administratif. Artinya, pengakuan zakat dalam pajak sangat bergantung pada kepatuhan prosedural, bukan hanya pada substansi pembayaran. Untuk menggambarkan dampaknya secara konkret, misalnya sebuah perusahaan memiliki penghasilan bruto Rp10 miliar dengan laba sebelum pajak Rp4 miliar. Jika perusahaan tersebut menunaikan zakat Rp100 juta melalui lembaga resmi, maka nilai tersebut dapat menjadi pengurang penghasilan bruto sebelum penghitungan PPh dilakukan. Dampaknya bukan langsung mengurangi pajak terutang, tetapi menurunkan basis pengenaan pajak. Dengan dasar pengenaan yang lebih rendah, kewajiban PPh pun ikut menyesuaikan secara proporsional. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa pengaruh zakat bersifat fiskal dan terukur, selama memenuhi ketentuan administratif. Mengapa Lembaga Resmi Menjadi Penting? Dalam konteks ini, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki posisi strategis. Sebagai lembaga yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan UU 23/2011, BAZNAS: Memiliki legalitas formal dan NPWP. Menerbitkan bukti setor zakat yang sah untuk kebutuhan perpajakan. Menjalankan tata kelola sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Diaudit serta diawasi sesuai mekanisme negara. Bagi wajib pajak individu maupun perusahaan, aspek ini menjadi pembeda antara zakat yang hanya bernilai spiritual dan zakat yang sekaligus memenuhi syarat fiskal. Dalam praktik kepatuhan, BAZNAS juga berfungsi sebagai gatekeeper administratif. Artinya, lembaga ini tidak hanya menerima dan menyalurkan zakat, tetapi memastikan setiap pembayaran terdokumentasi secara sah, teridentifikasi dengan jelas, serta memenuhi standar pelaporan perpajakan. Posisi ini menjadi krusial karena hanya zakat yang disalurkan melalui lembaga resmi yang dapat diakui sebagai pengurang penghasilan bruto. Dengan demikian, BAZNAS menjadi simpul yang menghubungkan kepatuhan syariah dan kepatuhan fiskal dalam satu sistem administrasi. Relevansi bagi Perusahaan Untuk perusahaan, isu zakat tidak lagi semata persoalan ibadah, tetapi juga bagian dari governance dan compliance, Beberapa implikasi strategisnya: Zakat perusahaan dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang terstruktur. Dokumentasi yang rapi membantu meminimalkan risiko koreksi fiskal. Penyaluran melalui lembaga resmi memastikan kepatuhan terhadap regulasi perpajakan. Dalam praktiknya, banyak perusahaan mulai melihat zakat sebagai elemen integral dari tata kelola keberlanjutan (sustainability governance), bukan sekadar kewajiban tahunan. Ke depan, penguatan sistem ini berpotensi diperluas melalui integrasi data antara lembaga pengelola zakat dan otoritas perpajakan (DJP). Integrasi tersebut dapat mempermudah verifikasi bukti setor zakat, meminimalkan kesalahan administrasi, serta meningkatkan transparansi dan kepatuhan prosedural. Dengan dukungan digitalisasi, pengakuan zakat dalam sistem pajak tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga didukung oleh sistem yang lebih efisien dan akuntabel. Harmonisasi Kewajiban Syariah dan Kewajiban Fiskal Zakat dan pajak sering dipahami sebagai dua kewajiban yang berdiri sendiri. Zakat dipandang sebagai kewajiban keagamaan, sementara pajak sebagai kewajiban kenegaraan. Namun dalam kerangka hukum Indonesia, keduanya tidak ditempatkan dalam posisi yang saling meniadakan, melainkan diatur agar dapat berjalan secara proporsional dan terintegrasi. PMK 114/2025 menegaskan bahwa zakat yang ditunaikan melalui lembaga resmi dapat diakui sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh). Artinya, zakat bukanlah pengurang pajak terutang secara langsung, melainkan mengurangi dasar pengenaan pajak sebelum kewajiban PPh dihitung. Beberapa prinsip yang perlu dipahami dalam kerangka harmonisasi ini antara lain: Zakat bukan pengurang pajak terutang, tetapi pengurang penghasilan bruto Efeknya mempengaruhi dasar penghitungan PPh. Validitasnya sangat ditentukan oleh ketepatan prosedur. Dengan pemahaman ini, zakat dan pajak tidak berada dalam posisi konflik, melainkan dalam sistem yang saling melengkapi. Secara etika publik, zakat berfungsi memperkuat redistribusi sosial dan pengentasan kemiskinan. Secara fiskal, pajak menopang pembiayaan pembangunan nasional. Keduanya berorientasi pada kemaslahatan, PMK 114/2025 dapat dibaca sebagai bentuk konsistensi negara dalam menjaga harmoni antara nilai keagamaan dan sistem administrasi modern. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Ingin Mudik Lebaran, Persiapkan Hal Penting Ini
Ingin Mudik Lebaran, Persiapkan Hal Penting Ini
Mudik Lebaran adalah tradisi yang sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan, momen Idulfitri menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Tidak heran jika jutaan umat Islam melakukan perjalanan mudik setiap tahun demi merayakan hari kemenangan bersama orang-orang tercinta. Namun, agar perjalanan berjalan lancar dan penuh berkah, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dengan baik. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan perjalanan, tetapi juga kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Oleh karena itu, memahami berbagai persiapan mudik lebaran sangat penting agar perjalanan menjadi aman, nyaman, dan tetap bernilai ibadah. Dalam Islam, perjalanan juga dianjurkan untuk dilakukan dengan perencanaan yang matang. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan umatnya untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan perjalanan jauh. Dengan perencanaan yang baik, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi momen silaturahmi yang membawa keberkahan. Niatkan Mudik Lebaran sebagai Ibadah dan Silaturahmi Salah satu persiapan mudik lebaran yang paling penting adalah meluruskan niat. Dalam Islam, setiap amal perbuatan sangat bergantung pada niat yang mendasarinya. Jika mudik dilakukan dengan niat untuk menyambung silaturahmi dan membahagiakan orang tua, maka perjalanan tersebut dapat bernilai ibadah. Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan fisik menuju kampung halaman. Lebih dari itu, mudik merupakan kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga yang mungkin jarang bertemu sepanjang tahun. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa menjaga silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim) Dengan niat yang baik, perjalanan mudik akan terasa lebih ringan dan penuh makna. Bahkan setiap langkah perjalanan dapat bernilai pahala jika diniatkan untuk kebaikan. Memastikan Kondisi Fisik Tetap Sehat Persiapan mudik lebaran juga harus mencakup kesiapan fisik. Perjalanan jauh sering kali menguras tenaga, apalagi jika dilakukan dalam kondisi berpuasa atau setelah menjalani aktivitas padat selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sebelum melakukan perjalanan sangat penting. Pastikan tubuh dalam kondisi prima agar perjalanan tidak terganggu oleh masalah kesehatan. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: Mengonsumsi makanan bergizi Istirahat yang cukup sebelum berangkat Membawa obat-obatan pribadi Memperhatikan waktu istirahat selama perjalanan Jika perjalanan dilakukan dengan kendaraan pribadi, sebaiknya pengemudi tidak memaksakan diri untuk terus mengemudi tanpa istirahat. Berhenti sejenak di rest area untuk meregangkan tubuh dan beristirahat dapat membantu menjaga konsentrasi saat berkendara. Dengan kondisi fisik yang sehat, perjalanan mudik akan terasa lebih nyaman dan aman. Menyiapkan Kendaraan atau Tiket Perjalanan Sejak Awal Hal lain yang tidak kalah penting dalam persiapan mudik lebaran adalah memastikan sarana transportasi telah dipersiapkan dengan baik. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, pemeriksaan kendaraan menjadi hal yang wajib dilakukan sebelum berangkat. Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain: Kondisi mesin kendaraan Tekanan ban dan cadangan ban Sistem pengereman Oli mesin Lampu kendaraan Jika menggunakan transportasi umum seperti kereta api, pesawat, atau bus, sebaiknya tiket sudah dipesan jauh-jauh hari. Menjelang Lebaran biasanya permintaan tiket meningkat drastis sehingga sulit mendapatkan tempat jika tidak memesan lebih awal. Perencanaan transportasi yang matang akan menghindarkan kita dari berbagai kendala yang dapat mengganggu perjalanan. Mengatur Keuangan untuk Perjalanan Mudik Persiapan mudik lebaran juga perlu mempertimbangkan aspek keuangan. Mudik biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari transportasi, konsumsi selama perjalanan, hingga kebutuhan selama berada di kampung halaman. Oleh karena itu, penting untuk membuat perencanaan anggaran agar pengeluaran tetap terkendali. Dengan perencanaan yang baik, perjalanan mudik dapat dilakukan tanpa menimbulkan beban finansial setelah kembali dari kampung halaman. Beberapa tips mengatur keuangan saat mudik antara lain: Menyusun anggaran perjalanan Menyediakan dana darurat Menghindari pengeluaran yang tidak perlu Membawa uang secukupnya Dalam Islam, mengelola keuangan dengan bijak merupakan bagian dari sikap hidup yang dianjurkan. Allah SWT melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”(QS. Al-Isra: 26) Dengan pengelolaan keuangan yang baik, perjalanan mudik dapat berjalan dengan lebih tenang. Membawa Perlengkapan Ibadah Selama Perjalanan Sebagai seorang muslim, ibadah tetap menjadi prioritas utama meskipun sedang melakukan perjalanan jauh. Oleh karena itu, persiapan mudik lebaran sebaiknya juga mencakup perlengkapan ibadah. Beberapa perlengkapan yang dapat dibawa antara lain: Mukena atau sarung Sajadah kecil Al-Qur’an atau aplikasi Al-Qur’an di ponsel Tasbih Dengan membawa perlengkapan ibadah, kita tetap dapat menjalankan salat tepat waktu meskipun sedang dalam perjalanan. Jika sulit menemukan tempat salat, banyak rest area yang kini telah menyediakan mushola untuk para pemudik. Perjalanan mudik juga bisa menjadi kesempatan untuk memperbanyak zikir dan doa agar perjalanan diberi keselamatan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa ketika melakukan perjalanan: “Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun.”(HR. Muslim) Membaca doa perjalanan menjadi bagian dari ikhtiar agar perjalanan mudik selalu berada dalam perlindungan Allah SWT. Menjaga Keselamatan dan Kesabaran di Jalan Mudik Lebaran sering kali identik dengan kemacetan panjang di berbagai jalur transportasi. Oleh karena itu, salah satu persiapan mudik lebaran yang penting adalah menyiapkan mental untuk tetap sabar selama perjalanan. Kemacetan, antrean panjang, atau perubahan jadwal transportasi bisa saja terjadi. Dalam kondisi seperti ini, kesabaran menjadi kunci agar perjalanan tetap nyaman dan tidak menimbulkan emosi yang berlebihan. Islam sangat menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, termasuk saat melakukan perjalanan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 153) Selain itu, keselamatan harus menjadi prioritas utama selama perjalanan. Jangan memaksakan diri jika merasa lelah, mengantuk, atau tidak fokus saat berkendara. Lebih baik berhenti sejenak untuk beristirahat daripada mengambil risiko yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Menjaga Adab dan Etika Selama Mudik Persiapan mudik lebaran tidak hanya berkaitan dengan hal teknis, tetapi juga berkaitan dengan adab dan etika selama perjalanan. Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk menjaga sikap baik kepada siapa pun. Selama perjalanan mudik, kita akan bertemu dengan banyak orang, mulai dari sesama pemudik hingga petugas transportasi. Menjaga sopan santun, tidak saling mendahului secara berbahaya, dan menghormati sesama pengguna jalan merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam. Mudik juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan sikap saling membantu. Misalnya membantu sesama pemudik yang membutuhkan pertolongan atau berbagi makanan di perjalanan. Perilaku seperti ini akan membuat perjalanan terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan. Mudik merupakan tradisi yang sangat berharga bagi umat Islam di Indonesia. Selain menjadi momen berkumpul bersama keluarga, mudik juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi yang dianjurkan dalam Islam. Agar perjalanan berjalan lancar, berbagai persiapan mudik lebaran perlu dilakukan dengan matang. Mulai dari meluruskan niat, menjaga kesehatan, menyiapkan transportasi, mengatur keuangan, hingga membawa perlengkapan ibadah selama perjalanan. Dengan persiapan yang baik, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi perjalanan penuh makna yang membawa keberkahan. Semoga setiap langkah perjalanan mudik kita selalu berada dalam perlindungan Allah SWT dan membawa kebahagiaan bagi keluarga di kampung halaman. Akhirnya, semoga setiap persiapan mudik lebaran yang dilakukan dapat membantu kita menjalani perjalanan dengan aman, nyaman, dan penuh keberkahan hingga kembali berkumpul dengan orang-orang tercinta pada hari yang fitri. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA05/03/2026 | admin
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang menjadi momen terbaik bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, adalah i'tikaf. Ibadah ini menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan lebih fokus, meninggalkan kesibukan dunia, serta memperbanyak ibadah di masjid. Banyak umat Islam yang ingin menjalankan i'tikaf namun belum memahami secara benar tata cara i'tikaf yang sesuai dengan tuntunan syariat. Padahal, memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, khusyuk, dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Melalui pemahaman yang benar mengenai tata cara i'tikaf, seorang muslim tidak hanya sekadar berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Artikel ini akan membahas secara lengkap tata cara i'tikaf agar tetap khusyuk dan memberikan manfaat spiritual yang maksimal. Pengertian I'tikaf dalam Islam Sebelum memahami tata cara i'tikaf, penting bagi umat Islam untuk mengetahui terlebih dahulu makna dari ibadah ini. Secara bahasa, i'tikaf berasal dari kata "‘akafa" yang berarti berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Dalam istilah syariat Islam, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT dalam waktu tertentu. Ibadah ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan memfokuskan hati hanya kepada-Nya. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga amalan i'tikaf. Dalam sebuah hadits disebutkan: "Rasulullah SAW selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa i'tikaf merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan karena pada malam-malam tersebut terdapat malam Lailatul Qadar. Waktu Pelaksanaan I'tikaf Dalam memahami tata cara i'tikaf, penting juga mengetahui waktu pelaksanaannya. I'tikaf sebenarnya dapat dilakukan kapan saja selama berada di masjid dengan niat ibadah. Namun waktu yang paling utama adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tujuannya adalah untuk mencari keberkahan malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa i'tikaf biasanya dimulai sejak sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan hingga akhir Ramadhan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa seseorang dapat memulai i'tikaf setelah melaksanakan shalat Subuh pada hari ke-21. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang paling penting adalah melaksanakan i'tikaf dengan niat yang ikhlas serta mengikuti tata cara i'tikaf sesuai dengan tuntunan syariat. Niat I'tikaf Salah satu bagian penting dalam tata cara i'tikaf adalah niat. Seperti halnya ibadah lainnya dalam Islam, i'tikaf harus diawali dengan niat karena Allah SWT. Niat tidak harus diucapkan secara lisan, namun cukup di dalam hati. Meski demikian, banyak ulama juga mengajarkan lafaz niat i'tikaf sebagai berikut: "Nawaitul i'tikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala." Artinya:"Aku berniat i'tikaf di masjid ini sebagai ibadah sunnah karena Allah Ta'ala." Dengan niat yang tulus, ibadah i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Tata Cara I'tikaf yang Benar Memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah ini tidak hanya menjadi aktivitas berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar menjadi momen spiritual yang mendalam. Berikut beberapa tata cara i'tikaf yang dapat dilakukan oleh umat Islam. 1. Dilakukan di Masjid Tata cara i'tikaf yang pertama adalah dilakukan di masjid. Para ulama sepakat bahwa i'tikaf harus dilakukan di masjid, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istri) sedang kamu beri'tikaf di dalam masjid."(QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menunjukkan bahwa tempat pelaksanaan i'tikaf adalah di masjid. Sebagian ulama juga menganjurkan agar i'tikaf dilakukan di masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah. 2. Memperbanyak Ibadah Tata cara i'tikaf berikutnya adalah memperbanyak ibadah selama berada di masjid. Tujuan utama i'tikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang dapat dilakukan selama i'tikaf antara lain: Membaca Al-Qur'an Melakukan shalat sunnah Berdzikir dan berdoa Mendengarkan kajian keislaman Muhasabah atau introspeksi diri Dengan memperbanyak ibadah, i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. 3. Menjaga Lisan dan Perilaku Dalam tata cara i'tikaf, menjaga lisan dan perilaku merupakan hal yang sangat penting. Orang yang sedang beri'tikaf dianjurkan untuk menjauhi perbuatan yang sia-sia seperti bercanda berlebihan, bergosip, atau melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat. I'tikaf seharusnya menjadi momen untuk menenangkan hati dan memperbanyak mengingat Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga adab selama berada di masjid menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah ini. 4. Fokus pada Ibadah Salah satu tujuan utama dari tata cara i'tikaf adalah membantu seorang muslim memusatkan perhatian pada ibadah. Oleh karena itu, selama i'tikaf sebaiknya mengurangi aktivitas yang berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya, mengurangi penggunaan ponsel untuk hal-hal yang tidak penting, tidak terlalu banyak berbincang, serta menghindari kegiatan yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Dengan fokus pada ibadah, i'tikaf akan memberikan ketenangan batin dan meningkatkan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. 5. Keluar dari Masjid Hanya untuk Keperluan Penting Dalam tata cara i'tikaf juga dijelaskan bahwa seseorang tidak dianjurkan keluar dari masjid kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Misalnya untuk makan, ke kamar mandi, atau hal mendesak lainnya. Hal ini dilakukan agar tujuan utama i'tikaf yaitu berdiam diri untuk beribadah kepada Allah tetap terjaga. Namun jika seseorang harus keluar dari masjid karena kebutuhan mendesak, maka hal tersebut tidak membatalkan i'tikaf selama masih dalam batas yang wajar. Amalan yang Dianjurkan Saat I'tikaf Agar tata cara i'tikaf dapat memberikan manfaat maksimal, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan selama menjalankannya. Pertama adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sehingga membaca dan mentadabburi ayat-ayatnya menjadi ibadah yang sangat utama. Kedua adalah memperbanyak doa. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa terutama doa memohon ampunan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan doa yang dibaca saat mencari malam Lailatul Qadar: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni." Artinya:"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku." Ketiga adalah memperbanyak dzikir dan istighfar. Dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, hati akan menjadi lebih tenang dan ibadah terasa lebih khusyuk. Hikmah Melaksanakan I'tikaf Melaksanakan tata cara i'tikaf dengan benar memberikan banyak hikmah bagi kehidupan seorang muslim. Pertama, i'tikaf membantu seseorang untuk lebih fokus dalam beribadah. Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, i'tikaf menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Kedua, i'tikaf melatih kesabaran dan pengendalian diri. Dengan berdiam diri di masjid, seorang muslim belajar mengendalikan hawa nafsu dan lebih disiplin dalam beribadah. Ketiga, i'tikaf menjadi sarana untuk membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dalam suasana masjid yang tenang, seorang muslim dapat merenungkan kehidupannya dan memperbaiki niat serta amal perbuatannya. Keempat, i'tikaf memberikan peluang besar untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan. Memahami tata cara i'tikaf merupakan langkah penting agar ibadah ini dapat dilakukan dengan benar dan penuh kekhusyukan. I'tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, tetapi merupakan bentuk ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amalan, serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dengan menjalankan tata cara i'tikaf sesuai tuntunan Rasulullah SAW, seorang muslim dapat memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan. Di saat banyak orang sibuk dengan urusan dunia, i'tikaf mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah, memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Semoga dengan memahami tata cara i'tikaf dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan, Allah SWT memberikan keberkahan dalam setiap ibadah yang kita lakukan serta mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. I’tikaf adalah waktu terbaik untuk memutus hiruk-pikuk dunia dan fokus pada Sang Pencipta. Namun, jangan lupakan hak kaum miskin dalam harta kita. Kini, Anda bisa tetap menjaga kekhusyukan di dalam masjid sambil tetap menunaikan kedermawanan secara praktis. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA05/03/2026 | admin
Ketentuan Imsak dan Subuh: Mana yang Jadi Batas Akhir Sahur
Ketentuan Imsak dan Subuh: Mana yang Jadi Batas Akhir Sahur
Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan ini, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, dalam praktik sehari-hari, sering muncul pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai ketentuan imsak dan subuh. Banyak orang masih bertanya-tanya, apakah imsak merupakan batas akhir makan sahur, atau justru waktu subuh yang menjadi penentu dimulainya puasa. Memahami ketentuan imsak dan subuh menjadi penting agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan benar sesuai tuntunan syariat. Kesalahpahaman mengenai dua waktu ini dapat membuat seseorang berhenti makan terlalu cepat atau bahkan masih makan ketika puasa sebenarnya sudah dimulai. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui perbedaan antara imsak dan subuh serta mana yang sebenarnya menjadi batas akhir sahur. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai ketentuan imsak dan subuh, dasar hukumnya dalam Islam, serta bagaimana umat Muslim sebaiknya menyikapi waktu imsak ketika menjalankan ibadah puasa. Pengertian Imsak dalam Tradisi Puasa Dalam praktik ibadah puasa di Indonesia, istilah imsak sudah sangat akrab didengar, terutama saat bulan Ramadan. Biasanya waktu imsak tercantum dalam jadwal imsakiyah yang dibagikan oleh masjid, lembaga Islam, maupun instansi pemerintah. Secara bahasa, imsak berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan atau berhenti. Dalam konteks puasa, imsak dipahami sebagai waktu untuk mulai menahan diri dari makan dan minum sebelum masuknya waktu subuh. Namun, dalam kajian fikih, imsak sebenarnya bukanlah waktu yang menentukan dimulainya puasa. Ketentuan imsak dan subuh dalam Islam menegaskan bahwa puasa dimulai ketika fajar telah terbit, yaitu ketika waktu subuh masuk. Imsak lebih berfungsi sebagai pengingat atau kehati-hatian agar seseorang dapat menyelesaikan sahurnya sebelum waktu subuh tiba. Biasanya, waktu imsak dibuat sekitar 10 menit sebelum azan subuh untuk memberikan jeda bagi umat Islam agar bersiap memulai puasa. Dengan demikian, dalam ketentuan imsak dan subuh, imsak bukanlah batas akhir yang mengharamkan makan dan minum, melainkan hanya sebagai tanda peringatan agar umat Islam berhenti makan sebelum waktu subuh benar-benar datang. Waktu Subuh sebagai Batas Dimulainya Puasa Dalam ajaran Islam, batas dimulainya puasa sudah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187: “Dan makan serta minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai datang malam.” Ayat tersebut menjadi dasar utama dalam memahami ketentuan imsak dan subuh. Yang dimaksud dengan benang putih adalah cahaya fajar yang menandakan masuknya waktu subuh. Ketika fajar telah terbit, maka saat itulah puasa dimulai dan umat Islam wajib menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa. Para ulama sepakat bahwa waktu subuh adalah batas akhir sahur. Artinya, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum hingga sebelum masuknya waktu subuh. Oleh karena itu, jika seseorang masih makan beberapa menit sebelum azan subuh berkumandang, maka puasanya tetap sah. Namun jika ia masih makan setelah waktu subuh masuk, maka puasanya bisa menjadi batal karena telah melewati batas yang ditetapkan dalam syariat. Pemahaman ini menegaskan kembali bahwa dalam ketentuan imsak dan subuh, yang menjadi batas dimulainya puasa adalah waktu subuh, bukan waktu imsak. Mengapa Ada Waktu Imsak dalam Jadwal Puasa? Sebagian orang mungkin bertanya, jika waktu subuh adalah batas akhir sahur, mengapa dalam jadwal Ramadan selalu terdapat waktu imsak? Jawabannya berkaitan dengan prinsip kehati-hatian dalam beribadah. Waktu imsak dibuat sebagai pengingat agar umat Islam memiliki waktu untuk menyelesaikan sahur sebelum azan subuh tiba. Pada masa Rasulullah SAW, tidak ada istilah imsak sebagaimana yang dikenal sekarang. Dalam hadis disebutkan bahwa terdapat jeda waktu antara sahur Nabi dan azan subuh. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa jarak antara sahur Rasulullah SAW dan azan subuh kira-kira seukuran membaca lima puluh ayat Al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi tidak menunda sahur hingga detik terakhir, tetapi tetap memberikan jarak sebelum masuknya waktu subuh. Tradisi menetapkan waktu imsak dalam jadwal puasa di Indonesia bertujuan untuk membantu umat Islam mengikuti sunnah tersebut. Dengan adanya waktu imsak, umat Islam diingatkan untuk segera menyelesaikan makan sahur agar tidak melewati waktu subuh. Dalam konteks ini, ketentuan imsak dan subuh tetap menegaskan bahwa imsak hanyalah pengingat, bukan penentu dimulainya puasa. Keutamaan Mengakhirkan Sahur Dalam ajaran Islam, sahur memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur meskipun hanya dengan seteguk air. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa sahur mengandung keberkahan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sahur dan tidak meninggalkannya. Selain itu, Nabi juga menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, yakni mendekati waktu subuh. Hal ini menunjukkan bahwa makan sahur sebaiknya tidak dilakukan terlalu awal di malam hari. Dalam praktiknya, memahami ketentuan imsak dan subuh membantu umat Islam menjalankan sunnah ini dengan benar. Dengan mengetahui bahwa batas akhir sahur adalah waktu subuh, seseorang dapat memanfaatkan waktu sahur dengan lebih baik tanpa merasa khawatir berlebihan terhadap waktu imsak. Namun demikian, tetap dianjurkan untuk berhenti makan beberapa menit sebelum subuh sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW. Sikap Bijak Menghadapi Waktu Imsak Di masyarakat, sering terjadi perbedaan pemahaman mengenai waktu imsak. Sebagian orang langsung berhenti makan ketika waktu imsak tiba karena khawatir puasanya tidak sah jika masih makan setelahnya. Sikap tersebut sebenarnya tidak salah, karena berhenti makan lebih awal merupakan bentuk kehati-hatian dalam beribadah. Namun penting untuk dipahami bahwa secara syariat, ketentuan imsak dan subuh tidak menjadikan imsak sebagai batas haram makan. Selama waktu subuh belum masuk, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum. Hal ini juga sejalan dengan pendapat banyak ulama yang menjelaskan bahwa batas sahur adalah terbitnya fajar. Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan untuk tidak menunda sahur hingga terlalu mepet dengan azan subuh. Hal ini untuk menghindari kemungkinan keliru dalam menentukan waktu atau keterlambatan dalam menghentikan makan. Sikap yang bijak adalah menjadikan imsak sebagai pengingat untuk segera menyelesaikan sahur, sekaligus memastikan bahwa seseorang sudah siap memasuki waktu puasa dengan tenang. Pentingnya Memahami Ketentuan Imsak dan Subuh Pemahaman yang benar mengenai ketentuan imsak dan subuh sangat penting agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan tepat. Kesalahan dalam memahami waktu ini dapat menyebabkan kebingungan bahkan kesalahan dalam menjalankan puasa. Dalam Islam, batas dimulainya puasa sudah sangat jelas, yaitu ketika waktu subuh telah masuk dan fajar telah terbit. Oleh karena itu, waktu subuh menjadi batas akhir sahur yang sebenarnya. Sementara itu, waktu imsak hanyalah pengingat agar umat Islam memiliki waktu untuk menyelesaikan sahur sebelum subuh tiba. Kehadiran waktu imsak dalam jadwal puasa bertujuan membantu umat Islam agar lebih disiplin dan berhati-hati dalam menjalankan ibadah. Dengan memahami ketentuan imsak dan subuh secara benar, umat Islam dapat menjalankan puasa Ramadan dengan lebih tenang, tanpa keraguan mengenai sah atau tidaknya ibadah yang dilakukan. Pada akhirnya, yang terpenting dalam menjalankan puasa bukan hanya soal waktu sahur, tetapi juga menjaga niat, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam ajaran Islam, ketentuan imsak dan subuh memiliki peran yang berbeda dalam pelaksanaan ibadah puasa. Waktu subuh merupakan batas resmi dimulainya puasa dan menjadi batas akhir sahur sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Sementara itu, waktu imsak hanyalah pengingat yang dibuat untuk membantu umat Islam bersiap menghentikan makan dan minum sebelum subuh tiba. Imsak bukanlah waktu yang mengharamkan makan, melainkan sekadar tanda kehati-hatian. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu merasa khawatir jika masih makan sebelum waktu subuh meskipun sudah melewati waktu imsak. Selama subuh belum masuk, sahur masih diperbolehkan. Memahami ketentuan imsak dan subuh secara benar akan membantu umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan lebih yakin, tenang, dan sesuai dengan tuntunan syariat.
BERITA04/03/2026 | admin
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan terbesar dalam bulan suci ini adalah hadirnya malam lailatur qadar, sebuah malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim karena di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperoleh pahala berlipat ganda serta ampunan dari Allah SWT. Malam lailatur qadar bukan sekadar malam biasa dalam kalender Islam. Ia merupakan malam penuh kemuliaan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan harapan dapat bertemu dengan malam yang sangat mulia ini. Makna dan Pengertian Malam Lailatur Qadar Secara bahasa, kata “lailatur qadar” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata: lailah yang berarti malam dan qadar yang memiliki makna kemuliaan, ketetapan, atau takdir. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir. Dalam pandangan Islam, malam lailatur qadar adalah malam ketika Allah SWT menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Pada malam ini pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatur qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatur qadar itu? Malam lailatur qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam lailatur qadar memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Keutamaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Keistimewaan malam lailatur qadar membuatnya menjadi salah satu waktu yang paling berharga bagi umat Islam. Ada beberapa keutamaan yang menjadikan malam ini sangat istimewa di bulan Ramadhan. Lebih Baik dari Seribu Bulan Salah satu keutamaan terbesar malam lailatur qadar adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan tanpa adanya malam tersebut. Artinya, seorang muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada malam ini dapat memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Turunnya Malaikat ke Bumi Dalam Surah Al-Qadr ayat keempat disebutkan bahwa para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi pada malam lailatur qadar dengan membawa berbagai kebaikan dan keberkahan. Turunnya para malaikat ini menandakan betapa agung dan mulianya malam tersebut. Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, serta doa bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Malam Penuh Ampunan Keutamaan lain dari malam lailatur qadar adalah adanya peluang besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatur qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa malam lailatur qadar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan penuh keimanan. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Malam lailatur qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadi. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah malam lailatur qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadis lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam lailatur qadar adalah agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya pada satu malam saja. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sejak awal sepuluh malam terakhir, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Walaupun waktu pasti malam lailatur qadar tidak diketahui, beberapa hadis menyebutkan tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh umat Islam. Beberapa tanda tersebut antara lain: Malam terasa tenang dan penuh kedamaian Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin Suasana malam terasa lebih tenteram dibanding malam lainnya Matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan Namun demikian, tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Oleh karena itu, umat Islam tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Agar dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Shalat Malam Shalat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam lailatur qadar. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalat malam dapat dilakukan dalam bentuk shalat tahajud, shalat witir, maupun shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an Karena malam lailatur qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT. Memperbanyak Doa Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari malam lailatur qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam lailatur qadar karena mengandung permohonan ampunan kepada Allah SWT. I’tikaf di Masjid Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Dengan melakukan i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan menghindari gangguan dari aktivitas duniawi. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Tidak diketahui secara pasti kapan malam lailatur qadar terjadi. Hal ini merupakan hikmah besar dari Allah SWT agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu. Dengan dirahasiakannya waktu malam lailatur qadar, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini membuat kualitas ibadah menjadi lebih konsisten dan penuh kesungguhan. Selain itu, dirahasiakannya malam lailatur qadar juga mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya karena mencari satu malam tertentu, tetapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sepanjang waktu. Pentingnya Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada masa inilah peluang untuk bertemu dengan malam lailatur qadar sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Mengurangi aktivitas yang tidak penting, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT menjadi langkah penting dalam meraih keberkahan malam tersebut. Semakin bersungguh-sungguh seseorang dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semakin besar pula peluangnya untuk mendapatkan keutamaan malam lailatur qadar. Malam lailatur qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Keistimewaan malam ini terletak pada pahala ibadah yang jauh lebih baik daripada seribu bulan, turunnya para malaikat, serta terbukanya pintu ampunan bagi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, setiap muslim seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah, diharapkan kita dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu dengan malam lailatur qadar dan meraih keutamaannya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan terbesar dalam bulan suci ini adalah hadirnya malam lailatur qadar, sebuah malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim karena di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperoleh pahala berlipat ganda serta ampunan dari Allah SWT. Malam lailatur qadar bukan sekadar malam biasa dalam kalender Islam. Ia merupakan malam penuh kemuliaan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan harapan dapat bertemu dengan malam yang sangat mulia ini. Makna dan Pengertian Malam Lailatur Qadar Secara bahasa, kata “lailatur qadar” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata: lailah yang berarti malam dan qadar yang memiliki makna kemuliaan, ketetapan, atau takdir. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir. Dalam pandangan Islam, malam lailatur qadar adalah malam ketika Allah SWT menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Pada malam ini pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatur qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatur qadar itu? Malam lailatur qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam lailatur qadar memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Keutamaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Keistimewaan malam lailatur qadar membuatnya menjadi salah satu waktu yang paling berharga bagi umat Islam. Ada beberapa keutamaan yang menjadikan malam ini sangat istimewa di bulan Ramadhan. Lebih Baik dari Seribu Bulan Salah satu keutamaan terbesar malam lailatur qadar adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan tanpa adanya malam tersebut. Artinya, seorang muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada malam ini dapat memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Turunnya Malaikat ke Bumi Dalam Surah Al-Qadr ayat keempat disebutkan bahwa para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi pada malam lailatur qadar dengan membawa berbagai kebaikan dan keberkahan. Turunnya para malaikat ini menandakan betapa agung dan mulianya malam tersebut. Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, serta doa bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Malam Penuh Ampunan Keutamaan lain dari malam lailatur qadar adalah adanya peluang besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatur qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa malam lailatur qadar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan penuh keimanan. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Malam lailatur qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadi. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah malam lailatur qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadis lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam lailatur qadar adalah agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya pada satu malam saja. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sejak awal sepuluh malam terakhir, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Walaupun waktu pasti malam lailatur qadar tidak diketahui, beberapa hadis menyebutkan tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh umat Islam. Beberapa tanda tersebut antara lain: Malam terasa tenang dan penuh kedamaian Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin Suasana malam terasa lebih tenteram dibanding malam lainnya Matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan Namun demikian, tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Oleh karena itu, umat Islam tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Agar dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Shalat Malam Shalat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam lailatur qadar. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalat malam dapat dilakukan dalam bentuk shalat tahajud, shalat witir, maupun shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an Karena malam lailatur qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT. Memperbanyak Doa Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari malam lailatur qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam lailatur qadar karena mengandung permohonan ampunan kepada Allah SWT. I’tikaf di Masjid Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Dengan melakukan i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan menghindari gangguan dari aktivitas duniawi. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Tidak diketahui secara pasti kapan malam lailatur qadar terjadi. Hal ini merupakan hikmah besar dari Allah SWT agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu. Dengan dirahasiakannya waktu malam lailatur qadar, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini membuat kualitas ibadah menjadi lebih konsisten dan penuh kesungguhan. Selain itu, dirahasiakannya malam lailatur qadar juga mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya karena mencari satu malam tertentu, tetapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sepanjang waktu. Pentingnya Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada masa inilah peluang untuk bertemu dengan malam lailatur qadar sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Mengurangi aktivitas yang tidak penting, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT menjadi langkah penting dalam meraih keberkahan malam tersebut. Semakin bersungguh-sungguh seseorang dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semakin besar pula peluangnya untuk mendapatkan keutamaan malam lailatur qadar. Malam lailatur qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Keistimewaan malam ini terletak pada pahala ibadah yang jauh lebih baik daripada seribu bulan, turunnya para malaikat, serta terbukanya pintu ampunan bagi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, setiap muslim seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah, diharapkan kita dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu dengan malam lailatur qadar dan meraih keutamaannya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Amalan Ini untuk Memperoleh Keberkahan di Malam Lailatur Qadar
Amalan Ini untuk Memperoleh Keberkahan di Malam Lailatur Qadar
Malam Lailatur Qadar merupakan salah satu malam yang paling istimewa dalam ajaran Islam. Malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keutamaan Malam Lailatur Qadar membuat banyak umat Muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan tentang keagungan Malam Lailatur Qadar melalui Surah Al-Qadr. Pada malam tersebut, para malaikat turun ke bumi dengan membawa berbagai keberkahan dan ketentuan dari Allah SWT hingga terbitnya fajar. Karena itulah, Malam Lailatur Qadar menjadi momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Bagi setiap Muslim, memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar merupakan anugerah yang sangat besar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami amalan-amalan yang dianjurkan agar dapat meraih keutamaan malam yang penuh rahmat ini. Keistimewaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Malam Lailatur Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang penuh kemuliaan tersebut. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Malam Lailatur Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih besar dibandingkan ibadah selama lebih dari 83 tahun. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Selain itu, pada Malam Lailatur Qadar para malaikat turun ke bumi membawa rahmat dan keberkahan. Malam tersebut juga dipenuhi dengan kedamaian hingga terbitnya fajar. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah agar tidak melewatkan kesempatan besar tersebut. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Para ulama sepakat bahwa Malam Lailatur Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam dianjurkan untuk mencari Malam Lailatur Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Malam tersebut bisa terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti Malam Lailatur Qadar adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dengan demikian, semangat ibadah tidak hanya terfokus pada satu malam saja. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Untuk memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amalan ibadah. Amalan-amalan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meraih pahala yang berlipat ganda. 1. Memperbanyak Shalat Malam Salah satu amalan utama pada Malam Lailatur Qadar adalah melaksanakan shalat malam atau qiyamul lail. Shalat ini dapat berupa shalat tarawih, tahajud, maupun witir. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah. Shalat malam pada Malam Lailatur Qadar menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 2. Membaca Al-Qur’an Amalan lain yang sangat dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar adalah membaca Al-Qur’an. Hal ini sangat relevan karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam yang mulia tersebut. Membaca, memahami, dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an pada Malam Lailatur Qadar akan menambah keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Aktivitas ini juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. 3. Memperbanyak Doa Berdoa merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar. Pada malam yang penuh rahmat ini, doa-doa yang dipanjatkan memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari Malam Lailatur Qadar adalah doa yang diajarkan kepada Aisyah RA, yaitu memohon ampunan kepada Allah SWT yang Maha Pengampun. Dengan memperbanyak doa pada Malam Lailatur Qadar, seorang Muslim dapat memohon berbagai kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. 4. Memperbanyak Istighfar dan Dzikir Istighfar dan dzikir merupakan amalan sederhana tetapi memiliki pahala yang sangat besar. Pada Malam Lailatur Qadar, memperbanyak istighfar menjadi cara untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Selain itu, dzikir seperti tasbih, tahmid, dan takbir juga dapat dilakukan untuk mengingat kebesaran Allah SWT. Aktivitas ini akan membuat hati menjadi lebih tenang dan semakin dekat dengan Sang Pencipta. 5. Bersedekah Bersedekah juga termasuk amalan yang dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar. Sedekah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar karena bertepatan dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bentuk sedekah dapat berupa membantu fakir miskin, memberikan makanan berbuka puasa, maupun menyumbang kepada lembaga sosial yang terpercaya. Dengan bersedekah pada Malam Lailatur Qadar, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga menebarkan kebaikan kepada sesama. 6. I’tikaf di Masjid I’tikaf merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Rasulullah SAW dikenal rutin melakukan i’tikaf untuk mencari Malam Lailatur Qadar. Dengan i’tikaf, seorang Muslim dapat lebih fokus beribadah tanpa terganggu oleh aktivitas duniawi. I’tikaf juga menjadi momen refleksi diri untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Sebagian ulama menyebutkan bahwa terdapat beberapa tanda yang dapat dirasakan ketika Malam Lailatur Qadar terjadi. Namun tanda-tanda tersebut biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Beberapa tanda yang sering disebutkan dalam berbagai riwayat antara lain suasana malam yang terasa tenang, udara yang sejuk, serta matahari yang terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut. Meskipun demikian, umat Islam tidak dianjurkan untuk terlalu fokus mencari tanda-tanda tersebut. Yang lebih penting adalah memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Allah SWT tidak menjelaskan secara pasti kapan Malam Lailatur Qadar terjadi. Hal ini memiliki hikmah yang besar bagi umat Islam. Jika waktu Malam Lailatur Qadar diketahui secara pasti, kemungkinan sebagian orang hanya akan beribadah pada malam tersebut saja. Namun dengan dirahasiakannya waktu malam itu, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah secara konsisten sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Selain itu, dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar juga menjadi ujian kesungguhan iman seseorang dalam beribadah kepada Allah SWT. Malam Lailatur Qadar merupakan kesempatan luar biasa bagi umat Islam untuk meraih pahala dan keberkahan yang sangat besar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, bersedekah, dan melakukan i’tikaf, seorang Muslim memiliki peluang besar untuk memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar. Kesungguhan dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi kunci utama untuk meraih kemuliaan malam tersebut. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Malam Lailatur Qadar dan mendapatkan keberkahan yang Allah SWT janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti oleh umat Islam. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan ibadah tersebut. Banyak di antara kita sudah memahami bahwa makan dan minum dengan sengaja termasuk yang membatalkan puasa. Namun, pertanyaannya, apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum? Memahami apa saja yang membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalani tidak sia-sia. Sebagai muslim, kita tentu ingin memastikan bahwa puasa yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menegaskan batasan waktu puasa, sekaligus menjadi dasar bahwa ada hal-hal tertentu yang dapat membatalkan puasa. Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Saja yang Membatalkan Puasa Menurut Syariat Islam Dalam fikih Islam, para ulama telah merinci apa saja yang membatalkan puasa berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Berikut beberapa hal yang wajib kita pahami. 1. Makan dan Minum dengan Sengaja Ini adalah pembatal puasa yang paling jelas. Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja pada siang hari Ramadan, maka puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Namun, jika makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa lupa sedang ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Berhubungan badan pada siang hari Ramadan termasuk dosa besar dan membatalkan puasa. Bahkan, pelakunya tidak hanya wajib mengqadha puasa, tetapi juga membayar kafarat (denda) yang berat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Kafarat tersebut berupa: Memerdekakan budak (jika mampu), Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 orang miskin. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam syariat Islam. 3. Keluar Mani dengan Sengaja Apa saja yang membatalkan puasa juga mencakup keluarnya mani dengan sengaja, misalnya karena onani atau rangsangan tertentu yang disengaja. Jika mani keluar karena perbuatan yang disengaja, maka puasanya batal. Namun, jika keluar karena mimpi basah, maka puasanya tetap sah karena hal itu terjadi di luar kendali seseorang. 4. Muntah dengan Sengaja Muntah juga termasuk dalam daftar apa saja yang membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha atasnya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja maka wajib baginya qadha.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, misalnya karena sakit atau mual tiba-tiba, maka puasa tetap sah. 5. Haid dan Nifas Bagi perempuan, datangnya haid atau nifas termasuk yang membatalkan puasa. Bahkan jika darah haid keluar beberapa menit sebelum maghrib, maka puasa hari itu tetap batal dan wajib diganti di lain waktu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa perempuan yang haid tidak diwajibkan shalat dan puasa, serta wajib mengganti puasa yang ditinggalkan. 6. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal karena gila atau pingsan sepanjang hari, puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sah puasa adalah berakal. Namun, jika pingsan hanya sebagian waktu dan masih sempat sadar walau sebentar di siang hari, maka menurut sebagian ulama puasanya tetap sah. 7. Murtad (Keluar dari Islam) Keluar dari Islam atau murtad juga termasuk apa saja yang membatalkan puasa. Karena syarat utama sahnya puasa adalah beragama Islam. Jika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh amalnya gugur hingga ia kembali bertobat. Allah SWT berfirman: “Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 217) Hal-Hal yang Dikira Membatalkan Puasa, Padahal Tidak Agar tidak salah paham dalam memahami apa saja yang membatalkan puasa, penting juga mengetahui hal-hal yang sering disangka membatalkan, padahal tidak. Beberapa di antaranya: Berkumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu (selama tidak berlebihan) Menelan ludah sendiri Menggunakan obat tetes mata menurut mayoritas ulama Suntikan yang tidak mengandung nutrisi (menurut sebagian pendapat ulama kontemporer) Mimpi basah Namun, tetap dianjurkan untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal yang meragukan. Hikmah Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Mengetahui apa saja yang membatalkan puasa bukan sekadar untuk menghindari kesalahan teknis, tetapi juga untuk menjaga kesucian ibadah. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia melatih kejujuran, karena hanya diri kita dan Allah yang benar-benar tahu apakah kita menjaga puasa dengan baik atau tidak. Sebagai muslim, memahami hukum-hukum puasa juga bagian dari menuntut ilmu yang diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah) Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan sesuai tuntunan. Pentingnya Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Pada akhirnya, memahami apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga ibadah Ramadan. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus seharian, tetapi lalai terhadap hal-hal lain yang justru membatalkan puasa. Sebagai umat Islam, mari kita terus memperdalam ilmu fikih agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari jaga ibadah sekaligus kuatkan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti oleh umat Islam. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan ibadah tersebut. Banyak di antara kita sudah memahami bahwa makan dan minum dengan sengaja termasuk yang membatalkan puasa. Namun, pertanyaannya, apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum? Memahami apa saja yang membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalani tidak sia-sia. Sebagai muslim, kita tentu ingin memastikan bahwa puasa yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menegaskan batasan waktu puasa, sekaligus menjadi dasar bahwa ada hal-hal tertentu yang dapat membatalkan puasa. Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Saja yang Membatalkan Puasa Menurut Syariat Islam Dalam fikih Islam, para ulama telah merinci apa saja yang membatalkan puasa berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Berikut beberapa hal yang wajib kita pahami. 1. Makan dan Minum dengan Sengaja Ini adalah pembatal puasa yang paling jelas. Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja pada siang hari Ramadan, maka puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Namun, jika makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa lupa sedang ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Berhubungan badan pada siang hari Ramadan termasuk dosa besar dan membatalkan puasa. Bahkan, pelakunya tidak hanya wajib mengqadha puasa, tetapi juga membayar kafarat (denda) yang berat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Kafarat tersebut berupa: Memerdekakan budak (jika mampu), Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 orang miskin. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam syariat Islam. 3. Keluar Mani dengan Sengaja Apa saja yang membatalkan puasa juga mencakup keluarnya mani dengan sengaja, misalnya karena onani atau rangsangan tertentu yang disengaja. Jika mani keluar karena perbuatan yang disengaja, maka puasanya batal. Namun, jika keluar karena mimpi basah, maka puasanya tetap sah karena hal itu terjadi di luar kendali seseorang. 4. Muntah dengan Sengaja Muntah juga termasuk dalam daftar apa saja yang membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha atasnya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja maka wajib baginya qadha.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, misalnya karena sakit atau mual tiba-tiba, maka puasa tetap sah. 5. Haid dan Nifas Bagi perempuan, datangnya haid atau nifas termasuk yang membatalkan puasa. Bahkan jika darah haid keluar beberapa menit sebelum maghrib, maka puasa hari itu tetap batal dan wajib diganti di lain waktu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa perempuan yang haid tidak diwajibkan shalat dan puasa, serta wajib mengganti puasa yang ditinggalkan. 6. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal karena gila atau pingsan sepanjang hari, puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sah puasa adalah berakal. Namun, jika pingsan hanya sebagian waktu dan masih sempat sadar walau sebentar di siang hari, maka menurut sebagian ulama puasanya tetap sah. 7. Murtad (Keluar dari Islam) Keluar dari Islam atau murtad juga termasuk apa saja yang membatalkan puasa. Karena syarat utama sahnya puasa adalah beragama Islam. Jika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh amalnya gugur hingga ia kembali bertobat. Allah SWT berfirman: “Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 217) Hal-Hal yang Dikira Membatalkan Puasa, Padahal Tidak Agar tidak salah paham dalam memahami apa saja yang membatalkan puasa, penting juga mengetahui hal-hal yang sering disangka membatalkan, padahal tidak. Beberapa di antaranya: Berkumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu (selama tidak berlebihan) Menelan ludah sendiri Menggunakan obat tetes mata menurut mayoritas ulama Suntikan yang tidak mengandung nutrisi (menurut sebagian pendapat ulama kontemporer) Mimpi basah Namun, tetap dianjurkan untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal yang meragukan. Hikmah Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Mengetahui apa saja yang membatalkan puasa bukan sekadar untuk menghindari kesalahan teknis, tetapi juga untuk menjaga kesucian ibadah. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia melatih kejujuran, karena hanya diri kita dan Allah yang benar-benar tahu apakah kita menjaga puasa dengan baik atau tidak. Sebagai muslim, memahami hukum-hukum puasa juga bagian dari menuntut ilmu yang diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah) Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan sesuai tuntunan. Pentingnya Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Pada akhirnya, memahami apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga ibadah Ramadan. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus seharian, tetapi lalai terhadap hal-hal lain yang justru membatalkan puasa. Sebagai umat Islam, mari kita terus memperdalam ilmu fikih agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari jaga ibadah sekaligus kuatkan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti oleh umat Islam. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan ibadah tersebut. Banyak di antara kita sudah memahami bahwa makan dan minum dengan sengaja termasuk yang membatalkan puasa. Namun, pertanyaannya, apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum? Memahami apa saja yang membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalani tidak sia-sia. Sebagai muslim, kita tentu ingin memastikan bahwa puasa yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menegaskan batasan waktu puasa, sekaligus menjadi dasar bahwa ada hal-hal tertentu yang dapat membatalkan puasa. Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Saja yang Membatalkan Puasa Menurut Syariat Islam Dalam fikih Islam, para ulama telah merinci apa saja yang membatalkan puasa berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Berikut beberapa hal yang wajib kita pahami. 1. Makan dan Minum dengan Sengaja Ini adalah pembatal puasa yang paling jelas. Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja pada siang hari Ramadan, maka puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Namun, jika makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa lupa sedang ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Berhubungan badan pada siang hari Ramadan termasuk dosa besar dan membatalkan puasa. Bahkan, pelakunya tidak hanya wajib mengqadha puasa, tetapi juga membayar kafarat (denda) yang berat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Kafarat tersebut berupa: Memerdekakan budak (jika mampu), Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 orang miskin. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam syariat Islam. 3. Keluar Mani dengan Sengaja Apa saja yang membatalkan puasa juga mencakup keluarnya mani dengan sengaja, misalnya karena onani atau rangsangan tertentu yang disengaja. Jika mani keluar karena perbuatan yang disengaja, maka puasanya batal. Namun, jika keluar karena mimpi basah, maka puasanya tetap sah karena hal itu terjadi di luar kendali seseorang. 4. Muntah dengan Sengaja Muntah juga termasuk dalam daftar apa saja yang membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha atasnya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja maka wajib baginya qadha.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, misalnya karena sakit atau mual tiba-tiba, maka puasa tetap sah. 5. Haid dan Nifas Bagi perempuan, datangnya haid atau nifas termasuk yang membatalkan puasa. Bahkan jika darah haid keluar beberapa menit sebelum maghrib, maka puasa hari itu tetap batal dan wajib diganti di lain waktu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa perempuan yang haid tidak diwajibkan shalat dan puasa, serta wajib mengganti puasa yang ditinggalkan. 6. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal karena gila atau pingsan sepanjang hari, puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sah puasa adalah berakal. Namun, jika pingsan hanya sebagian waktu dan masih sempat sadar walau sebentar di siang hari, maka menurut sebagian ulama puasanya tetap sah. 7. Murtad (Keluar dari Islam) Keluar dari Islam atau murtad juga termasuk apa saja yang membatalkan puasa. Karena syarat utama sahnya puasa adalah beragama Islam. Jika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh amalnya gugur hingga ia kembali bertobat. Allah SWT berfirman: “Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 217) Hal-Hal yang Dikira Membatalkan Puasa, Padahal Tidak Agar tidak salah paham dalam memahami apa saja yang membatalkan puasa, penting juga mengetahui hal-hal yang sering disangka membatalkan, padahal tidak. Beberapa di antaranya: Berkumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu (selama tidak berlebihan) Menelan ludah sendiri Menggunakan obat tetes mata menurut mayoritas ulama Suntikan yang tidak mengandung nutrisi (menurut sebagian pendapat ulama kontemporer) Mimpi basah Namun, tetap dianjurkan untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal yang meragukan. Hikmah Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Mengetahui apa saja yang membatalkan puasa bukan sekadar untuk menghindari kesalahan teknis, tetapi juga untuk menjaga kesucian ibadah. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia melatih kejujuran, karena hanya diri kita dan Allah yang benar-benar tahu apakah kita menjaga puasa dengan baik atau tidak. Sebagai muslim, memahami hukum-hukum puasa juga bagian dari menuntut ilmu yang diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah) Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan sesuai tuntunan. Pentingnya Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Pada akhirnya, memahami apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga ibadah Ramadan. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus seharian, tetapi lalai terhadap hal-hal lain yang justru membatalkan puasa. Sebagai umat Islam, mari kita terus memperdalam ilmu fikih agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari jaga ibadah sekaligus kuatkan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Keutamaan Sedekah Subuh dan Dalil yang Mendasarinya
Keutamaan Sedekah Subuh dan Dalil yang Mendasarinya
Keutamaan sedekah subuh menjadi salah satu amalan yang semakin banyak diamalkan umat Islam, khususnya di bulan Ramadan maupun di hari-hari biasa. Banyak kaum muslimin yang berusaha menyisihkan sebagian rezekinya selepas shalat Subuh karena meyakini adanya keistimewaan waktu tersebut. Lalu, apa sebenarnya keutamaan sedekah subuh dan dalil yang mendasarinya dalam ajaran Islam? Sebagai seorang muslim, kita memahami bahwa sedekah adalah bagian dari ibadah yang sangat dianjurkan. Namun ketika sedekah dilakukan di waktu Subuh, ada nilai spiritual tambahan yang membuatnya terasa lebih istimewa. Artikel ini akan mengulas secara lengkap tentang keutamaan sedekah subuh, dalil-dalilnya, serta hikmah yang bisa kita ambil untuk kehidupan sehari-hari. Pengertian Sedekah dalam Islam Sebelum membahas lebih jauh tentang keutamaan sedekah subuh, penting untuk memahami makna sedekah itu sendiri. Dalam ajaran Islam, sedekah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain dengan niat mencari ridha Allah SWT. Sedekah tidak terbatas pada harta, tetapi juga bisa berupa tenaga, pikiran, bahkan senyuman. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan betapa besar balasan bagi orang yang gemar bersedekah. Apalagi jika sedekah tersebut dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan seperti waktu Subuh. Dalil Keutamaan Sedekah Subuh Keutamaan sedekah subuh memiliki dasar yang kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap pagi hari dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.’”(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim) Hadis ini menjadi dalil utama tentang keutamaan sedekah subuh. Waktu pagi, khususnya setelah Subuh, adalah saat malaikat mendoakan kebaikan bagi orang yang berinfak. Doa malaikat adalah doa yang mustajab karena mereka makhluk yang taat dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah. Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak ulama menganjurkan untuk membiasakan sedekah di waktu pagi. Waktu Subuh sebagai Waktu Penuh Keberkahan Subuh adalah waktu dimulainya aktivitas manusia. Dalam Islam, waktu pagi dikenal sebagai waktu yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW bahkan berdoa agar umatnya diberkahi di waktu pagi. “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Ketika sedekah dilakukan di waktu yang diberkahi, maka diharapkan keberkahan tersebut akan menyertai harta dan kehidupan kita sepanjang hari. Keutamaan sedekah subuh tidak hanya soal pahala, tetapi juga keberkahan rezeki dan ketenangan hati. Keutamaan Sedekah Subuh bagi Kehidupan Seorang Muslim Berikut beberapa keutamaan sedekah subuh yang bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari: 1. Mendapat Doa Malaikat Sebagaimana disebutkan dalam hadis, orang yang bersedekah di pagi hari akan didoakan oleh malaikat agar mendapatkan ganti dari Allah SWT. Ini adalah keutamaan sedekah subuh yang sangat besar, karena doa malaikat tidak akan tertolak. 2. Membuka Pintu Rezeki Banyak kaum muslimin yang merasakan kelapangan rezeki setelah rutin bersedekah di waktu Subuh. Meskipun tidak selalu dalam bentuk materi yang langsung terlihat, namun bisa berupa kesehatan, kemudahan urusan, atau dijauhkan dari musibah. Allah SWT berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”(QS. Saba’: 39) Ayat ini menguatkan keyakinan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Justru dengan memahami keutamaan sedekah subuh, kita semakin yakin bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. 3. Membersihkan Hati dari Sifat Kikir Sedekah adalah obat bagi hati yang keras dan kikir. Dengan membiasakan diri bersedekah setiap pagi, kita melatih diri untuk tidak terlalu mencintai dunia. Hati menjadi lebih lembut dan peduli terhadap sesama. 4. Mengawali Hari dengan Amal Saleh Keutamaan sedekah subuh juga terletak pada momentum spiritualnya. Mengawali hari dengan amal saleh membuat kita lebih semangat menjalani aktivitas. Secara psikologis, hati terasa ringan karena telah melakukan kebaikan sejak awal hari. 5. Menjadi Sebab Diangkatnya Musibah Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa sedekah dapat menolak bala. Meskipun tidak selalu terlihat secara kasat mata, namun banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah menjadi sebab terhindarnya seseorang dari musibah yang seharusnya menimpanya. Praktik Keutamaan Sedekah Subuh di Era Modern Di era digital saat ini, keutamaan sedekah subuh semakin mudah diamalkan. Banyak lembaga amil zakat dan sedekah yang menyediakan layanan transfer otomatis setiap pagi. Dengan kemudahan ini, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda kebaikan. Di Indonesia, salah satu lembaga yang aktif mengajak masyarakat untuk bersedekah adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Melalui berbagai program pemberdayaan, sedekah yang kita keluarkan dapat membantu pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi umat. Dengan memahami keutamaan sedekah subuh, kita tidak hanya beramal secara individual, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun kesejahteraan umat secara kolektif. Niat dan Keikhlasan dalam Sedekah Subuh Perlu diingat bahwa keutamaan sedekah subuh akan sempurna jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Sedekah bukan untuk dipuji, bukan untuk dipamerkan di media sosial, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tangan kanan yang memberi sebaiknya tidak diketahui oleh tangan kiri. Artinya, sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa riya. Namun apabila publikasi dilakukan untuk menginspirasi orang lain dan tetap menjaga keikhlasan, maka hal itu pun diperbolehkan selama niatnya lurus. Konsistensi dalam Mengamalkan Keutamaan Sedekah Subuh Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu memiliki harta berlimpah untuk memulai sedekah subuh. Mulailah dari nominal yang ringan, tetapi rutin. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap pagi akan membentuk karakter dermawan dalam diri kita. Lambat laun, keutamaan sedekah subuh tidak hanya menjadi teori, tetapi menjadi gaya hidup seorang muslim. Bayangkan jika setiap muslim membiasakan diri bersedekah setiap pagi, betapa banyak fakir miskin yang terbantu, betapa banyak anak yatim yang tersenyum, dan betapa kuatnya solidaritas umat Islam. Meraih Keutamaan Sedekah Subuh dalam Kehidupan Sehari-hari Keutamaan sedekah subuh bukan sekadar tren atau kebiasaan yang viral di media sosial. Ia memiliki landasan dalil yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Doa malaikat di waktu pagi, janji Allah tentang penggantian harta, serta keberkahan waktu Subuh menjadi alasan kuat mengapa amalan ini layak kita prioritaskan. Sebagai umat Islam, sudah selayaknya kita menjadikan keutamaan sedekah subuh sebagai bagian dari rutinitas harian. Tidak perlu menunggu kaya, tidak perlu menunggu sempurna. Yang dibutuhkan hanyalah niat yang tulus dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya. Semoga dengan memahami dan mengamalkan keutamaan sedekah subuh, Allah SWT melapangkan rezeki kita, menenangkan hati kita, serta menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya yang gemar berbagi. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Ketentuan Puasa bagi Musafir: Jarak, Keringanan, dan Qadha
Ketentuan Puasa bagi Musafir: Jarak, Keringanan, dan Qadha
Puasa Ramadan merupakan salah satu kewajiban utama bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah ini tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana untuk melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat empati terhadap sesama. Namun dalam Islam, Allah SWT memberikan berbagai kemudahan bagi umat-Nya dalam menjalankan ibadah, termasuk bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan atau menjadi musafir. Ketentuan puasa bagi musafir menjadi salah satu bentuk keringanan yang diberikan oleh syariat Islam. Seorang muslim yang sedang melakukan perjalanan jauh tidak diwajibkan berpuasa jika kondisi perjalanan membuatnya sulit menjalankan ibadah tersebut. Meski demikian, ada aturan yang perlu dipahami terkait jarak perjalanan, bentuk keringanan yang diberikan, serta kewajiban mengganti puasa di kemudian hari. Memahami ketentuan puasa bagi musafir sangat penting agar seorang muslim dapat menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan pengetahuan yang benar, seseorang tidak akan ragu dalam menentukan apakah ia tetap berpuasa atau mengambil keringanan yang diberikan oleh Allah SWT. Dasar Hukum Ketentuan Puasa bagi Musafir dalam Islam Dalam Islam, ketentuan puasa bagi musafir telah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT memberikan keringanan kepada orang yang sedang melakukan perjalanan agar tidak merasa terbebani dalam menjalankan ibadah puasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain."(QS. Al-Baqarah: 184) Ayat tersebut menjadi landasan utama dalam pembahasan ketentuan puasa bagi musafir. Islam memandang perjalanan sebagai kondisi yang dapat menimbulkan kesulitan, sehingga Allah memberikan kemudahan agar umat Islam tetap dapat menjalankan agama dengan baik tanpa memberatkan diri. Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah memberikan contoh dalam berbagai perjalanan beliau. Dalam beberapa kesempatan, Nabi Muhammad SAW tetap berpuasa ketika safar, sementara pada kesempatan lain beliau berbuka. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan tersebut bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Dalam sebuah hadis disebutkan: "Bukanlah suatu kebaikan berpuasa dalam perjalanan."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini merujuk pada kondisi ketika puasa menyebabkan kesulitan yang berat selama perjalanan. Pengertian Musafir dalam Islam Sebelum memahami lebih jauh tentang ketentuan puasa bagi musafir, penting untuk mengetahui siapa yang disebut musafir dalam pandangan syariat Islam. Musafir adalah seseorang yang melakukan perjalanan keluar dari daerah tempat tinggalnya dengan jarak tertentu yang menurut syariat dianggap sebagai perjalanan jauh. Status musafir memberikan beberapa keringanan ibadah, seperti boleh mengqashar salat dan mendapatkan rukhsah (keringanan) dalam puasa. Dalam konteks ketentuan puasa bagi musafir, perjalanan yang dimaksud biasanya bukan sekadar perjalanan singkat di dalam kota, melainkan perjalanan yang memenuhi batas jarak tertentu yang diakui dalam fikih Islam. Para ulama sepakat bahwa seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan niat safar diperbolehkan untuk tidak berpuasa selama perjalanan tersebut, selama ia belum menetap di tempat tujuan. Jarak Perjalanan yang Membolehkan Musafir Tidak Berpuasa Salah satu aspek penting dalam ketentuan puasa bagi musafir adalah jarak perjalanan yang membuat seseorang diperbolehkan mengambil keringanan tersebut. Mayoritas ulama menyebutkan bahwa jarak safar yang membolehkan seseorang mendapatkan keringanan ibadah sekitar dua marhalah, yang setara dengan kurang lebih 80–90 kilometer. Pendapat ini dipegang oleh sebagian besar ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali. Jika seseorang melakukan perjalanan sejauh jarak tersebut atau lebih, maka ia dianggap sebagai musafir dan boleh tidak berpuasa. Namun, terdapat beberapa syarat tambahan dalam ketentuan puasa bagi musafir, antara lain: Perjalanan dilakukan dengan tujuan yang baik atau tidak untuk maksiat Jarak perjalanan memenuhi ketentuan safar menurut ulama Perjalanan dilakukan sebelum waktu subuh atau saat sedang berpuasa kemudian memulai perjalanan Perjalanan menimbulkan kesulitan yang wajar Dengan memahami jarak safar ini, seorang muslim dapat menentukan apakah dirinya termasuk kategori musafir yang mendapatkan keringanan dalam menjalankan puasa Ramadan. Bentuk Keringanan Puasa bagi Musafir Dalam syariat Islam, ketentuan puasa bagi musafir memberikan pilihan kepada seseorang untuk tetap berpuasa atau mengambil keringanan dengan tidak berpuasa. Kedua pilihan ini sama-sama diperbolehkan selama memenuhi ketentuan yang ada. Tetap Berpuasa Saat Safar Sebagian orang tetap memilih berpuasa ketika melakukan perjalanan. Hal ini diperbolehkan jika kondisi perjalanan tidak terlalu berat dan seseorang merasa mampu menjalankan ibadah tersebut. Rasulullah SAW pernah melakukan perjalanan bersama para sahabat pada bulan Ramadan. Sebagian sahabat tetap berpuasa, sementara yang lain memilih berbuka. Nabi tidak mencela kedua pilihan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ketentuan puasa bagi musafir, Islam memberikan fleksibilitas sesuai kemampuan masing-masing individu. Tidak Berpuasa Saat Safar Jika perjalanan terasa berat atau mengganggu kondisi fisik, seorang musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Bahkan dalam kondisi tertentu, tidak berpuasa justru lebih dianjurkan agar seseorang tidak membahayakan dirinya sendiri. Islam adalah agama yang penuh rahmat dan tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya. Oleh karena itu, ketentuan puasa bagi musafir merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Kewajiban Mengganti Puasa (Qadha) Meskipun seorang musafir diperbolehkan tidak berpuasa, kewajiban puasa Ramadan tetap harus dipenuhi. Oleh karena itu, puasa yang ditinggalkan wajib diganti pada hari lain setelah bulan Ramadan. Hal ini disebut dengan qadha puasa. Dalam ketentuan puasa bagi musafir, qadha dilakukan sebanyak jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Jika seseorang tidak berpuasa selama tiga hari perjalanan, maka ia wajib menggantinya tiga hari setelah Ramadan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka wajib mengganti pada hari-hari yang lain."(QS. Al-Baqarah: 185) Qadha puasa dapat dilakukan kapan saja sebelum datangnya Ramadan berikutnya. Namun, para ulama menganjurkan agar qadha dilakukan sesegera mungkin agar tidak menumpuk kewajiban ibadah. Hikmah Keringanan Puasa bagi Musafir Ketentuan puasa bagi musafir tidak hanya sekadar aturan fikih, tetapi juga mengandung hikmah yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim. Pertama, keringanan ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang tidak memberatkan umatnya. Allah SWT memahami kondisi manusia yang memiliki keterbatasan fisik. Kedua, aturan ini mengajarkan keseimbangan antara menjalankan ibadah dan menjaga kesehatan tubuh. Islam tidak menganjurkan seseorang memaksakan diri jika hal tersebut berpotensi menimbulkan bahaya. Ketiga, ketentuan puasa bagi musafir juga mengajarkan nilai kemudahan dalam syariat. Banyak ulama menyebutkan bahwa prinsip dasar Islam adalah memudahkan, bukan mempersulit. Allah SWT berfirman: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu."(QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menjadi prinsip penting dalam memahami berbagai rukhsah atau keringanan dalam ibadah. Memahami Ketentuan Puasa bagi Musafir dengan Bijak Bagi seorang muslim, memahami ketentuan puasa bagi musafir sangat penting agar dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. Keringanan yang diberikan bukanlah bentuk kelonggaran yang boleh disalahgunakan, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Seorang muslim sebaiknya menilai kondisi perjalanan yang sedang dilakukan. Jika perjalanan ringan dan tidak menyulitkan, berpuasa tetap menjadi pilihan yang baik. Namun jika perjalanan berat dan menguras tenaga, mengambil keringanan untuk tidak berpuasa juga merupakan bagian dari menjalankan syariat. Pada akhirnya, ketentuan puasa bagi musafir menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh hikmah dan keseimbangan. Allah SWT tidak hanya memerintahkan ibadah, tetapi juga memberikan kemudahan agar manusia dapat menjalankannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Dengan memahami jarak perjalanan, bentuk keringanan yang diperbolehkan, serta kewajiban qadha setelah Ramadan, seorang muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan sesuai tuntunan agama. Semoga dengan memahami ketentuan puasa bagi musafir, kita semakin mampu menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Gubernur DIY dan Ketua DPRD DIY Tunaikan Zakat dalam Gerakan Keteladanan Pemimpin Daerah 2026
Gubernur DIY dan Ketua DPRD DIY Tunaikan Zakat dalam Gerakan Keteladanan Pemimpin Daerah 2026
Yogyakarta — Kegiatan Zakat Keteladanan Pemimpin Daerah Tahun 2026 yang diselenggarakan di Bangsal Kepatihan, Selasa (3/3/2026), berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Acara ini menjadi momentum penting dalam menguatkan peran zakat sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Ketua DPRD DIY-Nuryadi, S.Pd, secara langsung menunaikan zakat melalui BAZNAS DIY sebagai wujud keteladanan bagi para pemimpin daerah dan jajaran instansi di lingkungan Pemerintah Daerah DIY. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh semangat untuk mengajak masyarakat semakin patuh dalam menunaikan zakat, yang ditandai dengan keteladanan pimpinan daerah. Nilai manfaat zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) dinilai memiliki dampak besar dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat serta penanggulangan kemiskinan di DIY. Sepanjang tahun 2025, BAZNAS DIY berhasil menghimpun dan mengelola dana ZIS-DSKL sebesar ± Rp12,5 miliar, serta donasi bencana Aceh-Sumatera sebesar ± Rp1,4 miliar. Dana tersebut disalurkan melalui lima program strategis kepada delapan asnaf sesuai syariat Islam. Pengelolaan keuangan BAZNAS DIY juga telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama sembilan tahun berturut-turut, serta memperoleh predikat transparan dan sangat baik dalam audit syariah oleh Kementerian Agama RI. Mengusung tema “Zakat Menguatkan Indonesia”, pengelolaan ZIS-DSKL difokuskan pada lima aspek utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kemanusiaan, dan keagamaan. Dalam bulan suci Ramadan 1447 H, BAZNAS DIY menyiapkan berbagai program penyaluran, antara lain Syiar Al-Qur’an (100 paket), Zakat Fitrah (1.500 paket), Paket Logistik Keluarga dan Paket Ramadan Bahagia (2.750 paket), Hidangan Berkah Ramadan dan Fidyah (1.111 boks), bantuan living cost mahasiswa terdampak bencana tahap kedua, serta pendirian Posko Mudik BAZNAS. Prestasi BAZNAS DIY juga mendapat apresiasi nasional melalui ajang BAZNAS Award 2025 dengan meraih tujuh penghargaan, di antaranya sebagai Koordinator Kantor Digital Terbaik, Pengguna SimbaLite Terbaik, Koordinator Simba Terbaik, Perencanaan Terbaik, Penanganan Stunting Terbaik, Kantor Digital Terbaik, dan Pelaporan Terbaik. Capaian ini menjadi perolehan penghargaan terbanyak se-Indonesia dalam pengelolaan ZIS-DSKL. Dalam rangkaian acara, turut diserahkan piagam apresiasi BAZNAS DIY Award kepada mitra strategis, serta penyerahan dana zakat keteladanan pemimpin daerah oleh Gubernur DIY dan Wakil Gubernur DIY. Melalui kegiatan ini diharapkan para pimpinan instansi, OPD, dan perusahaan di DIY dapat mengikuti keteladanan Gubernur dalam menunaikan zakat melalui lembaga resmi yang dibentuk pemerintah. BAZNAS DIY juga menegaskan bahwa pengelolaan ZIS-DSKL dilaksanakan berdasarkan prinsip 3 Aman: Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI, dengan pengawasan yang ketat serta menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik kebangkitan zakat di DIY, sehingga semakin banyak masyarakat yang menunaikan ZIS-DSKL melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi negara, demi terwujudnya kebermanfaatan yang lebih luas dan berkelanjutan bagi umat.
BERITA03/03/2026 | admin
Kapan Waktu Terbaik Membayar Zakat Fitrah: Ini Batasannya
Kapan Waktu Terbaik Membayar Zakat Fitrah: Ini Batasannya
Waktu terbaik zakat fitrah sering menjadi pertanyaan setiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir. Sebagai seorang muslim, kita tentu ingin menunaikan ibadah dengan cara yang paling tepat, sesuai tuntunan syariat, dan memberikan manfaat maksimal bagi para penerima. Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan bentuk penyucian jiwa setelah menjalani ibadah puasa sekaligus sarana berbagi kebahagiaan menjelang Idulfitri. Memahami kapan waktu terbaik zakat fitrah sangat penting agar ibadah ini sah, tepat sasaran, dan tidak terlewat. Artikel ini akan membahas batasan waktunya menurut syariat, pendapat para ulama, serta hikmah di balik penetapan waktunya. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Fitrah Sebelum membahas waktu terbaik zakat fitrah, penting untuk memahami hakikat zakat fitrah itu sendiri. Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, yang memiliki kelebihan makanan pada malam Idulfitri. Dalil kewajibannya terdapat dalam hadis sahih riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu: “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah satu sha kurma atau satu sha gandum atas setiap muslim, baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum muslimin.”(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim) Zakat fitrah memiliki dua fungsi utama: Membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor. Memberikan kecukupan kepada fakir miskin pada hari raya. Dari sinilah kita memahami bahwa waktu terbaik zakat fitrah sangat berkaitan dengan tujuan sosialnya. Waktu Terbaik Zakat Fitrah Menurut Syariat Dalam pembahasan fikih, para ulama membagi waktu zakat fitrah ke dalam beberapa kategori. Memahami pembagian ini membantu kita menentukan waktu terbaik zakat fitrah agar tidak terlambat atau justru terlalu dini. 1. Waktu Wajib Waktu wajib zakat fitrah dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri (malam 1 Syawal). Artinya, siapa yang masih hidup pada saat matahari terbenam di akhir Ramadhan, maka ia wajib menunaikan zakat fitrah. 2. Waktu Terbaik Zakat Fitrah (Waktu Afdal) Waktu terbaik zakat fitrah adalah setelah terbit fajar pada hari Idulfitri hingga sebelum pelaksanaan shalat Id. Inilah waktu yang paling utama sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi memerintahkan agar zakat fitrah ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat Id. Hal ini menunjukkan bahwa waktu terbaik zakat fitrah adalah sebelum shalat Idulfitri dilaksanakan, agar kaum fakir sudah menerima bantuan sebelum merayakan hari raya. Dengan menunaikan zakat pada waktu ini, kita benar-benar mengikuti sunnah dan memastikan tujuan sosialnya tercapai. 3. Waktu Boleh Mayoritas ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah sejak awal Ramadhan. Mazhab Syafi’i bahkan membolehkan sejak awal bulan Ramadhan, sedangkan sebagian ulama lain membolehkan dua atau tiga hari sebelum Idulfitri. Di Indonesia, praktik membayar zakat fitrah sejak awal Ramadhan sudah umum dilakukan, terutama melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional. Hal ini memudahkan distribusi agar lebih terorganisir dan tepat sasaran. Meskipun diperbolehkan sejak awal Ramadhan, tetap perlu diingat bahwa waktu terbaik zakat fitrah secara afdhal tetap sebelum shalat Id. 4. Waktu Makruh Menunda pembayaran zakat fitrah hingga setelah shalat Id tanpa uzur yang dibenarkan hukumnya makruh. Hal ini karena tujuan memberikan kecukupan kepada fakir miskin pada hari raya menjadi tidak optimal. 5. Waktu Haram Jika zakat fitrah dibayarkan setelah hari raya tanpa alasan yang dibenarkan, maka hukumnya berdosa dan tidak lagi bernilai sebagai zakat fitrah, melainkan hanya menjadi sedekah biasa. Inilah sebabnya memahami waktu terbaik zakat fitrah menjadi sangat penting bagi setiap muslim. Hikmah Penetapan Waktu Terbaik Zakat Fitrah Penetapan waktu terbaik zakat fitrah bukan tanpa alasan. Ada hikmah besar di baliknya. 1. Menyempurnakan Ibadah Puasa Zakat fitrah berfungsi sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis, zakat fitrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari kesalahan dan kekhilafan. Dengan menunaikannya pada waktu terbaik zakat fitrah, kita menutup Ramadhan dengan ibadah yang sempurna. 2. Memberi Kegembiraan di Hari Raya Idulfitri adalah hari kemenangan. Islam tidak ingin ada kaum muslimin yang merasakan kelaparan atau kesedihan pada hari tersebut. Karena itu, waktu terbaik zakat fitrah ditetapkan sebelum shalat Id agar para mustahik dapat memanfaatkannya tepat waktu. Bayangkan betapa indahnya ketika seluruh umat Islam dapat merayakan Idulfitri dengan penuh kecukupan. 3. Menghindari Kelalaian Menunda-nunda seringkali membuat kita lalai. Dengan mengetahui batas waktu terbaik zakat fitrah, kita terdorong untuk segera menunaikannya dan tidak menunggu hingga detik terakhir. Praktik Waktu Terbaik Zakat Fitrah di Indonesia Di Indonesia, pembayaran zakat fitrah umumnya dilakukan dalam bentuk beras atau uang yang senilai dengan satu sha makanan pokok, sekitar 2,5 hingga 3 kilogram beras. Lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional dan berbagai Lembaga Amil Zakat membuka layanan pembayaran sejak awal Ramadhan. Hal ini bertujuan untuk memastikan distribusi berjalan efektif dan tepat sasaran. Namun sebagai muslim, kita tetap perlu memahami bahwa meskipun boleh sejak awal Ramadhan, waktu terbaik zakat fitrah secara sunnah adalah menjelang shalat Id. Jangan Abaikan Waktu Terbaik Zakat Fitrah Waktu terbaik zakat fitrah adalah sebelum pelaksanaan shalat Idulfitri. Inilah waktu yang paling utama dan sesuai sunnah Rasulullah. Meski pembayaran sejak awal Ramadhan diperbolehkan menurut sebagian ulama, tetap dianjurkan agar tidak melewati batas hingga setelah shalat Id. Sebagai umat Islam yang ingin meraih keberkahan Ramadhan secara utuh, memahami dan mengamalkan waktu terbaik zakat fitrah adalah bentuk ketaatan dan kepedulian sosial sekaligus. Jangan sampai ibadah yang hanya datang setahun sekali ini justru kita sia-siakan karena kelalaian. Dengan menunaikan zakat fitrah pada waktu terbaik zakat fitrah, kita tidak hanya menyucikan diri, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan tunda hingga mendekati akhir waktu. Tunaikan zakat fitrah sejak awal Ramadhan agar lebih tenang dan memberi kesempatan bagi penerima untuk merasakan manfaatnya sebelum hari raya tiba. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA02/03/2026 | admin
Amalan Sunnah Setelah Sahur yang Sering Terlewat
Amalan Sunnah Setelah Sahur yang Sering Terlewat
Sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum berpuasa. Dalam ajaran Islam, sahur adalah waktu yang penuh keberkahan dan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, sering kali umat Islam hanya fokus pada makan dan minum, lalu kembali tidur atau bersiap beraktivitas tanpa memperhatikan sunnah setelah sahur yang sebenarnya sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Padahal, sunnah setelah sahur memiliki nilai ibadah yang besar. Waktu menjelang Subuh adalah bagian dari sepertiga malam terakhir, saat doa-doa diijabah dan ampunan Allah SWT dibuka seluas-luasnya. Karena itu, memahami dan mengamalkan sunnah setelah sahur akan membuat ibadah puasa kita semakin sempurna dan bermakna. Artikel ini akan mengulas secara lengkap amalan sunnah setelah sahur yang sering terlewat, disertai dalil dan referensi agar kita semakin yakin untuk mengamalkannya. Keutamaan Sahur dalam Islam Sebelum membahas sunnah setelah sahur, penting bagi kita memahami bahwa sahur sendiri adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keberkahan sahur tidak hanya terletak pada kekuatan fisik untuk berpuasa, tetapi juga pada dimensi spiritualnya. Sahur membedakan puasa umat Islam dengan umat sebelumnya dan menjadi bentuk ketaatan kepada sunnah Nabi. Namun, keberkahan itu akan semakin sempurna ketika kita mengisi waktu setelah sahur dengan amalan yang dicontohkan dalam Islam. Memperbanyak Doa sebagai Sunnah Setelah Sahur Salah satu sunnah setelah sahur yang sering terlewat adalah memperbanyak doa. Waktu sahur berada di penghujung malam, tepatnya pada sepertiga malam terakhir. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri.” Ini adalah momen istimewa yang tidak seharusnya dilewatkan. Setelah selesai makan sahur, jangan terburu-buru beranjak atau kembali tidur. Luangkan waktu untuk berdoa, memohon ampunan, memohon rezeki, kesehatan, dan keteguhan iman. Doa setelah sahur dapat menjadi pembuka hari yang penuh keberkahan dan ketenangan hati. Memperbanyak Istighfar di Waktu Sahur Selain doa, sunnah setelah sahur berikutnya adalah memperbanyak istighfar. Allah SWT memuji orang-orang yang beriman dalam Al-Qur’an: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”(QS. Adz-Dzariyat: 18) Ayat ini menunjukkan bahwa waktu sahur adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk beristighfar. Mengucapkan istighfar dengan penuh kesadaran dapat membersihkan hati dan membuka pintu rahmat Allah SWT. Istighfar setelah sahur juga menjadi bentuk pengakuan bahwa kita adalah hamba yang penuh kekurangan dan membutuhkan ampunan-Nya setiap saat. Menjaga Shalat Subuh Berjamaah Sunnah setelah sahur yang tidak kalah penting adalah bersiap menyambut shalat Subuh. Setelah makan sahur, jangan kembali terlelap hingga melewatkan waktu shalat. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya shalat Subuh berjamaah. Dalam hadis disebutkan bahwa shalat Subuh berjamaah lebih utama dan memiliki pahala besar. Mengisi waktu antara sahur dan azan Subuh dengan dzikir, membaca Al-Qur’an, atau shalat sunnah sebelum Subuh akan membuat puasa kita dimulai dengan ibadah yang sempurna. Membaca Al-Qur’an Setelah Sahur Waktu setelah sahur adalah saat pikiran masih jernih dan suasana masih tenang. Ini menjadi waktu ideal untuk membaca Al-Qur’an. Membaca beberapa ayat sebelum Subuh atau setelah shalat Subuh termasuk sunnah setelah sahur yang sangat dianjurkan, terutama di bulan Ramadhan. Interaksi dengan Al-Qur’an di waktu pagi akan menenangkan hati dan memberi energi spiritual untuk menjalani aktivitas seharian. Berdzikir dan Mengawali Hari dengan Niat yang Lurus Sunnah setelah sahur juga mencakup dzikir pagi. Membaca dzikir pagi setelah Subuh dapat melindungi kita dari keburukan sepanjang hari. Rasulullah SAW dikenal tidak meninggalkan dzikir pagi dan petang. Niat yang lurus untuk menjalani hari karena Allah SWT akan menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah. Bahkan pekerjaan sekalipun bisa menjadi pahala jika diniatkan untuk kebaikan. Menghindari Tidur Berlebihan Setelah Sahur Banyak orang selesai sahur lalu langsung tidur kembali hingga matahari terbit. Padahal, kebiasaan ini dapat membuat kita melewatkan banyak keutamaan. Islam menganjurkan untuk memanfaatkan waktu pagi. Rasulullah SAW berdoa agar umatnya diberkahi pada waktu pagi hari. Oleh karena itu, menghindari tidur berlebihan termasuk bagian dari menjaga sunnah setelah sahur agar waktu penuh berkah tidak terbuang sia-sia. Menjadikan Waktu Subuh sebagai Momentum Berbagi Sunnah setelah sahur tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga kepedulian sosial. Waktu Subuh adalah momentum yang sangat baik untuk berbagi kepada sesama. Selain memperbanyak doa dan istighfar setelah sahur, jadikan waktu subuh sebagai momentum berbagi. Awali hari dengan sedekah subuh agar aktivitas kita sepanjang hari dilimpahi keberkahan dan pahala yang terus mengalir. Klik di sini untuk bersedekah. Sedekah di waktu Subuh memiliki keutamaan tersendiri. Dalam hadis disebutkan bahwa setiap pagi ada malaikat yang mendoakan orang yang bersedekah agar diberikan ganti yang lebih baik. Dengan menjadikan sedekah sebagai bagian dari sunnah setelah sahur, kita tidak hanya memperkaya ruhani, tetapi juga membantu meringankan beban saudara-saudara yang membutuhkan. Hikmah Mengamalkan Sunnah Setelah Sahur Menghidupkan sunnah setelah sahur memberikan banyak hikmah, di antaranya: Menyempurnakan ibadah puasa. Mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Memulai hari dengan hati yang tenang. Meningkatkan kualitas spiritual selama Ramadhan. Mendapat keberkahan waktu dan rezeki. Ketika kita mengisi waktu sahur dengan ibadah, puasa tidak hanya menjadi kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga perjalanan spiritual yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan Biarkan Sunnah Setelah Sahur Terlewat Sunnah setelah sahur adalah amalan ringan namun memiliki dampak besar dalam kehidupan seorang muslim. Mulai dari memperbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, menjaga shalat Subuh, hingga bersedekah di waktu pagi — semuanya adalah pintu keberkahan yang sering kali terlewat karena kelalaian kita. Mari kita jadikan waktu sahur bukan hanya sebagai momen mengisi energi fisik, tetapi juga mengisi hati dengan cahaya iman. Dengan mengamalkan sunnah setelah sahur secara konsisten, kita berharap puasa yang kita jalani semakin berkualitas dan diterima oleh Allah SWT. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk istiqamah dalam menghidupkan sunnah setelah sahur dan menjadikan setiap pagi sebagai awal kebaikan yang terus mengalir hingga akhir hayat. Selain memperbanyak doa dan istighfar setelah sahur, jadikan waktu subuh sebagai momentum berbagi. Awali hari dengan sedekah subuh agar aktivitas kita sepanjang hari dilimpahi keberkahan dan pahala yang terus mengalir. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA02/03/2026 | admin
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →