WhatsApp Icon
Bersama Cegah Stunting, Bersama Wujudkan Masa Depan Anak Indonesia yang Lebih Baik

Yogyakarta – Ketua BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dra. Hj. Puji Astuti, M.Si., menjadi narasumber dalam kegiatan Mitra OTA Fest Genting 2026 bertajuk "Satu Kepedulian, Seribu Harapan untuk Masa Depan Anak Indonesia" yang diselenggarakan di Hotel Phoenix Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting.

Dalam paparannya, Dra. Hj. Puji Astuti, M.Si. menyampaikan bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga filantropi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Menurutnya, zakat, infak, dan sedekah memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat, termasuk upaya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi, peningkatan kesejahteraan keluarga, serta edukasi bagi masyarakat.

"Kolaborasi adalah kunci. Melalui pengelolaan dana zakat yang amanah dan tepat sasaran, BAZNAS DIY berkomitmen mendukung berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan, termasuk dalam upaya menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas," ujar Puji Astuti.

Melalui keikutsertaan sebagai narasumber dalam Mitra OTA Fest Genting 2026, BAZNAS DIY berharap semakin banyak mitra yang terlibat aktif dalam membangun kepedulian sosial demi mewujudkan masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik. Semangat "Satu Kepedulian, Seribu Harapan untuk Masa Depan Anak Indonesia" diharapkan menjadi penguat kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.

26/06/2026 | Kontributor: admin
Dari Zakat untuk Harapan: Modal Usaha bagi Disabilitas, Dukungan Pendidikan untuk Anak Yatim

 

Yogyakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY menyalurkan bantuan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Kanwil Kementerian Agama DIY sebagai wujud kepedulian dan sinergi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bantuan yang disalurkan meliputi modal usaha bagi penyandang disabilitas sebagai upaya mendukung kemandirian ekonomi, serta peralatan sekolah dan uang saku bagi anak-anak yatim guna membantu memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.

Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung oleh Ketua BAZNAS DIY, Dra. Hj. Puji Astuti, M.Si. Turut mendampingi dalam penyerahan tersebut Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum, serta Kepala Bidang Penais Zawa Kanwil Kemenag DIY, H. Nurhuda, S.Ag., M.S.I.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS DIY menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari amanah para muzaki yang disalurkan melalui BAZNAS untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan seperti anak yatim dan penyandang disabilitas.

"Bantuan ini diharapkan tidak hanya meringankan beban para penerima manfaat, tetapi juga menjadi penyemangat bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan usahanya serta memotivasi anak-anak yatim agar terus semangat belajar dan meraih cita-cita," ujarnya.

Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum, mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Kanwil Kemenag DIY dan BAZNAS DIY dalam menghadirkan program-program kemanfaatan bagi masyarakat. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pengelolaan zakat yang baik dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan umat.

Melalui kegiatan ini, BAZNAS DIY bersama Kanwil Kementerian Agama DIY berharap bantuan yang diberikan dapat menjadi ikhtiar dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas serta mendukung keberlangsungan pendidikan anak-anak yatim, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berdaya, dan penuh harapan.

25/06/2026 | Kontributor: admin
Menebar Cinta di Bulan Muharram, BAZNAS DIY Berikan Santunan bagi Anak Yatim

 

Yogyakarta – Dalam rangka memperingati Bulan Muharram sekaligus menyemarakkan Lebaran Anak Yatim, BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim di DIY pada Kamis, bertempat di Kantor BAZNAS DIY.

Santunan yang diberikan berupa uang saku dan peralatan sekolah sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan pendidikan sekaligus upaya memberikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim di momentum Bulan Muharram yang dikenal sebagai bulan penuh kemuliaan.

Penyerahan santunan dilakukan oleh Wakil Ketua I BAZNAS DIY, Dr. H. Munjahid, M.Ag., dan Wakil Ketua IV BAZNAS DIY, H. Ahmad Lutfi, S.S., M.A., yang hadir mewakili BAZNAS DIY.

Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS DIY menyampaikan bahwa kegiatan santunan ini merupakan wujud nyata amanah dari para muzaki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada BAZNAS DIY. Melalui amanah tersebut, diharapkan anak-anak yatim dapat merasakan kebahagiaan di Bulan Muharram sekaligus memperoleh dukungan untuk terus semangat menempuh pendidikan.

Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya memuliakan dan menyayangi anak yatim sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam. BAZNAS DIY berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan kebutuhan para penerima manfaat serta menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus belajar, meraih cita-cita, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Program santunan Lebaran Anak Yatim ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS DIY dalam menghadirkan manfaat zakat bagi masyarakat yang membutuhkan, sekaligus memperkuat semangat berbagi dan kepedulian di Bulan Muharram yang penuh keberkahan.

25/06/2026 | Kontributor: admin
Khatmil Al-Qur'an BAZNAS DIY, Ikhtiar Meraih Syafaat Al-Qur'an

Dalam rangka menyemarakkan Bulan Muharram, BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan Khatmil Al-Qur'an di Kantor BAZNAS DIY pada Kamis. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus BAZNAS DIY, para anak yatim, serta para qari yang memimpin jalannya khataman.

Khatmil Al-Qur'an dipimpin oleh K. Afif Sholachudin, K. Amru Saifudin, K. Abdul Latif, Ust. Abdul Mujib, dan K. M. Zuban. Suasana khusyuk menyelimuti seluruh rangkaian acara yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an hingga doa khatmil.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur'an, serta memohon keberkahan dan syafaat Al-Qur'an bagi seluruh keluarga besar BAZNAS DIY, para muzaki, mustahik, dan masyarakat luas. Kehadiran anak-anak yatim dalam kegiatan ini juga menjadi wujud perhatian BAZNAS DIY dalam menghadirkan pembinaan spiritual sekaligus kebahagiaan di Bulan Muharram yang dikenal sebagai momentum memuliakan anak yatim.

Melalui kegiatan Khatmil Al-Qur'an ini, BAZNAS DIY berharap nilai-nilai Al-Qur'an senantiasa menjadi pedoman dalam menjalankan amanah pelayanan kepada umat, sekaligus menguatkan semangat berbagi dan kepedulian sosial.

 

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya kehidupan, pemberi syafaat di hari akhir, serta melimpahkan keberkahan bagi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menebarkan manfaat melalui zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua dan menjadikan Al-Qur'an sebagai penolong di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

25/06/2026 | Kontributor: admin
Hunian Layak, Anak Sehat: BAZNAS DIY Wujudkan Rumah Layak Huni sebagai Upaya Menekan Risiko Stunting

Sleman – BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut berpartisipasi dalam kegiatan "Temu Kader Tim Pendamping Keluarga dan Keluarga Risiko Stunting serta Literasi Keuangan dalam Mendukung Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting)" yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kegiatan berlangsung di Balai Budaya Tamanmartani, Kalasan, Sleman.

Pada kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS DIY, Dra. Hj. Puji Astuti, M.Si., hadir mewakili BAZNAS DIY sekaligus menyerahkan bantuan bedah rumah kepada salah satu keluarga penerima manfaat sebagai bentuk dukungan terhadap upaya percepatan penurunan angka stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Program bantuan Rumah Layak Huni ini merupakan salah satu bentuk pemanfaatan dana zakat yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hunian yang sehat dan layak diyakini menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak, sehingga dapat membantu mengurangi risiko stunting.

Ketua BAZNAS DIY menyampaikan bahwa penanganan stunting memerlukan kolaborasi berbagai pihak, tidak hanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat, aman, dan layak huni.

"Melalui bantuan bedah rumah ini, kami berharap keluarga penerima manfaat dapat memiliki tempat tinggal yang lebih sehat dan nyaman, sehingga mendukung terciptanya kualitas hidup yang lebih baik serta menjadi salah satu ikhtiar dalam mencegah risiko stunting," ujarnya.

BAZNAS DIY terus berkomitmen mendukung program-program pemerintah melalui pendayagunaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya secara tepat sasaran. Sinergi bersama BKKBN dalam Program GENTING diharapkan mampu memperkuat upaya mewujudkan generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta.

25/06/2026 | Kontributor: admin

Berita Terbaru

Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail
Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan yang penuh keberkahan ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan selama bulan Ramadhan adalah Qiyamul Lail. Amalan ini menjadi salah satu bentuk ibadah yang memiliki keutamaan luar biasa, terutama ketika dilakukan di malam-malam Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan. Secara sederhana, Qiyamul Lail berarti menghidupkan malam dengan berbagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan melakukan berbagai amalan kebaikan lainnya. Dalam konteks Ramadhan, Qiyamul Lail sering kali diwujudkan melalui pelaksanaan shalat tarawih, tahajud, witir, serta memperbanyak ibadah hingga menjelang waktu sahur. Bagi seorang muslim, menjalankan Qiyamul Lail bukan hanya sekadar rutinitas ibadah malam. Lebih dari itu, Qiyamul Lail merupakan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu, menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail menjadi amalan yang sangat dianjurkan dan penuh dengan keutamaan. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang pentingnya Qiyamul Lail, keutamaannya dalam Islam, serta bagaimana cara menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail secara optimal agar mendapatkan keberkahan yang maksimal. Pengertian dan Makna Qiyamul Lail dalam Islam Dalam ajaran Islam, Qiyamul Lail memiliki makna yang sangat dalam. Secara bahasa, Qiyamul Lail berarti berdiri pada malam hari untuk beribadah kepada Allah SWT. Amalan Qiyamul Lail tidak hanya terbatas pada shalat malam saja, tetapi juga mencakup berbagai ibadah lain seperti membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan merenungi kebesaran Allah SWT. Banyak ulama menjelaskan bahwa Qiyamul Lail adalah salah satu ibadah yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Hal ini karena Qiyamul Lail dilakukan ketika sebagian besar manusia sedang terlelap dalam tidur. Ketika seorang muslim bangun dari tidurnya untuk melaksanakan Qiyamul Lail, hal tersebut menunjukkan kesungguhan hati dalam beribadah dan keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam praktiknya, Qiyamul Lail dapat dilakukan dengan berbagai bentuk ibadah, mulai dari shalat tahajud, shalat witir, hingga memperbanyak doa dan membaca Al-Qur’an. Selama bulan Ramadhan, Qiyamul Lail juga sering diwujudkan melalui shalat tarawih yang dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah bersama keluarga. Selain itu, Qiyamul Lail juga memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena dilakukan pada waktu yang penuh ketenangan. Pada saat malam hari, suasana menjadi lebih hening sehingga seorang muslim dapat lebih khusyuk dalam menjalankan Qiyamul Lail dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Oleh karena itu, memahami makna dan hakikat Qiyamul Lail sangat penting bagi setiap muslim agar ibadah yang dilakukan tidak sekadar rutinitas, tetapi benar-benar menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Keutamaan Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan Salah satu alasan mengapa Qiyamul Lail sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah karena besarnya pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi orang yang melaksanakannya dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa Qiyamul Lail di bulan Ramadhan dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah SAW sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak Qiyamul Lail selama bulan Ramadhan. Bahkan beliau memberikan teladan dengan menghidupkan malam-malam Ramadhan melalui berbagai bentuk ibadah, termasuk shalat malam yang panjang dan penuh kekhusyukan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Qiyamul Lail dalam kehidupan seorang muslim. Selain mendapatkan pahala yang besar, Qiyamul Lail juga menjadi sarana untuk mendapatkan malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar. Malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, dan salah satu cara terbaik untuk meraihnya adalah dengan memperbanyak Qiyamul Lail di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Keutamaan lain dari Qiyamul Lail adalah sebagai bentuk latihan spiritual bagi seorang muslim. Dengan membiasakan diri bangun di malam hari untuk melakukan Qiyamul Lail, seseorang akan memiliki kedisiplinan dalam beribadah serta hati yang lebih lembut dan dekat dengan Allah SWT. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak ulama dan orang-orang saleh sangat menjaga amalan Qiyamul Lail, terutama di bulan Ramadhan. Mereka memahami bahwa kesempatan untuk mendapatkan pahala besar melalui Qiyamul Lail adalah karunia yang tidak boleh disia-siakan. Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail Menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail dapat dilakukan dengan berbagai cara yang sederhana namun penuh makna. Salah satu bentuk paling umum dari Qiyamul Lail adalah melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid. Shalat ini menjadi salah satu ciri khas ibadah Ramadhan yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Selain shalat tarawih, seorang muslim juga dapat melanjutkan Qiyamul Lail dengan melaksanakan shalat tahajud di sepertiga malam terakhir. Waktu tersebut merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, sehingga Qiyamul Lail pada saat itu menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memohon ampunan dan rahmat dari Allah SWT. Membaca Al-Qur’an juga merupakan bagian penting dari Qiyamul Lail. Banyak umat Islam memanfaatkan malam Ramadhan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an karena bulan ini merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dengan membaca dan merenungi makna ayat-ayat suci tersebut, Qiyamul Lail menjadi semakin bermakna dan mendalam. Selain itu, memperbanyak dzikir dan doa juga dapat menjadi bagian dari Qiyamul Lail. Dengan berdzikir kepada Allah SWT dan memanjatkan doa-doa terbaik, seorang muslim dapat menjadikan malam Ramadhan sebagai waktu yang penuh dengan kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta. Yang tidak kalah penting, Qiyamul Lail sebaiknya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan hati. Tidak perlu memaksakan diri melakukan ibadah yang terlalu berat, tetapi lakukanlah Qiyamul Lail secara konsisten agar ibadah tersebut dapat membawa keberkahan dan ketenangan dalam kehidupan. Hikmah dan Manfaat Qiyamul Lail bagi Kehidupan Seorang Muslim Melaksanakan Qiyamul Lail secara rutin, terutama di bulan Ramadhan, memiliki banyak hikmah dan manfaat bagi kehidupan seorang muslim. Salah satu manfaat terbesar dari Qiyamul Lail adalah meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT. Ketika seseorang meluangkan waktu di malam hari untuk beribadah, ia menunjukkan kecintaan dan ketaatan yang tulus kepada Tuhannya. Selain itu, Qiyamul Lail juga dapat memberikan ketenangan batin dan kedamaian hati. Dalam kesunyian malam, seorang muslim dapat mencurahkan segala doa dan harapannya kepada Allah SWT melalui Qiyamul Lail, sehingga hati menjadi lebih tenang dan penuh harapan. Manfaat lain dari Qiyamul Lail adalah sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Ketika seseorang merenungi kehidupan dan memohon ampunan kepada Allah SWT melalui Qiyamul Lail, ia akan lebih mudah menyadari kesalahan dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan dari sisi kesehatan, Qiyamul Lail juga memiliki manfaat tersendiri. Bangun di malam hari untuk beribadah dapat melatih kedisiplinan dan membantu mengatur pola hidup yang lebih sehat. Namun tentu saja, tujuan utama dari Qiyamul Lail tetaplah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Dengan berbagai hikmah tersebut, tidak mengherankan jika Qiyamul Lail menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama selama bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Melalui Qiyamul Lail, seorang muslim dapat memanfaatkan waktu malam yang penuh ketenangan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan, serta meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan. Keutamaan Qiyamul Lail sangat besar, terutama di bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan. Dengan melaksanakan Qiyamul Lail secara konsisten, seorang muslim tidak hanya mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tetapi juga merasakan kedamaian spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak Qiyamul Lail. Semoga dengan menghidupkan malam Ramadhan melalui Qiyamul Lail, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT. Kekuatan ibadah malam akan semakin sempurna jika dibarengi dengan kedermawanan di siang hari. Sebagaimana Rasulullah yang semakin dermawan di bulan Ramadhan, Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA11/03/2026 | admin
Setengah Jalan Berlalu dan Inilah Alasan Kita Perlu Bersyukur Masih Bertemu Ramadhan
Setengah Jalan Berlalu dan Inilah Alasan Kita Perlu Bersyukur Masih Bertemu Ramadhan
Ramadhan adalah bulan yang selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan yang penuh berkah ini membawa banyak kesempatan untuk meningkatkan ibadah, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika bulan suci ini telah memasuki pertengahan, ada satu hal penting yang seharusnya selalu hadir dalam hati setiap muslim, yaitu bersyukur Ramadhan. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk kembali merasakan suasana Ramadhan setiap tahun. Oleh karena itu, ketika kita masih diberikan kesehatan, umur panjang, dan kesempatan untuk berpuasa serta beribadah, maka sudah sepantasnya kita meningkatkan rasa bersyukur Ramadhan kepada Allah SWT. Rasa syukur tersebut bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga diwujudkan melalui peningkatan amal ibadah. Artikel ini akan membahas mengapa kita perlu bersyukur Ramadhan, terutama ketika bulan suci ini sudah berjalan setengah perjalanan. Makna Ramadhan sebagai Bulan Penuh Keberkahan Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Dalam bulan ini, banyak peristiwa penting yang terjadi, salah satunya adalah diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”(QS. Al-Baqarah: 185) Ayat tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Oleh karena itu, kesempatan untuk menjalani bulan suci ini seharusnya membuat setiap muslim semakin bersyukur Ramadhan karena Allah masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak Semua Orang Mendapatkan Kesempatan Bertemu Ramadhan Salah satu alasan terbesar mengapa kita harus bersyukur Ramadhan adalah karena tidak semua orang masih hidup untuk menyambut bulan suci ini. Setiap tahun, ada banyak orang yang sebelumnya berpuasa bersama kita, namun pada tahun berikutnya mereka sudah dipanggil oleh Allah SWT. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan rasa syukur yang mendalam. Ketika kita masih diberikan umur panjang, kesehatan, dan kekuatan untuk berpuasa, itu merupakan nikmat yang luar biasa. Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang diberi umur panjang dan mampu memperbanyak amal kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan bertemu Ramadhan adalah karunia besar dari Allah SWT yang patut disyukuri dengan memperbanyak ibadah. Bersyukur Ramadhan dengan Memperbanyak Ibadah Rasa bersyukur Ramadhan tidak hanya cukup diucapkan melalui lisan. Syukur yang sejati harus diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan. Ada beberapa amalan yang bisa dilakukan untuk menunjukkan rasa bersyukur Ramadhan, antara lain: 1. Meningkatkan Kualitas Puasa Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa, seperti berkata kasar, bergosip, atau melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat. Dengan menjaga kualitas puasa, kita menunjukkan bahwa kita benar-benar menghargai kesempatan yang Allah berikan untuk menjalani Ramadhan. 2. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Pada bulan ini, pahala membaca Al-Qur’an dilipatgandakan. Rasulullah SAW sendiri memperbanyak tilawah Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, memperbanyak membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk nyata dari bersyukur Ramadhan. 3. Memperbanyak Sedekah Ramadhan juga dikenal sebagai bulan berbagi. Rasulullah SAW dikenal sangat dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat pada bulan Ramadhan. Dengan bersedekah kepada orang yang membutuhkan, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menunjukkan rasa bersyukur Ramadhan atas nikmat rezeki yang telah Allah berikan. 4. Menghidupkan Malam dengan Ibadah Selain ibadah di siang hari, malam Ramadhan juga memiliki keutamaan yang besar. Shalat tarawih, tahajud, serta doa di malam hari menjadi kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menghidupkan malam dengan ibadah juga merupakan bentuk nyata dari bersyukur Ramadhan karena kita memanfaatkan waktu yang penuh berkah ini sebaik mungkin. Pertengahan Ramadhan Adalah Momentum Muhasabah Ketika Ramadhan sudah memasuki pertengahan bulan, ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri atau muhasabah. Kita bisa bertanya kepada diri sendiri: Apakah ibadah kita sudah lebih baik dibandingkan sebelum Ramadhan? Apakah kita sudah memanfaatkan waktu Ramadhan dengan maksimal? Apakah kita sudah benar-benar bersyukur Ramadhan dengan meningkatkan amal ibadah? Muhasabah ini sangat penting agar sisa waktu Ramadhan dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini. Keutamaan Bersyukur dalam Islam Dalam Islam, bersyukur merupakan salah satu sikap yang sangat dianjurkan. Allah SWT bahkan menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”(QS. Ibrahim: 7) Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketika kita bersyukur Ramadhan, Allah akan menambah keberkahan dalam hidup kita. Tambahan nikmat tersebut bisa berupa kesehatan, ketenangan hati, keberkahan rezeki, serta kesempatan untuk terus berbuat kebaikan. Jangan Menyia-nyiakan Sisa Ramadhan Setelah Ramadhan berjalan setengah perjalanan, masih ada kesempatan besar untuk meningkatkan ibadah. Bahkan, sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar. Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kesempatan ini seharusnya membuat kita semakin bersyukur Ramadhan dan memanfaatkannya dengan maksimal. Cara Menjaga Semangat Ibadah Hingga Akhir Ramadhan Agar semangat ibadah tidak menurun di pertengahan Ramadhan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan: Membuat target ibadah harian Memperbanyak doa kepada Allah Mengikuti kajian atau membaca literatur Islam Menghindari hal-hal yang melalaikan Mengingat bahwa Ramadhan adalah kesempatan yang belum tentu datang kembali Dengan cara-cara tersebut, kita dapat menjaga semangat bersyukur Ramadhan hingga akhir bulan suci. Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Ketika bulan ini telah memasuki pertengahan, kita seharusnya semakin menyadari betapa besar nikmat yang Allah berikan kepada kita. Masih bisa berpuasa, masih bisa melaksanakan shalat tarawih, masih bisa membaca Al-Qur’an, serta masih memiliki kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan adalah karunia yang luar biasa. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita terus bersyukur Ramadhan dengan memanfaatkan setiap waktunya untuk beribadah. Semoga rasa bersyukur Ramadhan yang kita miliki dapat membuat kita lebih dekat kepada Allah SWT dan menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Rasa syukur yang paling sejati adalah ketika kita mampu membagikan nikmat yang kita terima kepada mereka yang kekurangan. Di titik pertengahan ini, mari buktikan syukur kita dengan tindakan nyata yang berdampak luas bagi umat. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA11/03/2026 | admin
Apa yang Terjadi Jika Terlambat Membayar Zakat Fitrah
Apa yang Terjadi Jika Terlambat Membayar Zakat Fitrah
Terlambat bayar zakat merupakan persoalan yang sering terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri. Banyak umat Islam yang menunda pembayaran zakat fitrah hingga mendekati waktu salat Id atau bahkan setelahnya. Padahal dalam ajaran Islam, zakat fitrah memiliki waktu pelaksanaan yang jelas dan dianjurkan untuk ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, yang dikeluarkan pada bulan Ramadan hingga sebelum salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk menyucikan jiwa orang yang berpuasa sekaligus membantu fakir miskin agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Masalah terlambat bayar zakat sering muncul karena berbagai alasan, seperti kesibukan, lupa, atau kurang memahami ketentuan waktu pembayaran zakat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui apa saja konsekuensi jika zakat fitrah tidak dibayarkan tepat waktu. Dalam Islam, zakat bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga ibadah yang memiliki aturan waktu tertentu. Dengan memahami hukum dan ketentuannya, umat Islam dapat menjalankan kewajiban ini dengan lebih baik dan mendapatkan pahala yang sempurna. Waktu-Waktu Pembayaran Zakat Fitrah dalam Islam Untuk memahami masalah terlambat bayar zakat, terlebih dahulu kita perlu mengetahui waktu-waktu yang berkaitan dengan pembayaran zakat fitrah menurut para ulama. Secara umum, waktu pembayaran zakat fitrah dibagi menjadi beberapa kategori berikut: 1. Waktu Boleh Waktu boleh adalah sejak awal bulan Ramadan hingga menjelang hari raya. Pada masa ini, umat Islam sudah diperbolehkan untuk menunaikan zakat fitrah. Banyak lembaga zakat modern menganjurkan pembayaran lebih awal agar penyaluran kepada mustahik dapat dilakukan secara optimal sebelum hari raya. 2. Waktu Utama (Afdhal) Waktu terbaik untuk menunaikan zakat fitrah adalah pada malam Idulfitri hingga sebelum pelaksanaan salat Id. Inilah waktu yang paling dianjurkan oleh para ulama karena zakat fitrah dapat langsung dimanfaatkan oleh para penerima untuk kebutuhan hari raya. 3. Waktu Makruh Waktu makruh adalah ketika zakat fitrah dibayarkan setelah salat Idulfitri namun masih pada hari raya. Dalam kondisi ini, seseorang dianggap terlambat bayar zakat, tetapi kewajibannya masih tetap harus ditunaikan. 4. Waktu Haram Jika zakat fitrah dibayarkan setelah hari raya Idulfitri tanpa alasan yang dibenarkan, maka hal tersebut termasuk terlambat bayar zakat yang berdosa karena melewati waktu yang telah ditentukan. Namun kewajiban zakat tetap harus dibayarkan meskipun waktunya telah terlewat. Apa yang Terjadi Jika Terlambat Bayar Zakat Fitrah? Dalam pembahasan fikih Islam, terlambat bayar zakat memiliki konsekuensi tertentu. Meskipun zakat tetap sah jika dibayarkan setelah waktu yang dianjurkan, terdapat beberapa hal yang perlu dipahami. 1. Kehilangan Keutamaan Zakat Fitrah Ketika seseorang terlambat bayar zakat, ia kehilangan keutamaan zakat fitrah sebagai penyempurna ibadah puasa Ramadan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat Id, maka zakatnya diterima sebagai zakat. Dan barang siapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka itu hanya dianggap sebagai sedekah biasa.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Hadis ini menunjukkan bahwa waktu memiliki pengaruh besar terhadap nilai ibadah zakat fitrah. 2. Berubah Menjadi Sedekah Biasa Jika seseorang terlambat bayar zakat hingga setelah salat Idulfitri, maka secara hukum ibadah tersebut tidak lagi dianggap sebagai zakat fitrah yang sempurna, melainkan sebagai sedekah biasa. Walaupun tetap mendapatkan pahala sedekah, keutamaan zakat fitrah yang memiliki fungsi sosial khusus menjadi berkurang. 3. Tetap Wajib Dibayarkan Meskipun terlambat bayar zakat, kewajiban zakat tidak gugur. Seseorang tetap harus menunaikan zakat fitrah yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sejalan dengan kaidah fikih bahwa kewajiban yang tertunda tetap harus dilaksanakan meskipun waktunya telah lewat. 4. Mendapatkan Dosa Jika Sengaja Menunda Apabila seseorang dengan sengaja terlambat bayar zakat tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia dapat berdosa karena menunda kewajiban yang sudah jelas waktunya. Namun jika keterlambatan terjadi karena lupa, tidak tahu, atau ada kondisi darurat, maka Allah Maha Pengampun dan Maha Mengetahui niat hamba-Nya. Hikmah Penetapan Waktu Zakat Fitrah Islam menetapkan waktu tertentu untuk zakat fitrah bukan tanpa alasan. Ada banyak hikmah di balik ketentuan tersebut. Pertama, zakat fitrah bertujuan untuk membantu fakir miskin agar dapat merayakan Idulfitri dengan layak. Jika terjadi terlambat bayar zakat, maka manfaat zakat tersebut tidak bisa dirasakan tepat waktu oleh mereka yang membutuhkan. Kedua, pembayaran zakat sebelum salat Id juga mengajarkan umat Islam untuk disiplin dalam menjalankan kewajiban agama. Ketiga, zakat fitrah menjadi bentuk penyucian jiwa setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Karena itulah para ulama sangat menekankan agar umat Islam tidak menunda-nunda kewajiban ini hingga terjadi terlambat bayar zakat. Cara Menghindari Terlambat Bayar Zakat Agar tidak mengalami terlambat bayar zakat, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh umat Islam. 1. Membayar Zakat Lebih Awal Salah satu cara terbaik adalah menunaikan zakat sejak awal Ramadan melalui masjid atau lembaga zakat terpercaya. Dengan membayar lebih awal, risiko lupa atau terlambat dapat dihindari. 2. Membuat Pengingat Pribadi Di era digital saat ini, umat Islam dapat memanfaatkan pengingat di ponsel atau kalender untuk menghindari terlambat bayar zakat. Langkah sederhana ini dapat membantu memastikan kewajiban ibadah tidak terlewat. 3. Menyalurkan Melalui Lembaga Zakat Menyalurkan zakat melalui lembaga resmi juga dapat membantu menghindari terlambat bayar zakat, karena lembaga tersebut biasanya memiliki sistem pengelolaan dan distribusi yang terorganisir. Selain itu, penyaluran zakat juga menjadi lebih tepat sasaran kepada para mustahik yang berhak menerima. 4. Memahami Ilmu Zakat Banyak kasus terlambat bayar zakat terjadi karena kurangnya pemahaman tentang hukum dan waktu pembayaran zakat. Oleh karena itu, mempelajari ilmu zakat menjadi hal yang penting agar ibadah ini dapat dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Masalah terlambat bayar zakat merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh setiap Muslim, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Islam telah memberikan panduan yang jelas mengenai waktu pembayaran zakat fitrah agar ibadah tersebut dapat memberikan manfaat maksimal bagi penerima dan menjadi penyempurna ibadah puasa bagi yang menunaikannya. Jika seseorang terlambat bayar zakat, maka zakat tersebut tetap wajib dibayarkan, namun ia kehilangan sebagian keutamaan yang seharusnya diperoleh apabila zakat ditunaikan sebelum salat Idulfitri. Bahkan dalam beberapa kondisi, keterlambatan tersebut dapat menyebabkan zakat hanya bernilai sebagai sedekah biasa. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda kewajiban ini. Dengan membayar zakat fitrah tepat waktu, seorang Muslim tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga membantu saudara-saudara yang membutuhkan agar dapat merayakan hari kemenangan dengan penuh kebahagiaan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat menunaikan zakat tepat waktu dan terhindar dari terlambat bayar zakat, sehingga ibadah Ramadan kita menjadi lebih sempurna di sisi Allah SWT. Agar zakat fitrah benar-benar menjadi penyempurna puasa, sebaiknya ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idu. Fitri. Jangan menunggu hingga waktu semakin sempit. Mari sempurnakan ibadah Ramadhan dengan menunaikan zakat fitrah melalui BAZNAS DIY ????? Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa YogyakartaNo: Kep.-013/MUI-DIY/I/2026 tentang Besaran Zakat Fitri, Zakat Mal, Fidyah, Pembayaran dan Penyalurannya,besaran zakat fitrah tahun ini adalah Rp45.000/jiwa.Tunaikan zakat fitrah Anda tepat waktu, agar suci diri dan berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui rekening:BSI 340-7799-736atau melalui link diy.baznas.go.id/bayarzakatTambahkan kode unik (013) dibelakang nominal transfer untuk zakat fitrah.???? Salurkan melalui BAZNAS DIY – Amanah, Transparan, dan Tepat Sasaran.
BERITA11/03/2026 | admin
Apakah Bayi yang Baru Lahir Wajib Dibayarkan Zakat Fitrahnya
Apakah Bayi yang Baru Lahir Wajib Dibayarkan Zakat Fitrahnya
Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam yang harus ditunaikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Kewajiban ini bertujuan untuk menyucikan diri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan sekaligus membantu kaum fakir miskin agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Namun, di tengah masyarakat sering muncul pertanyaan: apakah bayi baru lahir berzakat atau wajib dibayarkan zakat fitrah oleh orang tuanya? Pertanyaan mengenai bayi baru lahir berzakat cukup sering muncul terutama ketika seorang bayi lahir di bulan Ramadan atau bahkan beberapa jam sebelum Hari Raya Idulfitri. Banyak orang tua yang bingung apakah bayi tersebut sudah termasuk dalam golongan yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya atau tidak. Dalam Islam, ketentuan zakat fitrah memiliki aturan yang jelas mengenai siapa saja yang wajib menunaikannya. Oleh karena itu, memahami hukum bayi baru lahir berzakat penting agar umat Islam dapat menjalankan kewajiban ini dengan benar sesuai tuntunan syariat. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang hukum bayi baru lahir berzakat, waktu kelahiran yang menentukan kewajiban zakat fitrah, serta penjelasan para ulama mengenai hal tersebut. Pengertian Zakat Fitrah dan Tujuannya Sebelum membahas lebih jauh tentang bayi baru lahir berzakat, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim menjelang Idulfitri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Zakat ini biasanya berupa makanan pokok seperti beras atau bahan pangan lain yang menjadi makanan utama masyarakat setempat. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap Muslim, baik budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa zakat fitrah tidak hanya diwajibkan bagi orang dewasa, tetapi juga anak kecil. Dari sinilah muncul pembahasan mengenai bayi baru lahir berzakat, apakah termasuk anak kecil yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Tujuan zakat fitrah sendiri antara lain: Menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan dosa kecil. Membantu kaum fakir miskin agar dapat merayakan Idulfitri dengan layak. Menumbuhkan kepedulian sosial dalam masyarakat Muslim. Apakah Bayi Baru Lahir Berzakat? Ini Penjelasan Hukumnya Pertanyaan mengenai bayi baru lahir berzakat sebenarnya berkaitan erat dengan waktu kelahiran bayi tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim yang masih hidup saat matahari terbenam pada malam Idulfitri (malam 1 Syawal). Artinya, hukum bayi baru lahir berzakat bergantung pada kapan bayi tersebut dilahirkan. 1. Bayi Lahir Sebelum Matahari Terbenam di Akhir Ramadan Jika bayi lahir sebelum matahari terbenam pada hari terakhir Ramadan, maka bayi tersebut termasuk orang yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Dengan kata lain, bayi baru lahir berzakat dalam kondisi ini karena ia sudah dianggap hidup ketika waktu wajib zakat fitrah tiba. Orang tua atau wali bayi tersebut berkewajiban membayarkan zakat fitrahnya. 2. Bayi Lahir Setelah Matahari Terbenam di Malam Idulfitri Sebaliknya, jika bayi lahir setelah matahari terbenam pada malam Idulfitri, maka bayi tersebut tidak wajib dibayarkan zakat fitrahnya pada tahun tersebut. Dalam kondisi ini, hukum bayi baru lahir berzakat tidak berlaku karena bayi tersebut lahir setelah waktu kewajiban zakat fitrah. Namun, jika orang tua tetap ingin mengeluarkan zakat atau sedekah atas nama bayi tersebut, hal itu diperbolehkan dan termasuk amalan baik. Siapa yang Membayarkan Zakat Fitrah Bayi? Dalam pembahasan bayi baru lahir berzakat, perlu diketahui bahwa bayi tentu belum memiliki kemampuan untuk mengeluarkan zakat sendiri. Oleh karena itu, kewajiban membayar zakat fitrah bayi berada pada orang yang menanggung nafkahnya, biasanya ayah atau wali keluarga. Jika seorang bayi lahir sebelum waktu wajib zakat fitrah, maka ayahnya wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk: dirinya sendiri istrinya anak-anaknya termasuk bayi yang baru lahir Hal ini sesuai dengan kaidah bahwa kepala keluarga bertanggung jawab menunaikan zakat fitrah bagi anggota keluarganya. Pendapat Para Ulama tentang Bayi Baru Lahir Berzakat Para ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa bayi baru lahir berzakat jika lahir sebelum matahari terbenam pada hari terakhir Ramadan. Mazhab Syafi’i Dalam mazhab Syafi’i dijelaskan bahwa zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim yang hidup saat matahari terbenam pada akhir Ramadan. Artinya, bayi yang lahir sebelum waktu tersebut wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi juga memiliki pendapat yang hampir sama. Mereka menyatakan bahwa zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim yang hidup pada waktu kewajiban zakat. Mazhab Maliki dan Hanbali Kedua mazhab ini juga menyatakan bahwa bayi yang lahir sebelum terbenam matahari di akhir Ramadan termasuk yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Dari kesepakatan ini dapat disimpulkan bahwa hukum bayi baru lahir berzakat memiliki landasan kuat dalam fikih Islam. Apakah Bayi dalam Kandungan Wajib Dizakati? Selain pertanyaan tentang bayi baru lahir berzakat, sering juga muncul pertanyaan mengenai bayi yang masih berada dalam kandungan. Mayoritas ulama menyatakan bahwa bayi dalam kandungan tidak wajib dibayarkan zakat fitrah. Namun, sebagian ulama menganjurkan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi janin sebagai bentuk kesunnahan. Riwayat dari sahabat Nabi, yaitu Utsman bin Affan RA, menyebutkan bahwa beliau pernah mengeluarkan zakat fitrah untuk bayi yang masih dalam kandungan. Meskipun demikian, praktik ini bersifat sunnah dan bukan kewajiban. Besaran Zakat Fitrah untuk Bayi Jika seorang bayi termasuk dalam kategori bayi baru lahir berzakat, maka jumlah zakat yang dikeluarkan sama dengan zakat fitrah orang dewasa. Besaran zakat fitrah adalah: 1 sha’ makanan pokok setara sekitar 2,5 – 3 kg beras Di Indonesia, banyak lembaga zakat juga memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dalam bentuk uang yang nilainya setara dengan harga beras tersebut. Namun, sebagian ulama tetap menganjurkan menunaikannya dalam bentuk makanan pokok sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Hikmah Membayar Zakat Fitrah untuk Bayi Pembahasan tentang bayi baru lahir berzakat juga mengandung hikmah yang mendalam dalam Islam. Beberapa hikmah tersebut antara lain: 1. Mengajarkan Kepedulian Sosial Sejak Awal Kehidupan Dengan membayarkan zakat fitrah untuk bayi, orang tua sebenarnya sedang menanamkan nilai kepedulian sosial sejak awal kehidupan anak. 2. Menyempurnakan Kewajiban Keluarga Zakat fitrah yang dibayarkan untuk seluruh anggota keluarga termasuk bayi menunjukkan kesempurnaan tanggung jawab seorang kepala keluarga. 3. Membersihkan Harta dan Jiwa Zakat fitrah memiliki fungsi sebagai pembersih jiwa dan harta, termasuk bagi keluarga yang baru saja mendapatkan anugerah kelahiran anak. Kesimpulan Pertanyaan mengenai bayi baru lahir berzakat sering muncul di kalangan umat Islam, terutama ketika kelahiran bayi terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri. Dalam Islam, hukum bayi baru lahir berzakat bergantung pada waktu kelahirannya. Jika bayi lahir sebelum matahari terbenam pada hari terakhir Ramadan, maka ia wajib dibayarkan zakat fitrahnya oleh orang tua atau walinya. Namun, jika bayi lahir setelah matahari terbenam pada malam Idulfitri, maka ia tidak wajib dibayarkan zakat fitrah pada tahun tersebut. Meskipun demikian, orang tua tetap diperbolehkan mengeluarkan sedekah atas nama bayi sebagai bentuk rasa syukur atas kelahirannya. Memahami hukum bayi baru lahir berzakat membantu umat Islam menjalankan ibadah zakat fitrah dengan benar sesuai tuntunan syariat. Dengan demikian, zakat fitrah tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga sarana mempererat kepedulian sosial dan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT. Memahami ketentuan zakat fitrah untuk seluruh anggota keluarga, termasuk bayi yang baru lahir, membantu kita menjalankan kewajiban dengan lebih sempurna. Mari sempurnakan ibadah Ramadhan dengan menunaikan zakat fitrah melalui BAZNAS DIY ?????Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa YogyakartaNo: Kep.-013/MUI-DIY/I/2026 tentang Besaran Zakat Fitri, Zakat Mal, Fidyah, Pembayaran dan Penyalurannya,besaran zakat fitrah tahun ini adalah Rp45.000/jiwa.Tunaikan zakat fitrah Anda tepat waktu, agar suci diri dan berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui rekening:BSI 340-7799-736atau melalui link diy.baznas.go.id/bayarzakatTambahkan kode unik (013) dibelakang nominal transfer untuk zakat fitrah.???? Salurkan melalui BAZNAS DIY – Amanah, Transparan, dan Tepat Sasaran.
BERITA11/03/2026 | admin
Sejarah Ramadhan Disebut Bulan Diturunkannya Al-Quran
Sejarah Ramadhan Disebut Bulan Diturunkannya Al-Quran
Sejarah Ramadhan merupakan bagian penting dalam perjalanan spiritual umat Islam. Bulan Ramadhan tidak hanya dikenal sebagai bulan diwajibkannya ibadah puasa, tetapi juga sebagai bulan penuh keberkahan karena pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa besar tersebut menjadikan Ramadhan memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan umat Islam di seluruh dunia. Dalam kajian Islam, Sejarah Ramadhan erat kaitannya dengan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Peristiwa ini menjadi awal dari risalah kenabian dan juga menjadi tonggak penting dalam sejarah peradaban Islam. Oleh karena itu, Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Melalui pemahaman Sejarah Ramadhan, umat Islam diingatkan bahwa bulan suci ini merupakan waktu yang penuh dengan rahmat, ampunan, serta kesempatan memperbaiki diri. Tidak heran jika umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak doa, dan melaksanakan salat malam. Sejarah Ramadhan Disebut Bulan Diturunkannya Al-Qur’an Dalam Sejarah Ramadhan, salah satu peristiwa paling agung adalah turunnya Al-Qur’an. Allah SWT secara tegas menyebutkan hal ini dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” Ayat tersebut menjadi dasar utama mengapa Sejarah Ramadhan selalu dikaitkan dengan turunnya kitab suci Al-Qur’an. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap. Pertama, Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia (Baitul Izzah) pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Kedua, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. Peristiwa ini menunjukkan betapa istimewanya Ramadhan dalam Sejarah Ramadhan umat Islam. Bulan ini menjadi simbol turunnya petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira Jika menelusuri Sejarah Ramadhan, kita akan menemukan kisah ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama. Saat itu, Nabi Muhammad sering menyendiri dan beribadah di Gua Hira yang berada di Jabal Nur, dekat kota Makkah. Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama yang terdapat dalam Surah Al-Alaq ayat 1–5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” Peristiwa ini menjadi awal dari turunnya Al-Qur’an sekaligus dimulainya dakwah Islam. Dalam Sejarah Ramadhan, kejadian tersebut menjadi momentum yang mengubah arah kehidupan manusia, karena sejak saat itu wahyu Ilahi mulai diturunkan sebagai pedoman hidup. Para ulama menyebut malam turunnya wahyu pertama ini sebagai bagian dari malam Lailatul Qadar yang memiliki kemuliaan luar biasa. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan dalam Sejarah Peradaban Islam Selain dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an, Sejarah Ramadhan juga dipenuhi dengan berbagai peristiwa penting dalam perjalanan umat Islam. Beberapa peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan antara lain: 1. Perang Badar Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah. Dalam Sejarah Ramadhan, perang ini menjadi salah satu kemenangan penting umat Islam melawan kaum Quraisy. Meskipun jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit, mereka berhasil meraih kemenangan dengan pertolongan Allah SWT. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan perjuangan dan pengorbanan. 2. Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah) Peristiwa besar lainnya dalam Sejarah Ramadhan adalah penaklukan Kota Makkah oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-8 Hijriah. Peristiwa ini dikenal sebagai Fathu Makkah. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW memasuki kota Makkah dengan penuh kerendahan hati dan memberikan pengampunan kepada banyak orang yang sebelumnya memusuhi beliau. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kedamaian. 3. Nuzulul Qur’an Dalam Sejarah Ramadhan, peristiwa turunnya Al-Qur’an juga dikenal sebagai Nuzulul Qur’an. Di Indonesia, peringatan Nuzulul Qur’an biasanya dilakukan pada malam 17 Ramadhan dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, tilawah Al-Qur’an, dan ceramah. Peringatan ini bertujuan agar umat Islam semakin mencintai dan memahami Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Mengapa Ramadhan Begitu Istimewa dalam Sejarah Islam Jika melihat kembali Sejarah Ramadhan, ada beberapa alasan mengapa bulan ini sangat istimewa bagi umat Islam. 1. Bulan Diturunkannya Al-Qur’an Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Ramadhan adalah bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam Sejarah Ramadhan, bulan ini selalu dikaitkan dengan aktivitas membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. 2. Bulan Pengampunan Dosa Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Hal ini menjadikan Sejarah Ramadhan sebagai simbol bulan penuh ampunan dan kesempatan memperbaiki diri. 3. Adanya Malam Lailatul Qadar Dalam Sejarah Ramadhan, terdapat malam yang sangat mulia yaitu Lailatul Qadar. Malam ini disebut lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Karena keutamaannya yang luar biasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hikmah Memahami Sejarah Ramadhan Memahami Sejarah Ramadhan bukan hanya sekadar mengetahui peristiwa masa lalu, tetapi juga memiliki banyak hikmah bagi kehidupan umat Islam. Beberapa hikmah tersebut antara lain: 1. Menumbuhkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an Dengan memahami Sejarah Ramadhan, umat Islam diingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup yang diturunkan pada bulan penuh berkah. 2. Memperkuat Keimanan Peristiwa-peristiwa besar dalam Sejarah Ramadhan seperti turunnya wahyu pertama dan kemenangan umat Islam dalam Perang Badar dapat meningkatkan keimanan serta keyakinan kepada pertolongan Allah. 3. Memotivasi untuk Memperbanyak Ibadah Mengetahui keutamaan Ramadhan dalam Sejarah Ramadhan akan mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah seperti puasa, salat tarawih, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Pada akhirnya, Sejarah Ramadhan tidak dapat dipisahkan dari peristiwa turunnya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia. Ramadhan disebut sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an karena pada bulan inilah wahyu pertama disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Melalui pemahaman Sejarah Ramadhan, umat Islam dapat menyadari bahwa bulan suci ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Ramadhan bukan hanya bulan puasa, tetapi juga bulan ilmu, bulan perjuangan, dan bulan turunnya rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, serta memperbaiki akhlak dan perilaku. Dengan begitu, semangat yang terkandung dalam Sejarah Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan umat Islam hingga hari ini. Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk yang memerintahkan kita untuk peduli terhadap hak-hak orang miskin dalam harta kita. Mengingat kembali sejarah agung ini seharusnya memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih dermawan dan taat aturan agama. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA11/03/2026 | admin
Sejarah Ramadhan Disebut Bulan Diturunkannya Al-Quran
Sejarah Ramadhan Disebut Bulan Diturunkannya Al-Quran
Sejarah Ramadhan merupakan bagian penting dalam perjalanan spiritual umat Islam. Bulan Ramadhan tidak hanya dikenal sebagai bulan diwajibkannya ibadah puasa, tetapi juga sebagai bulan penuh keberkahan karena pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa besar tersebut menjadikan Ramadhan memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan umat Islam di seluruh dunia. Dalam kajian Islam, Sejarah Ramadhan erat kaitannya dengan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Peristiwa ini menjadi awal dari risalah kenabian dan juga menjadi tonggak penting dalam sejarah peradaban Islam. Oleh karena itu, Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Melalui pemahaman Sejarah Ramadhan, umat Islam diingatkan bahwa bulan suci ini merupakan waktu yang penuh dengan rahmat, ampunan, serta kesempatan memperbaiki diri. Tidak heran jika umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak doa, dan melaksanakan salat malam. Sejarah Ramadhan Disebut Bulan Diturunkannya Al-Qur’an Dalam Sejarah Ramadhan, salah satu peristiwa paling agung adalah turunnya Al-Qur’an. Allah SWT secara tegas menyebutkan hal ini dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” Ayat tersebut menjadi dasar utama mengapa Sejarah Ramadhan selalu dikaitkan dengan turunnya kitab suci Al-Qur’an. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap. Pertama, Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia (Baitul Izzah) pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Kedua, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. Peristiwa ini menunjukkan betapa istimewanya Ramadhan dalam Sejarah Ramadhan umat Islam. Bulan ini menjadi simbol turunnya petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira Jika menelusuri Sejarah Ramadhan, kita akan menemukan kisah ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama. Saat itu, Nabi Muhammad sering menyendiri dan beribadah di Gua Hira yang berada di Jabal Nur, dekat kota Makkah. Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama yang terdapat dalam Surah Al-Alaq ayat 1–5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” Peristiwa ini menjadi awal dari turunnya Al-Qur’an sekaligus dimulainya dakwah Islam. Dalam Sejarah Ramadhan, kejadian tersebut menjadi momentum yang mengubah arah kehidupan manusia, karena sejak saat itu wahyu Ilahi mulai diturunkan sebagai pedoman hidup. Para ulama menyebut malam turunnya wahyu pertama ini sebagai bagian dari malam Lailatul Qadar yang memiliki kemuliaan luar biasa. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan dalam Sejarah Peradaban Islam Selain dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an, Sejarah Ramadhan juga dipenuhi dengan berbagai peristiwa penting dalam perjalanan umat Islam. Beberapa peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan antara lain: 1. Perang Badar Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah. Dalam Sejarah Ramadhan, perang ini menjadi salah satu kemenangan penting umat Islam melawan kaum Quraisy. Meskipun jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit, mereka berhasil meraih kemenangan dengan pertolongan Allah SWT. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan perjuangan dan pengorbanan. 2. Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah) Peristiwa besar lainnya dalam Sejarah Ramadhan adalah penaklukan Kota Makkah oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-8 Hijriah. Peristiwa ini dikenal sebagai Fathu Makkah. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW memasuki kota Makkah dengan penuh kerendahan hati dan memberikan pengampunan kepada banyak orang yang sebelumnya memusuhi beliau. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kedamaian. 3. Nuzulul Qur’an Dalam Sejarah Ramadhan, peristiwa turunnya Al-Qur’an juga dikenal sebagai Nuzulul Qur’an. Di Indonesia, peringatan Nuzulul Qur’an biasanya dilakukan pada malam 17 Ramadhan dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, tilawah Al-Qur’an, dan ceramah. Peringatan ini bertujuan agar umat Islam semakin mencintai dan memahami Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Mengapa Ramadhan Begitu Istimewa dalam Sejarah Islam Jika melihat kembali Sejarah Ramadhan, ada beberapa alasan mengapa bulan ini sangat istimewa bagi umat Islam. 1. Bulan Diturunkannya Al-Qur’an Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Ramadhan adalah bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam Sejarah Ramadhan, bulan ini selalu dikaitkan dengan aktivitas membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. 2. Bulan Pengampunan Dosa Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Hal ini menjadikan Sejarah Ramadhan sebagai simbol bulan penuh ampunan dan kesempatan memperbaiki diri. 3. Adanya Malam Lailatul Qadar Dalam Sejarah Ramadhan, terdapat malam yang sangat mulia yaitu Lailatul Qadar. Malam ini disebut lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Karena keutamaannya yang luar biasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hikmah Memahami Sejarah Ramadhan Memahami Sejarah Ramadhan bukan hanya sekadar mengetahui peristiwa masa lalu, tetapi juga memiliki banyak hikmah bagi kehidupan umat Islam. Beberapa hikmah tersebut antara lain: 1. Menumbuhkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an Dengan memahami Sejarah Ramadhan, umat Islam diingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup yang diturunkan pada bulan penuh berkah. 2. Memperkuat Keimanan Peristiwa-peristiwa besar dalam Sejarah Ramadhan seperti turunnya wahyu pertama dan kemenangan umat Islam dalam Perang Badar dapat meningkatkan keimanan serta keyakinan kepada pertolongan Allah. 3. Memotivasi untuk Memperbanyak Ibadah Mengetahui keutamaan Ramadhan dalam Sejarah Ramadhan akan mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah seperti puasa, salat tarawih, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Pada akhirnya, Sejarah Ramadhan tidak dapat dipisahkan dari peristiwa turunnya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia. Ramadhan disebut sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an karena pada bulan inilah wahyu pertama disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Melalui pemahaman Sejarah Ramadhan, umat Islam dapat menyadari bahwa bulan suci ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Ramadhan bukan hanya bulan puasa, tetapi juga bulan ilmu, bulan perjuangan, dan bulan turunnya rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, serta memperbaiki akhlak dan perilaku. Dengan begitu, semangat yang terkandung dalam Sejarah Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan umat Islam hingga hari ini. Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk yang memerintahkan kita untuk peduli terhadap hak-hak orang miskin dalam harta kita. Mengingat kembali sejarah agung ini seharusnya memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih dermawan dan taat aturan agama. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA11/03/2026 | admin
Anjuran Perbanyak Doa di Waktu-Waktu Mustajab Ramadhan
Anjuran Perbanyak Doa di Waktu-Waktu Mustajab Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat dari Allah SWT. Di bulan yang suci ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai ibadah, mulai dari puasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak doa. Banyak ulama menjelaskan bahwa terdapat waktu-waktu tertentu di bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan khusus, di mana doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, memahami dan memanfaatkan doa mustajab ramadhan menjadi sangat penting bagi setiap muslim yang ingin mendapatkan keberkahan dan rahmat Allah. Dalam Islam, doa merupakan bentuk komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya. Melalui doa, seorang muslim menyampaikan harapan, permohonan, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Terlebih di bulan Ramadhan, pintu langit dibuka lebih luas, setan-setan dibelenggu, dan pahala amal dilipatgandakan. Hal ini menjadikan doa mustajab ramadhan sebagai kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Artikel ini akan membahas pentingnya memperbanyak doa di bulan Ramadhan, waktu-waktu mustajab untuk berdoa, serta beberapa amalan yang dapat membantu seorang muslim agar doanya lebih mudah dikabulkan. Keutamaan Berdoa di Bulan Ramadhan Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Allah SWT memberikan banyak keistimewaan di bulan ini, salah satunya adalah peluang besar bagi doa untuk dikabulkan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah: 186) Ayat ini berada di tengah pembahasan tentang puasa Ramadhan, yang menunjukkan bahwa doa memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa. Hal ini menegaskan bahwa memperbanyak doa mustajab ramadhan merupakan amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Rasulullah SAW juga bersabda: “Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.”(HR. Tirmidzi) Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang sedang berpuasa memiliki kesempatan besar untuk memperoleh doa mustajab ramadhan, terutama menjelang waktu berbuka. Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa di Bulan Ramadhan Agar doa yang dipanjatkan lebih berpeluang dikabulkan, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu-waktu istimewa di bulan Ramadhan. Berikut beberapa waktu yang dikenal sebagai momen terbaik untuk memanjatkan doa mustajab ramadhan. 1. Saat Sahur Waktu sahur merupakan salah satu waktu yang penuh keberkahan. Selain menjadi waktu yang dianjurkan untuk makan sebelum berpuasa, sahur juga merupakan momen yang sangat baik untuk berdoa. Pada waktu ini, suasana cenderung tenang dan hati lebih khusyuk. Allah SWT juga memuji orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur. Allah berfirman: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”(QS. Adz-Dzariyat: 18) Karena itu, memanjatkan doa mustajab ramadhan pada waktu sahur dapat menjadi kesempatan besar untuk mendapatkan ampunan dan keberkahan. 2. Saat Berpuasa Sepanjang hari ketika seorang muslim menjalankan ibadah puasa, ia berada dalam kondisi ibadah. Kondisi ini menjadikan doa yang dipanjatkan lebih dekat untuk dikabulkan. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Oleh sebab itu, memperbanyak doa mustajab ramadhan saat berpuasa menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Doa dapat dipanjatkan kapan saja selama berpuasa, baik setelah shalat, saat membaca Al-Qur’an, maupun ketika sedang beraktivitas. 3. Menjelang Berbuka Puasa Menjelang waktu berbuka merupakan salah satu waktu paling mustajab dalam berdoa di bulan Ramadhan. Pada saat ini, seorang muslim telah menahan lapar, haus, dan berbagai godaan sepanjang hari demi ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbuka terdapat doa yang tidak ditolak.”(HR. Ibnu Majah) Oleh karena itu, sebelum berbuka puasa sebaiknya seorang muslim memperbanyak doa mustajab ramadhan, memohon kebaikan dunia dan akhirat. 4. Sepertiga Malam Terakhir Sepertiga malam terakhir merupakan waktu yang sangat istimewa dalam Islam. Pada waktu ini, Allah SWT turun ke langit dunia dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang memohon dengan penuh keikhlasan. Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan.”(HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, bangun untuk melaksanakan shalat tahajud dan memanjatkan doa mustajab ramadhan pada waktu ini merupakan amalan yang sangat dianjurkan. 5. Malam Lailatul Qadar Malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 3) Pada malam yang penuh keberkahan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa mustajab ramadhan. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika malam Lailatul Qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”(HR. Tirmidzi) Tips Agar Doa di Bulan Ramadhan Lebih Mudah Dikabulkan Selain memanfaatkan waktu mustajab, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan agar doa mustajab ramadhan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT. 1. Memulai Doa dengan Pujian kepada Allah Sebelum menyampaikan permohonan, dianjurkan untuk memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. 2. Berdoa dengan Khusyuk dan Penuh Keyakinan Doa harus dipanjatkan dengan hati yang khusyuk dan keyakinan bahwa Allah SWT pasti mendengar dan mampu mengabulkan. 3. Menghindari Makanan Haram Rasulullah SAW menjelaskan bahwa makanan yang haram dapat menjadi penghalang terkabulnya doa. Oleh karena itu, seorang muslim harus memastikan bahwa rezekinya halal. 4. Tidak Tergesa-Gesa Dalam berdoa, seorang muslim tidak boleh terburu-buru. Tetaplah bersabar dan yakin bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa pada waktu terbaik. 5. Memperbanyak Amal Kebaikan Sedekah, membaca Al-Qur’an, dan membantu sesama dapat menjadi sebab terkabulnya doa mustajab ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak doa, terutama pada waktu-waktu mustajab seperti saat sahur, menjelang berbuka, sepertiga malam terakhir, dan malam Lailatul Qadar. Dengan memanfaatkan momen-momen tersebut, seorang muslim memiliki peluang besar untuk mendapatkan doa mustajab ramadhan yang dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, jangan sia-siakan bulan penuh rahmat ini. Perbanyak doa, perbanyak ibadah, dan mohonlah kepada Allah segala kebaikan dunia dan akhirat. Semoga setiap doa yang dipanjatkan di bulan suci ini menjadi doa mustajab ramadhan yang membawa keberkahan, ampunan, dan kebahagiaan bagi kita semua. Di balik setiap doa yang kita panjatkan, terselip harapan agar amalan kita diterima di sisi-Nya. Salah satu cara agar doa lebih cepat terangkat adalah dengan menyertainya dengan amal jariyah yang bermanfaat bagi sesama. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA10/03/2026 | admin
Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
Menjelang akhir bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia bersiap menunaikan kewajiban zakat fitrah. Zakat ini menjadi penyempurna ibadah puasa sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada fakir miskin agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di hari raya Idulfitri. Namun di tengah perkembangan zaman dan perubahan sistem ekonomi masyarakat, muncul pertanyaan yang sering dibahas: apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan dalam Islam? Sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi membayar zakat fitrah dengan bahan makanan pokok seperti beras atau gandum. Namun di sisi lain, banyak pula yang memilih menunaikan zakat fitrah dengan uang karena dianggap lebih praktis dan memudahkan penerima zakat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam memahami hukum dan penjelasan ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang agar pelaksanaan ibadah ini tetap sesuai dengan syariat. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang hukum zakat fitrah dibayar uang, pandangan para ulama, dalil yang digunakan, serta bagaimana praktiknya di masyarakat saat ini. Pengertian Zakat Fitrah Sebelum membahas apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang mampu pada bulan Ramadhan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk membersihkan jiwa orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang kurang baik, serta membantu kaum fakir miskin. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang miskin.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Besaran zakat fitrah yang dikeluarkan adalah satu sha’ bahan makanan pokok. Dalam konteks Indonesia, hal ini biasanya setara dengan sekitar 2,5 hingga 3 kilogram beras. Namun seiring perkembangan sistem ekonomi modern, muncul pertanyaan baru mengenai apakah zakat fitrah dibayar uang dapat menggantikan bahan makanan tersebut. Dalil Zakat Fitrah dalam Islam Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok. Ibnu Umar RA meriwayatkan: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap muslim, baik budak maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini sering dijadikan dasar oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dibayarkan dalam bentuk makanan pokok. Namun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan atau tidak. Pandangan Ulama Tentang Zakat Fitrah Dibayar Uang Perbedaan pendapat ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah terjadi sejak masa klasik. Berikut beberapa pandangan dari mazhab-mazhab fikih dalam Islam. 1. Pendapat Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi memperbolehkan zakat fitrah dibayar uang. Mereka berpendapat bahwa tujuan utama zakat fitrah adalah membantu fakir miskin dan memenuhi kebutuhan mereka pada hari raya. Menurut pandangan ini, uang justru seringkali lebih bermanfaat bagi penerima zakat karena mereka dapat membeli kebutuhan yang lebih mendesak sesuai kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, dalam mazhab Hanafi, membayar zakat fitrah dengan uang dianggap sah selama nilainya setara dengan makanan pokok yang seharusnya dikeluarkan. 2. Pendapat Mazhab Syafi’i Mazhab Syafi’i yang banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok, bukan uang. Menurut ulama Syafi’iyah, karena Rasulullah SAW secara jelas menyebutkan zakat fitrah dalam bentuk makanan, maka hal tersebut sebaiknya tetap dipertahankan. Meski demikian, dalam praktik modern, sebagian ulama Syafi’i kontemporer memberikan kelonggaran jika zakat fitrah dibayar uang melalui lembaga zakat yang kemudian menyalurkannya dalam bentuk makanan pokok kepada mustahik. 3. Pendapat Mazhab Maliki dan Hanbali Mazhab Maliki dan Hanbali pada dasarnya juga lebih menganjurkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok. Namun dalam kondisi tertentu, beberapa ulama dari mazhab ini juga membolehkan zakat fitrah dibayar uang jika dianggap lebih membawa maslahat bagi penerima zakat. Misalnya dalam kondisi masyarakat perkotaan di mana distribusi makanan pokok lebih rumit dibandingkan uang. Hikmah dan Tujuan Zakat Fitrah Untuk memahami apakah zakat fitrah dibayar uang dapat diterima dalam Islam, kita juga perlu melihat hikmah di balik kewajiban zakat fitrah. Beberapa tujuan zakat fitrah antara lain: 1. Membersihkan Jiwa Orang yang Berpuasa Zakat fitrah menjadi sarana penyucian diri dari kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan ibadah puasa. 2. Membantu Kaum Fakir Miskin Tujuan utama zakat fitrah adalah membantu kaum yang membutuhkan agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya. Dalam konteks ini, sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah dibayar uang justru dapat lebih membantu karena penerima dapat menggunakan uang tersebut untuk berbagai kebutuhan. 3. Menciptakan Kepedulian Sosial Zakat fitrah juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial antar sesama muslim. Dengan adanya zakat fitrah, kesenjangan ekonomi di masyarakat dapat sedikit berkurang, terutama menjelang Idulfitri. Praktik Zakat Fitrah Dibayar Uang di Indonesia Di Indonesia, praktik zakat fitrah dibayar uang semakin banyak dilakukan, terutama melalui lembaga zakat resmi. Lembaga zakat biasanya menentukan nilai zakat fitrah berdasarkan harga beras yang berlaku di wilayah tertentu. Nilai tersebut kemudian dibayarkan oleh muzakki dalam bentuk uang. Setelah terkumpul, dana zakat fitrah tersebut biasanya akan digunakan untuk membeli beras atau bahan makanan pokok yang kemudian disalurkan kepada mustahik. Cara ini dianggap sebagai solusi yang tetap menjaga prinsip syariat sekaligus memudahkan proses distribusi zakat. Waktu Membayar Zakat Fitrah Baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, waktu pembayarannya tetap mengikuti ketentuan syariat. Beberapa waktu penting dalam membayar zakat fitrah antara lain: Waktu wajib: Sejak terbenam matahari pada malam Idulfitri. Waktu sunnah: Setelah salat Subuh sebelum salat Idulfitri. Waktu boleh: Sejak awal bulan Ramadhan. Waktu makruh: Setelah salat Idulfitri. Waktu haram: Jika sengaja menunda hingga setelah hari raya tanpa alasan. Karena itu, umat Islam dianjurkan menunaikan zakat fitrah tepat waktu agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para penerima sebelum hari raya tiba. Cara Menentukan Nilai Zakat Fitrah Jika Dibayar dengan Uang Jika seseorang memilih zakat fitrah dibayar uang, maka nilai yang dibayarkan harus setara dengan harga makanan pokok yang menjadi standar zakat fitrah. Di Indonesia, biasanya nilai ini dihitung berdasarkan harga 2,5 hingga 3 kilogram beras. Misalnya jika harga beras Rp15.000 per kilogram, maka nilai zakat fitrah yang dibayarkan sekitar Rp37.500 hingga Rp45.000 per orang. Namun angka ini dapat berbeda-beda tergantung wilayah dan keputusan lembaga zakat setempat. Perdebatan mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dalam tradisi fikih Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah harus dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Namun ada pula ulama yang membolehkan zakat fitrah dibayar uang, terutama jika hal tersebut lebih bermanfaat bagi penerima zakat dan memudahkan proses distribusi. Di Indonesia sendiri, kedua praktik ini masih berjalan berdampingan. Banyak masyarakat yang tetap membayar zakat fitrah dengan beras, sementara sebagian lainnya memilih menunaikannya dalam bentuk uang melalui lembaga zakat resmi. Yang terpenting adalah memastikan bahwa zakat fitrah ditunaikan tepat waktu, sesuai ketentuan syariat, dan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak menerimanya. Dengan demikian, baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, tujuan utama zakat fitrah yaitu membantu fakir miskin dan menyempurnakan ibadah puasa tetap dapat tercapai. Setelah memahami ketentuan zakat fitrah, yang terpenting adalah memastikan kewajiban tersebut benar-benar tertunaikan sebelum Idul Fitri. Mari sempurnakan ibadah Ramadhan dengan menunaikan zakat fitrah melalui BAZNAS DIY ?????Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa YogyakartaNo: Kep.-013/MUI-DIY/I/2026 tentang Besaran Zakat Fitri, Zakat Mal, Fidyah, Pembayaran dan Penyalurannya,besaran zakat fitrah tahun ini adalah Rp45.000/jiwa.Tunaikan zakat fitrah Anda tepat waktu, agar suci diri dan berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui rekening:BSI 340-7799-736atau melalui link diy.baznas.go.id/bayarzakatTambahkan kode unik (013) dibelakang nominal transfer untuk zakat fitrah.???? Salurkan melalui BAZNAS DIY – Amanah, Transparan, dan Tepat Sasaran.
BERITA10/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Puasa merupakan salah satu ibadah wajib bagi umat Islam yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadan. Ibadah ini tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari berbagai hal yang dapat merusak atau bahkan membatalkan puasa. Banyak umat Muslim memahami bahwa makan dan minum adalah hal utama yang dapat membatalkan puasa, namun sebenarnya ada beberapa perkara lain yang juga dapat membatalkan ibadah tersebut. Memahami hal-hal yang dapat membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang dijalankan selama bulan Ramadan tetap sah dan bernilai pahala di sisi Allah SWT. Tidak sedikit umat Islam yang masih ragu atau bahkan belum mengetahui secara jelas apa saja yang termasuk dalam kategori membatalkan puasa selain makan dan minum. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami secara benar apa saja yang dapat membatalkan puasa menurut ajaran Islam. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai hal-hal yang dapat membatalkan puasa selain makan dan minum berdasarkan Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan para ulama. Pengertian Puasa dalam Islam Sebelum membahas lebih jauh tentang hal-hal yang membatalkan puasa, penting untuk memahami terlebih dahulu makna puasa itu sendiri. Secara bahasa, puasa berasal dari kata shaum yang berarti menahan diri. Sedangkan secara istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai dengan niat karena Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga sarana untuk meningkatkan ketakwaan. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu memahami dengan baik segala hal yang dapat membatalkan puasa agar ibadahnya tetap sempurna. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum Selain makan dan minum secara sengaja, ada beberapa perkara lain yang termasuk dalam kategori membatalkan puasa menurut syariat Islam. Berikut penjelasannya. 1. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Salah satu perkara yang jelas membatalkan puasa adalah melakukan hubungan suami istri pada siang hari di bulan Ramadan. Perbuatan ini tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga mewajibkan pelakunya untuk membayar kafarat yang berat. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa seseorang pernah datang kepada Rasulullah SAW dan mengaku telah berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadan. Rasulullah SAW kemudian memerintahkannya untuk membayar kafarat, yaitu memerdekakan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri pada siang hari Ramadan termasuk perbuatan serius yang membatalkan puasa. 2. Keluar Mani dengan Sengaja Keluar mani secara sengaja, baik melalui onani, rangsangan fisik, atau aktivitas lain yang disengaja juga termasuk perkara yang membatalkan puasa. Namun para ulama menjelaskan bahwa jika mani keluar karena mimpi basah saat tidur, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa, karena terjadi di luar kendali seseorang. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menjaga pandangan dan menghindari hal-hal yang dapat memicu syahwat selama menjalankan ibadah puasa. 3. Muntah dengan Sengaja Muntah juga dapat membatalkan puasa jika dilakukan dengan sengaja, misalnya dengan memasukkan jari ke dalam tenggorokan atau melakukan tindakan lain untuk memicu muntah. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha, tetapi barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib mengganti puasanya.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa muntah yang disengaja termasuk hal yang membatalkan puasa, sedangkan muntah yang terjadi tanpa disengaja tidak membatalkan puasa. 4. Haid dan Nifas Bagi perempuan Muslim, datangnya haid atau nifas juga termasuk perkara yang membatalkan puasa. Ketika seorang wanita mengalami haid atau nifas di siang hari Ramadan, maka puasanya otomatis batal dan wajib diganti di hari lain setelah Ramadan. Hal ini merupakan ketentuan syariat yang telah disepakati para ulama berdasarkan hadis Rasulullah SAW. Aisyah RA pernah berkata: “Kami dahulu mengalami haid pada masa Rasulullah SAW, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha salat.”(HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan bahwa haid merupakan salah satu kondisi yang membatalkan puasa bagi wanita Muslim. 5. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal, misalnya karena gila atau pingsan sepanjang hari, juga tidak dianggap menjalankan puasa. Dalam kondisi tersebut, puasanya dianggap batal karena syarat sah puasa adalah berakal. Walaupun kondisi ini tidak selalu disebut sebagai hal yang membatalkan puasa secara langsung, tetapi status puasanya tidak sah karena tidak memenuhi syarat ibadah. 6. Murtad (Keluar dari Islam) Hal paling berat yang dapat membatalkan puasa adalah murtad atau keluar dari agama Islam. Ketika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh ibadahnya termasuk puasa menjadi batal. Namun tentu saja hal ini merupakan perkara besar dalam akidah dan sangat dijauhi oleh umat Islam. Hal yang Tidak Membatalkan Puasa Tetapi Perlu Dihindari Selain hal-hal yang jelas membatalkan puasa, ada juga beberapa perbuatan yang tidak membatalkan puasa tetapi dapat mengurangi pahala puasa jika dilakukan, antara lain: Berkata kasar Bergosip atau menggunjing Berbohong Marah berlebihan Melihat hal-hal yang tidak pantas Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari) Hadis ini mengingatkan bahwa tujuan puasa bukan hanya menahan diri dari hal yang membatalkan puasa, tetapi juga menjaga akhlak dan perilaku. Hikmah Mengetahui Hal yang Membatalkan Puasa Mengetahui berbagai perkara yang dapat membatalkan puasa memiliki banyak hikmah bagi umat Islam. Beberapa di antaranya adalah: 1. Menjaga Kesempurnaan Ibadah Dengan memahami apa saja yang membatalkan puasa, seorang Muslim dapat lebih berhati-hati dalam menjalankan ibadah sehingga puasanya tetap sah. 2. Meningkatkan Ketakwaan Menjauhi segala hal yang membatalkan puasa membantu seseorang lebih disiplin dalam menjaga diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. 3. Menghindari Kesalahan yang Tidak Disadari Banyak orang mungkin tanpa sadar melakukan hal yang membatalkan puasa karena kurangnya pengetahuan. Dengan mempelajari hukum-hukum puasa, kesalahan tersebut dapat dihindari. Puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang sangat mulia dan penuh keberkahan. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami dengan baik berbagai perkara yang dapat membatalkan puasa, tidak hanya makan dan minum, tetapi juga hal-hal lain seperti berhubungan suami istri di siang hari, keluar mani dengan sengaja, muntah dengan sengaja, haid, nifas, hingga murtad. Dengan mengetahui secara jelas apa saja yang membatalkan puasa, umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih hati-hati dan penuh kesadaran. Hal ini tentu akan membantu menjaga kesempurnaan ibadah serta meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga dengan memahami berbagai perkara yang membatalkan puasa, kita semua dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih baik dan mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA10/03/2026 | admin
Tips Memburu Pahala Berlipat Ganda Melalui Sedekah Subuh di Sisa Ramadhan
Tips Memburu Pahala Berlipat Ganda Melalui Sedekah Subuh di Sisa Ramadhan
Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Di bulan penuh berkah ini, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Tidak heran jika banyak umat Islam berlomba-lomba melakukan berbagai ibadah untuk meraih keberkahan tersebut. Salah satu amalan yang semakin populer dan dianjurkan adalah berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh. Banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan pada waktu subuh memiliki keutamaan tersendiri. Dalam hadis disebutkan bahwa setiap pagi ada malaikat yang mendoakan orang-orang yang bersedekah. Oleh karena itu, menjelang berakhirnya bulan suci, momen ini menjadi kesempatan emas untuk semakin giat berburu pahala ramadhan melalui amalan sedekah subuh. Artikel ini akan membahas berbagai tips dan keutamaan sedekah subuh agar umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di sisa bulan Ramadhan. Keutamaan Berburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Salah satu cara terbaik dalam berburu pahala ramadhan adalah dengan memperbanyak sedekah. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa sedekah memiliki nilai yang sangat besar dalam Islam, terlebih ketika dilakukan di bulan penuh rahmat ini. Allah SWT juga menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa sedekah akan dilipatgandakan pahalanya. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 menyebutkan bahwa orang yang bersedekah di jalan Allah akan mendapatkan balasan seperti satu benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai memiliki seratus biji. Ayat tersebut menunjukkan betapa besar pahala yang dijanjikan Allah bagi orang yang gemar bersedekah. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah menjadi salah satu strategi penting dalam berburu pahala ramadhan. Keistimewaan Sedekah Subuh dalam Islam Sedekah subuh adalah sedekah yang dilakukan pada waktu subuh atau setelah melaksanakan salat subuh. Waktu ini dianggap sangat istimewa karena pada saat itulah malaikat turun untuk mendoakan manusia. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap pagi hari dua malaikat turun. Salah satu dari mereka berdoa: Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang bersedekah. Sedangkan yang lainnya berdoa: Ya Allah, binasakanlah harta orang yang menahan sedekah."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah subuh memiliki keutamaan yang luar biasa. Ketika seseorang bersedekah pada waktu subuh, malaikat akan mendoakan keberkahan bagi dirinya. Hal ini tentu menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk semakin giat berburu pahala ramadhan dengan memanfaatkan waktu subuh untuk bersedekah. Mengapa Sedekah Subuh Sangat Dianjurkan di Sisa Ramadhan? Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Hal ini karena pada periode tersebut terdapat malam yang sangat istimewa yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, melakukan sedekah subuh di sisa bulan Ramadhan dapat menjadi cara efektif untuk terus berburu pahala ramadhan. Beberapa alasan mengapa sedekah subuh sangat dianjurkan antara lain: Waktu yang penuh keberkahanWaktu subuh merupakan salah satu waktu yang diberkahi oleh Allah SWT. Banyak doa yang mudah dikabulkan pada waktu ini. Didukung doa malaikatMalaikat secara langsung mendoakan orang yang bersedekah setiap pagi. Meningkatkan keikhlasanSedekah di waktu subuh biasanya dilakukan dalam keadaan sepi dan tanpa diketahui banyak orang sehingga lebih menjaga keikhlasan. Menjadi pembuka pintu rezekiBanyak ulama menjelaskan bahwa sedekah dapat membuka pintu rezeki dan keberkahan hidup. Dengan berbagai keutamaan tersebut, sedekah subuh menjadi amalan yang sangat baik untuk dilakukan ketika sedang berburu pahala ramadhan. Tips Memburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Subuh Agar sedekah subuh dapat dilakukan secara konsisten hingga akhir Ramadhan, ada beberapa tips yang dapat diterapkan oleh umat Islam. 1. Niatkan untuk Berburu Pahala Ramadhan Langkah pertama adalah meluruskan niat. Setiap amalan dalam Islam sangat bergantung pada niatnya. Niatkan sedekah subuh semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT dan sebagai bentuk berburu pahala ramadhan. Dengan niat yang tulus, sedekah yang diberikan meskipun kecil akan bernilai besar di sisi Allah. 2. Sisihkan Rezeki Khusus untuk Sedekah Agar sedekah subuh bisa dilakukan secara rutin, sebaiknya sisihkan sebagian rezeki sejak awal Ramadhan. Misalnya dengan membuat anggaran khusus untuk sedekah harian. Cara ini akan membantu seseorang tetap konsisten dalam berburu pahala ramadhan tanpa merasa terbebani secara finansial. 3. Sedekah Tidak Harus Besar Banyak orang mengira bahwa sedekah harus dalam jumlah besar. Padahal dalam Islam, sedekah sekecil apa pun sangat bernilai jika dilakukan dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang dapat bersedekah bahkan dengan setengah butir kurma. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memulai berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh meskipun dengan nominal kecil. 4. Gunakan Platform Sedekah yang Terpercaya Di era digital saat ini, sedekah bisa dilakukan dengan sangat mudah melalui berbagai platform donasi atau lembaga zakat terpercaya. Dengan memanfaatkan teknologi, umat Islam tetap dapat berburu pahala ramadhan meskipun memiliki aktivitas yang padat. 5. Ajak Keluarga untuk Ikut Sedekah Subuh Mengajak keluarga untuk bersama-sama melakukan sedekah subuh dapat menjadi kebiasaan baik yang penuh berkah. Misalnya dengan menyediakan kotak sedekah di rumah yang diisi setelah salat subuh. Cara ini tidak hanya membantu berburu pahala ramadhan, tetapi juga mendidik anak-anak agar terbiasa berbagi sejak dini. 6. Sedekah dalam Bentuk Makanan Sahur atau Berbuka Selain uang, sedekah juga bisa diberikan dalam bentuk makanan. Memberikan makanan untuk sahur atau berbuka kepada orang yang membutuhkan merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Ini menjadi salah satu cara praktis dalam berburu pahala ramadhan di sisa hari bulan suci. Hikmah Berburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Ada banyak hikmah yang bisa dirasakan ketika seseorang rajin bersedekah, terutama di bulan Ramadhan. Pertama, sedekah dapat membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Kedua, sedekah mampu menumbuhkan rasa empati kepada sesama manusia. Ketiga, sedekah dapat menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup. Selain itu, sedekah juga memiliki dampak sosial yang sangat besar. Melalui sedekah, kita dapat membantu saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dengan demikian, semangat berburu pahala ramadhan tidak hanya memberikan manfaat spiritual bagi diri sendiri, tetapi juga membawa kebaikan bagi masyarakat luas. Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan. Salah satu cara terbaik untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini adalah dengan berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh. Sedekah subuh memiliki banyak keutamaan, mulai dari doa malaikat, keberkahan rezeki, hingga pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan sisa Ramadhan dengan memperbanyak sedekah, baik dalam bentuk uang, makanan, maupun bantuan lainnya. Semoga dengan semangat berburu pahala ramadhan, kita semua dapat meraih keberkahan, ampunan, dan ridha Allah SWT di bulan suci ini. Mengawali hari dengan tangan di atas adalah cara terbaik untuk mengundang datangnya rida Allah sepanjang hari. Jangan biarkan momentum fajar berlalu tanpa jejak kebaikan yang menetap di buku amal Anda. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA10/03/2026 | admin
BAZNAS DIY Salurkan Hidangan Berkah Ramadhan untuk Anak-anak Panti Asuhan
BAZNAS DIY Salurkan Hidangan Berkah Ramadhan untuk Anak-anak Panti Asuhan
Yogyakarta – Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan serta memperkuat kepedulian sosial kepada sesama, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyalurkan program Hidangan Berkah Ramadhan kepada anak-anak di sejumlah panti asuhan yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Hidangan Berkah Ramadhan merupakan salah satu kegiatan sosial BAZNAS DIY yang bertujuan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak panti asuhan melalui pemberian hidangan berbuka puasa. Melalui program ini, BAZNAS DIY menyalurkan paket hidangan berbuka kepada para penerima manfaat agar mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan penuh kebahagiaan. Pendistribusian hidangan dilakukan oleh tim BAZNAS DIY bersama relawan dengan mengunjungi langsung panti asuhan penerima manfaat. Selain sebagai bentuk penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat selama bulan Ramadhan. Program Hidangan Berkah Ramadhan ini dilaksanakan hampir setiap hari selama bulan suci Ramadhan. Hidangan yang didistribusikan merupakan amanah dari para donatur yang telah menitipkan infak, sedekah, maupun fidyah melalui BAZNAS DIY untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk anak-anak panti asuhan. Salah satu perwakilan BAZNAS DIY menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen BAZNAS dalam menyalurkan amanah para muzaki dan donatur kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. “Melalui program Hidangan Berkah Ramadhan ini, kami berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan kebahagiaan bagi anak-anak panti asuhan serta memperkuat semangat berbagi di tengah masyarakat. Bantuan ini juga merupakan amanah dari para donatur yang telah mempercayakan infak, sedekah, dan fidyahnya melalui BAZNAS DIY,” ujarnya. BAZNAS DIY berharap program Hidangan Berkah Ramadhan ini dapat memberikan manfaat serta menambah kebahagiaan bagi para penerima manfaat dalam menjalankan ibadah di bulan suci. Ke depan, BAZNAS DIY akan terus menghadirkan berbagai program sosial dan kemanusiaan agar manfaat zakat, infak, dan sedekah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta.
BERITA10/03/2026 | Admin
Berbagi Berkah Ramadhan, BAZNAS DIY dan PWI DIY Turun ke Jalan Bagikan Takjil
Berbagi Berkah Ramadhan, BAZNAS DIY dan PWI DIY Turun ke Jalan Bagikan Takjil
Yogyakarta – Dalam rangka mengisi keberkahan bulan suci Ramadhan 1447 H, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) DIY bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY menggelar aksi sosial berbagi takjil kepada para pengguna jalan. Kegiatan yang berlangsung pada Senin sore (9/3/2026) di depan Kantor PWI DIY, Jalan Gambiran 45, Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Aksi sosial tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Para pengendara yang melintas tampak antusias menerima paket takjil untuk berbuka puasa. Ketua PWI DIY, Hudono, mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada BAZNAS DIY atas terjalinnya sinergi dalam kegiatan sosial tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memiliki makna tersendiri karena untuk pertama kalinya para pengurus PWI DIY terlibat langsung dalam kegiatan berbagi di depan kantor organisasi mereka. “Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Momentum Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk berbagi dan mempererat kepedulian sosial. Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi kami berbagi langsung di depan kantor PWI DIY,” ujar Hudono. Ia menuturkan bahwa sebanyak 150 paket takjil yang disiapkan habis dibagikan dalam waktu singkat, bahkan kurang dari sepuluh menit. Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan. “Tak sampai sepuluh menit, semua paket sudah habis. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias. Kami berharap kerja sama antara PWI DIY dan BAZNAS DIY tidak berhenti di sini, tetapi dapat berlanjut pada kegiatan sosial lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya. Sementara itu, Wakil Ketua IV BAZNAS DIY Bidang SDM, Administrasi, dan Umum, H. Ahmad Lutfi SS., MA., menyampaikan bahwa besarnya antusiasme masyarakat menjadi catatan tersendiri bagi BAZNAS DIY untuk meningkatkan jumlah paket pada kegiatan serupa di masa mendatang. “Ternyata 150 paket masih kurang karena begitu banyak masyarakat yang membutuhkan. Ada beberapa yang belum kebagian. Hal ini menjadi evaluasi bagi kami agar ke depan jumlah paket yang disediakan bisa lebih banyak lagi,” jelas H. Ahmad Lutfi SS., MA.,. Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan berbagi takjil merupakan bagian dari program Ramadhan BAZNAS DIY yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun. Selain membagikan takjil di berbagai titik, BAZNAS DIY juga menyalurkan takjil ke sejumlah panti asuhan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. “Hingga saat ini, sekitar 2.000 paket takjil telah kami distribusikan ke berbagai panti asuhan di DIY. Program ini merupakan bentuk kepedulian kami agar adik-adik di panti juga dapat merasakan kebahagiaan berbuka puasa di bulan Ramadhan,” ujarnya. Selain program takjil, BAZNAS DIY juga menyalurkan bantuan “Ramadhan Bahagia” kepada hampir 2.000 pegawai honorer di wilayah DIY dengan nilai bantuan sekitar Rp200.000 per paket. “Ini adalah bagian dari amanah yang diberikan para muzaki kepada kami. Dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun kami salurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” kata H. Ahmad Lutfi SS., MA., Melalui kegiatan ini, BAZNAS DIY dan PWI DIY berharap kolaborasi antara lembaga zakat dan organisasi profesi wartawan dapat terus terjalin, sehingga semakin banyak kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas sekaligus menghadirkan keberkahan bagi para muzakki yang telah menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS DIY.
BERITA10/03/2026 | admin
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, kaum muslimin menjalankan ibadah puasa, meningkatkan amal ibadah, serta memperbanyak doa dan sedekah. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi hingga lupa untuk menilai kembali kualitas iman dan amalnya. Karena itu, hadirnya bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk merenung, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seorang muslim dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Makna Muhasabah dalam Islam Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata Arab hasaba – yuhasibu – muhasabah yang berarti menghitung atau mengevaluasi. Dalam konteks spiritual, muhasabah berarti proses introspeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan. Muhasabah merupakan ajaran penting dalam Islam. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”(HR. Tirmidzi) Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya selalu melakukan evaluasi diri agar dapat memperbaiki kesalahan sebelum datang hari perhitungan di akhirat. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi waktu yang sangat tepat untuk menilai kembali kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia. Mengapa Ramadhan Menjadi Waktu Terbaik untuk Muhasabah Diri? Ada beberapa alasan mengapa bulan suci ini sangat tepat dijadikan sebagai waktu refleksi spiritual. 1. Pintu Ampunan Allah Dibuka Lebar Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keadaan ini menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan besar untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan Salah satu keutamaan Ramadhan adalah dilipatgandakannya pahala amal kebaikan. Hal ini memotivasi umat Islam untuk meningkatkan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Dengan memanfaatkan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kualitas ibadahnya selama ini dan berusaha memperbaikinya. 3. Suasana Spiritual yang Lebih Kuat Ramadhan identik dengan berbagai aktivitas ibadah seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, hingga sedekah. Suasana spiritual ini membantu seseorang untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kondisi tersebut menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri yang sangat efektif untuk memperbaiki kualitas keimanan. Cara Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri Agar Ramadhan benar-benar menjadi waktu refleksi spiritual, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Mengevaluasi Ibadah yang Selama Ini Dilakukan Langkah pertama dalam menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri adalah mengevaluasi kualitas ibadah yang telah dilakukan selama ini. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan renungan antara lain: Apakah shalat lima waktu sudah dilakukan tepat waktu? Seberapa sering membaca Al-Qur’an? Apakah ibadah dilakukan dengan khusyuk atau hanya sekadar rutinitas? Dengan melakukan evaluasi tersebut, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. 2. Memperbanyak Taubat dan Istighfar Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak taubat dan istighfar. Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. An-Nur: 31) Dengan memperbanyak taubat, hati menjadi lebih bersih dan kehidupan spiritual pun semakin meningkat. 3. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam Ramadhan momentum muhasabah diri, penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti Menghindari konflik dan permusuhan Mempererat silaturahmi Membantu sesama yang membutuhkan Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. 4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebaikan Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, terutama ketika Ramadhan. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kepeduliannya terhadap sesama. Sedekah tidak selalu berupa uang. Amal kebaikan juga dapat dilakukan melalui: Memberi makanan berbuka puasa Membantu orang yang kesulitan Menyebarkan ilmu yang bermanfaat Memberikan senyuman dan kebaikan kepada orang lain 5. Memperbanyak Membaca dan Merenungi Al-Qur’an Ramadhan dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Dalam konteks Ramadhan momentum muhasabah diri, membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan ayat, tetapi juga memahami maknanya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat Muhasabah Diri di Bulan Ramadhan Menjadikan Ramadhan sebagai waktu introspeksi membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim. 1. Meningkatkan Kualitas Iman Muhasabah membantu seseorang untuk lebih sadar akan kesalahan yang pernah dilakukan. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. 2. Menumbuhkan Keikhlasan dalam Beribadah Ketika seseorang melakukan evaluasi diri, ia akan menyadari bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Hal ini membuat ibadah menjadi lebih ikhlas dan bermakna. 3. Membentuk Pribadi yang Lebih Baik Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada kehidupan sosial dan moral. Agar Semangat Muhasabah Tidak Berhenti Setelah Ramadhan Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Banyak orang yang rajin beribadah selama bulan suci, tetapi kembali lalai setelahnya. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya semangat sementara. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: Menjaga shalat tepat waktu Membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari Melanjutkan kebiasaan sedekah Menghindari perbuatan maksiat Dengan konsistensi tersebut, nilai-nilai Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Ramadhan momentum muhasabah diri merupakan waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk mengevaluasi amal perbuatan, memperbanyak taubat, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan melakukan muhasabah selama Ramadhan, seseorang dapat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Lebih dari itu, proses introspeksi ini membantu membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa. Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin. Jadikan Ramadhan momentum muhasabah diri untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat. Setelah kita menyelami kedalaman hati dan menyadari segala kekurangan diri, saatnya menyucikan jiwa serta harta yang kita miliki. Zakat bukan sekadar kewajiban melainkan instrumen pembersih harta agar keberkahan senantiasa mengalir dalam kehidupan kita. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, kaum muslimin menjalankan ibadah puasa, meningkatkan amal ibadah, serta memperbanyak doa dan sedekah. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi hingga lupa untuk menilai kembali kualitas iman dan amalnya. Karena itu, hadirnya bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk merenung, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seorang muslim dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Makna Muhasabah dalam Islam Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata Arab hasaba – yuhasibu – muhasabah yang berarti menghitung atau mengevaluasi. Dalam konteks spiritual, muhasabah berarti proses introspeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan. Muhasabah merupakan ajaran penting dalam Islam. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”(HR. Tirmidzi) Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya selalu melakukan evaluasi diri agar dapat memperbaiki kesalahan sebelum datang hari perhitungan di akhirat. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi waktu yang sangat tepat untuk menilai kembali kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia. Mengapa Ramadhan Menjadi Waktu Terbaik untuk Muhasabah Diri? Ada beberapa alasan mengapa bulan suci ini sangat tepat dijadikan sebagai waktu refleksi spiritual. 1. Pintu Ampunan Allah Dibuka Lebar Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keadaan ini menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan besar untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan Salah satu keutamaan Ramadhan adalah dilipatgandakannya pahala amal kebaikan. Hal ini memotivasi umat Islam untuk meningkatkan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Dengan memanfaatkan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kualitas ibadahnya selama ini dan berusaha memperbaikinya. 3. Suasana Spiritual yang Lebih Kuat Ramadhan identik dengan berbagai aktivitas ibadah seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, hingga sedekah. Suasana spiritual ini membantu seseorang untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kondisi tersebut menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri yang sangat efektif untuk memperbaiki kualitas keimanan. Cara Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri Agar Ramadhan benar-benar menjadi waktu refleksi spiritual, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Mengevaluasi Ibadah yang Selama Ini Dilakukan Langkah pertama dalam menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri adalah mengevaluasi kualitas ibadah yang telah dilakukan selama ini. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan renungan antara lain: Apakah shalat lima waktu sudah dilakukan tepat waktu? Seberapa sering membaca Al-Qur’an? Apakah ibadah dilakukan dengan khusyuk atau hanya sekadar rutinitas? Dengan melakukan evaluasi tersebut, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. 2. Memperbanyak Taubat dan Istighfar Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak taubat dan istighfar. Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. An-Nur: 31) Dengan memperbanyak taubat, hati menjadi lebih bersih dan kehidupan spiritual pun semakin meningkat. 3. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam Ramadhan momentum muhasabah diri, penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti Menghindari konflik dan permusuhan Mempererat silaturahmi Membantu sesama yang membutuhkan Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. 4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebaikan Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, terutama ketika Ramadhan. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kepeduliannya terhadap sesama. Sedekah tidak selalu berupa uang. Amal kebaikan juga dapat dilakukan melalui: Memberi makanan berbuka puasa Membantu orang yang kesulitan Menyebarkan ilmu yang bermanfaat Memberikan senyuman dan kebaikan kepada orang lain 5. Memperbanyak Membaca dan Merenungi Al-Qur’an Ramadhan dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Dalam konteks Ramadhan momentum muhasabah diri, membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan ayat, tetapi juga memahami maknanya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat Muhasabah Diri di Bulan Ramadhan Menjadikan Ramadhan sebagai waktu introspeksi membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim. 1. Meningkatkan Kualitas Iman Muhasabah membantu seseorang untuk lebih sadar akan kesalahan yang pernah dilakukan. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. 2. Menumbuhkan Keikhlasan dalam Beribadah Ketika seseorang melakukan evaluasi diri, ia akan menyadari bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Hal ini membuat ibadah menjadi lebih ikhlas dan bermakna. 3. Membentuk Pribadi yang Lebih Baik Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada kehidupan sosial dan moral. Agar Semangat Muhasabah Tidak Berhenti Setelah Ramadhan Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Banyak orang yang rajin beribadah selama bulan suci, tetapi kembali lalai setelahnya. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya semangat sementara. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: Menjaga shalat tepat waktu Membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari Melanjutkan kebiasaan sedekah Menghindari perbuatan maksiat Dengan konsistensi tersebut, nilai-nilai Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Ramadhan momentum muhasabah diri merupakan waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk mengevaluasi amal perbuatan, memperbanyak taubat, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan melakukan muhasabah selama Ramadhan, seseorang dapat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Lebih dari itu, proses introspeksi ini membantu membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa. Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin. Jadikan Ramadhan momentum muhasabah diri untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat. Setelah kita menyelami kedalaman hati dan menyadari segala kekurangan diri, saatnya menyucikan jiwa serta harta yang kita miliki. Zakat bukan sekadar kewajiban melainkan instrumen pembersih harta agar keberkahan senantiasa mengalir dalam kehidupan kita. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Zakat Kurangi Beban Pajak: Membaca Ulang PMK 114 Tahun 2025 Dalam Perspektif Kepatuhan dan Tata Kelola
Zakat Kurangi Beban Pajak: Membaca Ulang PMK 114 Tahun 2025 Dalam Perspektif Kepatuhan dan Tata Kelola
Di Indonesia, zakat dan pajak sering diposisikan dalam dua ruang yang berbeda: satu berbasis keyakinan, satu berbasis kewarganegaraan. Padahal secara regulatif, keduanya sudah lama dipertemukan dalam satu kerangka hukum. Terbitnya PMK Nomor 114 Tahun 2025 bukan sekadar pembaruan administratif, tetapi penegasan kembali bahwa zakat yang dibayarkan melalui lembaga resmi dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh). Fondasi Hukumnya Tidak Berdiri Sendiri Pengakuan zakat dalam sistem perpajakan Indonesia bertumpu pada beberapa regulasi penting, antara lain: Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) yang mengatur pengurang penghasilan bruto. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, yang menegaskan peran negara dalam tata kelola zakat. Peraturan teknis Kementerian Keuangan, termasuk PMK 114/2025, yang mengatur prosedur administratif dan pembuktiannya. Dari konstruksi hukum ini terlihat bahwa negara tidak memposisikan zakat sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kewajiban keagamaan yang diakui dalam sistem fiskal — dengan syarat tertentu. Apa yang Ditegaskan dalam PMK 114/2025? PMK 114/2025 memperjelas beberapa hal krusial: Zakat harus dibayarkan melalui lembaga resmi yang dibentuk atau disahkan pemerintah dan memiliki NPWP. Bukti pembayaran menjadi dokumen kunci dalam pelaporan SPT Tahunan. Pengakuan sebagai pengurang penghasilan bruto berlaku sepanjang tidak menciptakan rugi fiskal pada tahun pajak berjalan. Kesesuaian nominal dan periode pembayaran harus dapat ditelusuri secara administratif. Artinya, pengakuan zakat dalam pajak sangat bergantung pada kepatuhan prosedural, bukan hanya pada substansi pembayaran. Untuk menggambarkan dampaknya secara konkret, misalnya sebuah perusahaan memiliki penghasilan bruto Rp10 miliar dengan laba sebelum pajak Rp4 miliar. Jika perusahaan tersebut menunaikan zakat Rp100 juta melalui lembaga resmi, maka nilai tersebut dapat menjadi pengurang penghasilan bruto sebelum penghitungan PPh dilakukan. Dampaknya bukan langsung mengurangi pajak terutang, tetapi menurunkan basis pengenaan pajak. Dengan dasar pengenaan yang lebih rendah, kewajiban PPh pun ikut menyesuaikan secara proporsional. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa pengaruh zakat bersifat fiskal dan terukur, selama memenuhi ketentuan administratif. Mengapa Lembaga Resmi Menjadi Penting? Dalam konteks ini, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki posisi strategis. Sebagai lembaga yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan UU 23/2011, BAZNAS: Memiliki legalitas formal dan NPWP. Menerbitkan bukti setor zakat yang sah untuk kebutuhan perpajakan. Menjalankan tata kelola sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Diaudit serta diawasi sesuai mekanisme negara. Bagi wajib pajak individu maupun perusahaan, aspek ini menjadi pembeda antara zakat yang hanya bernilai spiritual dan zakat yang sekaligus memenuhi syarat fiskal. Dalam praktik kepatuhan, BAZNAS juga berfungsi sebagai gatekeeper administratif. Artinya, lembaga ini tidak hanya menerima dan menyalurkan zakat, tetapi memastikan setiap pembayaran terdokumentasi secara sah, teridentifikasi dengan jelas, serta memenuhi standar pelaporan perpajakan. Posisi ini menjadi krusial karena hanya zakat yang disalurkan melalui lembaga resmi yang dapat diakui sebagai pengurang penghasilan bruto. Dengan demikian, BAZNAS menjadi simpul yang menghubungkan kepatuhan syariah dan kepatuhan fiskal dalam satu sistem administrasi. Relevansi bagi Perusahaan Untuk perusahaan, isu zakat tidak lagi semata persoalan ibadah, tetapi juga bagian dari governance dan compliance, Beberapa implikasi strategisnya: Zakat perusahaan dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang terstruktur. Dokumentasi yang rapi membantu meminimalkan risiko koreksi fiskal. Penyaluran melalui lembaga resmi memastikan kepatuhan terhadap regulasi perpajakan. Dalam praktiknya, banyak perusahaan mulai melihat zakat sebagai elemen integral dari tata kelola keberlanjutan (sustainability governance), bukan sekadar kewajiban tahunan. Ke depan, penguatan sistem ini berpotensi diperluas melalui integrasi data antara lembaga pengelola zakat dan otoritas perpajakan (DJP). Integrasi tersebut dapat mempermudah verifikasi bukti setor zakat, meminimalkan kesalahan administrasi, serta meningkatkan transparansi dan kepatuhan prosedural. Dengan dukungan digitalisasi, pengakuan zakat dalam sistem pajak tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga didukung oleh sistem yang lebih efisien dan akuntabel. Harmonisasi Kewajiban Syariah dan Kewajiban Fiskal Zakat dan pajak sering dipahami sebagai dua kewajiban yang berdiri sendiri. Zakat dipandang sebagai kewajiban keagamaan, sementara pajak sebagai kewajiban kenegaraan. Namun dalam kerangka hukum Indonesia, keduanya tidak ditempatkan dalam posisi yang saling meniadakan, melainkan diatur agar dapat berjalan secara proporsional dan terintegrasi. PMK 114/2025 menegaskan bahwa zakat yang ditunaikan melalui lembaga resmi dapat diakui sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh). Artinya, zakat bukanlah pengurang pajak terutang secara langsung, melainkan mengurangi dasar pengenaan pajak sebelum kewajiban PPh dihitung. Beberapa prinsip yang perlu dipahami dalam kerangka harmonisasi ini antara lain: Zakat bukan pengurang pajak terutang, tetapi pengurang penghasilan bruto Efeknya mempengaruhi dasar penghitungan PPh. Validitasnya sangat ditentukan oleh ketepatan prosedur. Dengan pemahaman ini, zakat dan pajak tidak berada dalam posisi konflik, melainkan dalam sistem yang saling melengkapi. Secara etika publik, zakat berfungsi memperkuat redistribusi sosial dan pengentasan kemiskinan. Secara fiskal, pajak menopang pembiayaan pembangunan nasional. Keduanya berorientasi pada kemaslahatan, PMK 114/2025 dapat dibaca sebagai bentuk konsistensi negara dalam menjaga harmoni antara nilai keagamaan dan sistem administrasi modern. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Ingin Mudik Lebaran, Persiapkan Hal Penting Ini
Ingin Mudik Lebaran, Persiapkan Hal Penting Ini
Mudik Lebaran adalah tradisi yang sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan, momen Idulfitri menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Tidak heran jika jutaan umat Islam melakukan perjalanan mudik setiap tahun demi merayakan hari kemenangan bersama orang-orang tercinta. Namun, agar perjalanan berjalan lancar dan penuh berkah, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dengan baik. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan perjalanan, tetapi juga kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Oleh karena itu, memahami berbagai persiapan mudik lebaran sangat penting agar perjalanan menjadi aman, nyaman, dan tetap bernilai ibadah. Dalam Islam, perjalanan juga dianjurkan untuk dilakukan dengan perencanaan yang matang. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan umatnya untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan perjalanan jauh. Dengan perencanaan yang baik, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi momen silaturahmi yang membawa keberkahan. Niatkan Mudik Lebaran sebagai Ibadah dan Silaturahmi Salah satu persiapan mudik lebaran yang paling penting adalah meluruskan niat. Dalam Islam, setiap amal perbuatan sangat bergantung pada niat yang mendasarinya. Jika mudik dilakukan dengan niat untuk menyambung silaturahmi dan membahagiakan orang tua, maka perjalanan tersebut dapat bernilai ibadah. Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan fisik menuju kampung halaman. Lebih dari itu, mudik merupakan kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga yang mungkin jarang bertemu sepanjang tahun. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa menjaga silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim) Dengan niat yang baik, perjalanan mudik akan terasa lebih ringan dan penuh makna. Bahkan setiap langkah perjalanan dapat bernilai pahala jika diniatkan untuk kebaikan. Memastikan Kondisi Fisik Tetap Sehat Persiapan mudik lebaran juga harus mencakup kesiapan fisik. Perjalanan jauh sering kali menguras tenaga, apalagi jika dilakukan dalam kondisi berpuasa atau setelah menjalani aktivitas padat selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sebelum melakukan perjalanan sangat penting. Pastikan tubuh dalam kondisi prima agar perjalanan tidak terganggu oleh masalah kesehatan. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: Mengonsumsi makanan bergizi Istirahat yang cukup sebelum berangkat Membawa obat-obatan pribadi Memperhatikan waktu istirahat selama perjalanan Jika perjalanan dilakukan dengan kendaraan pribadi, sebaiknya pengemudi tidak memaksakan diri untuk terus mengemudi tanpa istirahat. Berhenti sejenak di rest area untuk meregangkan tubuh dan beristirahat dapat membantu menjaga konsentrasi saat berkendara. Dengan kondisi fisik yang sehat, perjalanan mudik akan terasa lebih nyaman dan aman. Menyiapkan Kendaraan atau Tiket Perjalanan Sejak Awal Hal lain yang tidak kalah penting dalam persiapan mudik lebaran adalah memastikan sarana transportasi telah dipersiapkan dengan baik. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, pemeriksaan kendaraan menjadi hal yang wajib dilakukan sebelum berangkat. Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain: Kondisi mesin kendaraan Tekanan ban dan cadangan ban Sistem pengereman Oli mesin Lampu kendaraan Jika menggunakan transportasi umum seperti kereta api, pesawat, atau bus, sebaiknya tiket sudah dipesan jauh-jauh hari. Menjelang Lebaran biasanya permintaan tiket meningkat drastis sehingga sulit mendapatkan tempat jika tidak memesan lebih awal. Perencanaan transportasi yang matang akan menghindarkan kita dari berbagai kendala yang dapat mengganggu perjalanan. Mengatur Keuangan untuk Perjalanan Mudik Persiapan mudik lebaran juga perlu mempertimbangkan aspek keuangan. Mudik biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari transportasi, konsumsi selama perjalanan, hingga kebutuhan selama berada di kampung halaman. Oleh karena itu, penting untuk membuat perencanaan anggaran agar pengeluaran tetap terkendali. Dengan perencanaan yang baik, perjalanan mudik dapat dilakukan tanpa menimbulkan beban finansial setelah kembali dari kampung halaman. Beberapa tips mengatur keuangan saat mudik antara lain: Menyusun anggaran perjalanan Menyediakan dana darurat Menghindari pengeluaran yang tidak perlu Membawa uang secukupnya Dalam Islam, mengelola keuangan dengan bijak merupakan bagian dari sikap hidup yang dianjurkan. Allah SWT melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”(QS. Al-Isra: 26) Dengan pengelolaan keuangan yang baik, perjalanan mudik dapat berjalan dengan lebih tenang. Membawa Perlengkapan Ibadah Selama Perjalanan Sebagai seorang muslim, ibadah tetap menjadi prioritas utama meskipun sedang melakukan perjalanan jauh. Oleh karena itu, persiapan mudik lebaran sebaiknya juga mencakup perlengkapan ibadah. Beberapa perlengkapan yang dapat dibawa antara lain: Mukena atau sarung Sajadah kecil Al-Qur’an atau aplikasi Al-Qur’an di ponsel Tasbih Dengan membawa perlengkapan ibadah, kita tetap dapat menjalankan salat tepat waktu meskipun sedang dalam perjalanan. Jika sulit menemukan tempat salat, banyak rest area yang kini telah menyediakan mushola untuk para pemudik. Perjalanan mudik juga bisa menjadi kesempatan untuk memperbanyak zikir dan doa agar perjalanan diberi keselamatan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa ketika melakukan perjalanan: “Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun.”(HR. Muslim) Membaca doa perjalanan menjadi bagian dari ikhtiar agar perjalanan mudik selalu berada dalam perlindungan Allah SWT. Menjaga Keselamatan dan Kesabaran di Jalan Mudik Lebaran sering kali identik dengan kemacetan panjang di berbagai jalur transportasi. Oleh karena itu, salah satu persiapan mudik lebaran yang penting adalah menyiapkan mental untuk tetap sabar selama perjalanan. Kemacetan, antrean panjang, atau perubahan jadwal transportasi bisa saja terjadi. Dalam kondisi seperti ini, kesabaran menjadi kunci agar perjalanan tetap nyaman dan tidak menimbulkan emosi yang berlebihan. Islam sangat menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, termasuk saat melakukan perjalanan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 153) Selain itu, keselamatan harus menjadi prioritas utama selama perjalanan. Jangan memaksakan diri jika merasa lelah, mengantuk, atau tidak fokus saat berkendara. Lebih baik berhenti sejenak untuk beristirahat daripada mengambil risiko yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Menjaga Adab dan Etika Selama Mudik Persiapan mudik lebaran tidak hanya berkaitan dengan hal teknis, tetapi juga berkaitan dengan adab dan etika selama perjalanan. Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk menjaga sikap baik kepada siapa pun. Selama perjalanan mudik, kita akan bertemu dengan banyak orang, mulai dari sesama pemudik hingga petugas transportasi. Menjaga sopan santun, tidak saling mendahului secara berbahaya, dan menghormati sesama pengguna jalan merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam. Mudik juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan sikap saling membantu. Misalnya membantu sesama pemudik yang membutuhkan pertolongan atau berbagi makanan di perjalanan. Perilaku seperti ini akan membuat perjalanan terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan. Mudik merupakan tradisi yang sangat berharga bagi umat Islam di Indonesia. Selain menjadi momen berkumpul bersama keluarga, mudik juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi yang dianjurkan dalam Islam. Agar perjalanan berjalan lancar, berbagai persiapan mudik lebaran perlu dilakukan dengan matang. Mulai dari meluruskan niat, menjaga kesehatan, menyiapkan transportasi, mengatur keuangan, hingga membawa perlengkapan ibadah selama perjalanan. Dengan persiapan yang baik, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi perjalanan penuh makna yang membawa keberkahan. Semoga setiap langkah perjalanan mudik kita selalu berada dalam perlindungan Allah SWT dan membawa kebahagiaan bagi keluarga di kampung halaman. Akhirnya, semoga setiap persiapan mudik lebaran yang dilakukan dapat membantu kita menjalani perjalanan dengan aman, nyaman, dan penuh keberkahan hingga kembali berkumpul dengan orang-orang tercinta pada hari yang fitri. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA05/03/2026 | admin
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang menjadi momen terbaik bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, adalah i'tikaf. Ibadah ini menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan lebih fokus, meninggalkan kesibukan dunia, serta memperbanyak ibadah di masjid. Banyak umat Islam yang ingin menjalankan i'tikaf namun belum memahami secara benar tata cara i'tikaf yang sesuai dengan tuntunan syariat. Padahal, memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, khusyuk, dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Melalui pemahaman yang benar mengenai tata cara i'tikaf, seorang muslim tidak hanya sekadar berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Artikel ini akan membahas secara lengkap tata cara i'tikaf agar tetap khusyuk dan memberikan manfaat spiritual yang maksimal. Pengertian I'tikaf dalam Islam Sebelum memahami tata cara i'tikaf, penting bagi umat Islam untuk mengetahui terlebih dahulu makna dari ibadah ini. Secara bahasa, i'tikaf berasal dari kata "‘akafa" yang berarti berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Dalam istilah syariat Islam, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT dalam waktu tertentu. Ibadah ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan memfokuskan hati hanya kepada-Nya. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga amalan i'tikaf. Dalam sebuah hadits disebutkan: "Rasulullah SAW selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa i'tikaf merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan karena pada malam-malam tersebut terdapat malam Lailatul Qadar. Waktu Pelaksanaan I'tikaf Dalam memahami tata cara i'tikaf, penting juga mengetahui waktu pelaksanaannya. I'tikaf sebenarnya dapat dilakukan kapan saja selama berada di masjid dengan niat ibadah. Namun waktu yang paling utama adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tujuannya adalah untuk mencari keberkahan malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa i'tikaf biasanya dimulai sejak sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan hingga akhir Ramadhan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa seseorang dapat memulai i'tikaf setelah melaksanakan shalat Subuh pada hari ke-21. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang paling penting adalah melaksanakan i'tikaf dengan niat yang ikhlas serta mengikuti tata cara i'tikaf sesuai dengan tuntunan syariat. Niat I'tikaf Salah satu bagian penting dalam tata cara i'tikaf adalah niat. Seperti halnya ibadah lainnya dalam Islam, i'tikaf harus diawali dengan niat karena Allah SWT. Niat tidak harus diucapkan secara lisan, namun cukup di dalam hati. Meski demikian, banyak ulama juga mengajarkan lafaz niat i'tikaf sebagai berikut: "Nawaitul i'tikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala." Artinya:"Aku berniat i'tikaf di masjid ini sebagai ibadah sunnah karena Allah Ta'ala." Dengan niat yang tulus, ibadah i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Tata Cara I'tikaf yang Benar Memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah ini tidak hanya menjadi aktivitas berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar menjadi momen spiritual yang mendalam. Berikut beberapa tata cara i'tikaf yang dapat dilakukan oleh umat Islam. 1. Dilakukan di Masjid Tata cara i'tikaf yang pertama adalah dilakukan di masjid. Para ulama sepakat bahwa i'tikaf harus dilakukan di masjid, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istri) sedang kamu beri'tikaf di dalam masjid."(QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menunjukkan bahwa tempat pelaksanaan i'tikaf adalah di masjid. Sebagian ulama juga menganjurkan agar i'tikaf dilakukan di masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah. 2. Memperbanyak Ibadah Tata cara i'tikaf berikutnya adalah memperbanyak ibadah selama berada di masjid. Tujuan utama i'tikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang dapat dilakukan selama i'tikaf antara lain: Membaca Al-Qur'an Melakukan shalat sunnah Berdzikir dan berdoa Mendengarkan kajian keislaman Muhasabah atau introspeksi diri Dengan memperbanyak ibadah, i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. 3. Menjaga Lisan dan Perilaku Dalam tata cara i'tikaf, menjaga lisan dan perilaku merupakan hal yang sangat penting. Orang yang sedang beri'tikaf dianjurkan untuk menjauhi perbuatan yang sia-sia seperti bercanda berlebihan, bergosip, atau melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat. I'tikaf seharusnya menjadi momen untuk menenangkan hati dan memperbanyak mengingat Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga adab selama berada di masjid menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah ini. 4. Fokus pada Ibadah Salah satu tujuan utama dari tata cara i'tikaf adalah membantu seorang muslim memusatkan perhatian pada ibadah. Oleh karena itu, selama i'tikaf sebaiknya mengurangi aktivitas yang berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya, mengurangi penggunaan ponsel untuk hal-hal yang tidak penting, tidak terlalu banyak berbincang, serta menghindari kegiatan yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Dengan fokus pada ibadah, i'tikaf akan memberikan ketenangan batin dan meningkatkan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. 5. Keluar dari Masjid Hanya untuk Keperluan Penting Dalam tata cara i'tikaf juga dijelaskan bahwa seseorang tidak dianjurkan keluar dari masjid kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Misalnya untuk makan, ke kamar mandi, atau hal mendesak lainnya. Hal ini dilakukan agar tujuan utama i'tikaf yaitu berdiam diri untuk beribadah kepada Allah tetap terjaga. Namun jika seseorang harus keluar dari masjid karena kebutuhan mendesak, maka hal tersebut tidak membatalkan i'tikaf selama masih dalam batas yang wajar. Amalan yang Dianjurkan Saat I'tikaf Agar tata cara i'tikaf dapat memberikan manfaat maksimal, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan selama menjalankannya. Pertama adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sehingga membaca dan mentadabburi ayat-ayatnya menjadi ibadah yang sangat utama. Kedua adalah memperbanyak doa. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa terutama doa memohon ampunan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan doa yang dibaca saat mencari malam Lailatul Qadar: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni." Artinya:"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku." Ketiga adalah memperbanyak dzikir dan istighfar. Dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, hati akan menjadi lebih tenang dan ibadah terasa lebih khusyuk. Hikmah Melaksanakan I'tikaf Melaksanakan tata cara i'tikaf dengan benar memberikan banyak hikmah bagi kehidupan seorang muslim. Pertama, i'tikaf membantu seseorang untuk lebih fokus dalam beribadah. Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, i'tikaf menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Kedua, i'tikaf melatih kesabaran dan pengendalian diri. Dengan berdiam diri di masjid, seorang muslim belajar mengendalikan hawa nafsu dan lebih disiplin dalam beribadah. Ketiga, i'tikaf menjadi sarana untuk membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dalam suasana masjid yang tenang, seorang muslim dapat merenungkan kehidupannya dan memperbaiki niat serta amal perbuatannya. Keempat, i'tikaf memberikan peluang besar untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan. Memahami tata cara i'tikaf merupakan langkah penting agar ibadah ini dapat dilakukan dengan benar dan penuh kekhusyukan. I'tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, tetapi merupakan bentuk ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amalan, serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dengan menjalankan tata cara i'tikaf sesuai tuntunan Rasulullah SAW, seorang muslim dapat memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan. Di saat banyak orang sibuk dengan urusan dunia, i'tikaf mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah, memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Semoga dengan memahami tata cara i'tikaf dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan, Allah SWT memberikan keberkahan dalam setiap ibadah yang kita lakukan serta mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. I’tikaf adalah waktu terbaik untuk memutus hiruk-pikuk dunia dan fokus pada Sang Pencipta. Namun, jangan lupakan hak kaum miskin dalam harta kita. Kini, Anda bisa tetap menjaga kekhusyukan di dalam masjid sambil tetap menunaikan kedermawanan secara praktis. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA05/03/2026 | admin
Ketentuan Imsak dan Subuh: Mana yang Jadi Batas Akhir Sahur
Ketentuan Imsak dan Subuh: Mana yang Jadi Batas Akhir Sahur
Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan ini, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, dalam praktik sehari-hari, sering muncul pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai ketentuan imsak dan subuh. Banyak orang masih bertanya-tanya, apakah imsak merupakan batas akhir makan sahur, atau justru waktu subuh yang menjadi penentu dimulainya puasa. Memahami ketentuan imsak dan subuh menjadi penting agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan benar sesuai tuntunan syariat. Kesalahpahaman mengenai dua waktu ini dapat membuat seseorang berhenti makan terlalu cepat atau bahkan masih makan ketika puasa sebenarnya sudah dimulai. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui perbedaan antara imsak dan subuh serta mana yang sebenarnya menjadi batas akhir sahur. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai ketentuan imsak dan subuh, dasar hukumnya dalam Islam, serta bagaimana umat Muslim sebaiknya menyikapi waktu imsak ketika menjalankan ibadah puasa. Pengertian Imsak dalam Tradisi Puasa Dalam praktik ibadah puasa di Indonesia, istilah imsak sudah sangat akrab didengar, terutama saat bulan Ramadan. Biasanya waktu imsak tercantum dalam jadwal imsakiyah yang dibagikan oleh masjid, lembaga Islam, maupun instansi pemerintah. Secara bahasa, imsak berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan atau berhenti. Dalam konteks puasa, imsak dipahami sebagai waktu untuk mulai menahan diri dari makan dan minum sebelum masuknya waktu subuh. Namun, dalam kajian fikih, imsak sebenarnya bukanlah waktu yang menentukan dimulainya puasa. Ketentuan imsak dan subuh dalam Islam menegaskan bahwa puasa dimulai ketika fajar telah terbit, yaitu ketika waktu subuh masuk. Imsak lebih berfungsi sebagai pengingat atau kehati-hatian agar seseorang dapat menyelesaikan sahurnya sebelum waktu subuh tiba. Biasanya, waktu imsak dibuat sekitar 10 menit sebelum azan subuh untuk memberikan jeda bagi umat Islam agar bersiap memulai puasa. Dengan demikian, dalam ketentuan imsak dan subuh, imsak bukanlah batas akhir yang mengharamkan makan dan minum, melainkan hanya sebagai tanda peringatan agar umat Islam berhenti makan sebelum waktu subuh benar-benar datang. Waktu Subuh sebagai Batas Dimulainya Puasa Dalam ajaran Islam, batas dimulainya puasa sudah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187: “Dan makan serta minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai datang malam.” Ayat tersebut menjadi dasar utama dalam memahami ketentuan imsak dan subuh. Yang dimaksud dengan benang putih adalah cahaya fajar yang menandakan masuknya waktu subuh. Ketika fajar telah terbit, maka saat itulah puasa dimulai dan umat Islam wajib menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa. Para ulama sepakat bahwa waktu subuh adalah batas akhir sahur. Artinya, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum hingga sebelum masuknya waktu subuh. Oleh karena itu, jika seseorang masih makan beberapa menit sebelum azan subuh berkumandang, maka puasanya tetap sah. Namun jika ia masih makan setelah waktu subuh masuk, maka puasanya bisa menjadi batal karena telah melewati batas yang ditetapkan dalam syariat. Pemahaman ini menegaskan kembali bahwa dalam ketentuan imsak dan subuh, yang menjadi batas dimulainya puasa adalah waktu subuh, bukan waktu imsak. Mengapa Ada Waktu Imsak dalam Jadwal Puasa? Sebagian orang mungkin bertanya, jika waktu subuh adalah batas akhir sahur, mengapa dalam jadwal Ramadan selalu terdapat waktu imsak? Jawabannya berkaitan dengan prinsip kehati-hatian dalam beribadah. Waktu imsak dibuat sebagai pengingat agar umat Islam memiliki waktu untuk menyelesaikan sahur sebelum azan subuh tiba. Pada masa Rasulullah SAW, tidak ada istilah imsak sebagaimana yang dikenal sekarang. Dalam hadis disebutkan bahwa terdapat jeda waktu antara sahur Nabi dan azan subuh. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa jarak antara sahur Rasulullah SAW dan azan subuh kira-kira seukuran membaca lima puluh ayat Al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi tidak menunda sahur hingga detik terakhir, tetapi tetap memberikan jarak sebelum masuknya waktu subuh. Tradisi menetapkan waktu imsak dalam jadwal puasa di Indonesia bertujuan untuk membantu umat Islam mengikuti sunnah tersebut. Dengan adanya waktu imsak, umat Islam diingatkan untuk segera menyelesaikan makan sahur agar tidak melewati waktu subuh. Dalam konteks ini, ketentuan imsak dan subuh tetap menegaskan bahwa imsak hanyalah pengingat, bukan penentu dimulainya puasa. Keutamaan Mengakhirkan Sahur Dalam ajaran Islam, sahur memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur meskipun hanya dengan seteguk air. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa sahur mengandung keberkahan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sahur dan tidak meninggalkannya. Selain itu, Nabi juga menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, yakni mendekati waktu subuh. Hal ini menunjukkan bahwa makan sahur sebaiknya tidak dilakukan terlalu awal di malam hari. Dalam praktiknya, memahami ketentuan imsak dan subuh membantu umat Islam menjalankan sunnah ini dengan benar. Dengan mengetahui bahwa batas akhir sahur adalah waktu subuh, seseorang dapat memanfaatkan waktu sahur dengan lebih baik tanpa merasa khawatir berlebihan terhadap waktu imsak. Namun demikian, tetap dianjurkan untuk berhenti makan beberapa menit sebelum subuh sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW. Sikap Bijak Menghadapi Waktu Imsak Di masyarakat, sering terjadi perbedaan pemahaman mengenai waktu imsak. Sebagian orang langsung berhenti makan ketika waktu imsak tiba karena khawatir puasanya tidak sah jika masih makan setelahnya. Sikap tersebut sebenarnya tidak salah, karena berhenti makan lebih awal merupakan bentuk kehati-hatian dalam beribadah. Namun penting untuk dipahami bahwa secara syariat, ketentuan imsak dan subuh tidak menjadikan imsak sebagai batas haram makan. Selama waktu subuh belum masuk, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum. Hal ini juga sejalan dengan pendapat banyak ulama yang menjelaskan bahwa batas sahur adalah terbitnya fajar. Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan untuk tidak menunda sahur hingga terlalu mepet dengan azan subuh. Hal ini untuk menghindari kemungkinan keliru dalam menentukan waktu atau keterlambatan dalam menghentikan makan. Sikap yang bijak adalah menjadikan imsak sebagai pengingat untuk segera menyelesaikan sahur, sekaligus memastikan bahwa seseorang sudah siap memasuki waktu puasa dengan tenang. Pentingnya Memahami Ketentuan Imsak dan Subuh Pemahaman yang benar mengenai ketentuan imsak dan subuh sangat penting agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan tepat. Kesalahan dalam memahami waktu ini dapat menyebabkan kebingungan bahkan kesalahan dalam menjalankan puasa. Dalam Islam, batas dimulainya puasa sudah sangat jelas, yaitu ketika waktu subuh telah masuk dan fajar telah terbit. Oleh karena itu, waktu subuh menjadi batas akhir sahur yang sebenarnya. Sementara itu, waktu imsak hanyalah pengingat agar umat Islam memiliki waktu untuk menyelesaikan sahur sebelum subuh tiba. Kehadiran waktu imsak dalam jadwal puasa bertujuan membantu umat Islam agar lebih disiplin dan berhati-hati dalam menjalankan ibadah. Dengan memahami ketentuan imsak dan subuh secara benar, umat Islam dapat menjalankan puasa Ramadan dengan lebih tenang, tanpa keraguan mengenai sah atau tidaknya ibadah yang dilakukan. Pada akhirnya, yang terpenting dalam menjalankan puasa bukan hanya soal waktu sahur, tetapi juga menjaga niat, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam ajaran Islam, ketentuan imsak dan subuh memiliki peran yang berbeda dalam pelaksanaan ibadah puasa. Waktu subuh merupakan batas resmi dimulainya puasa dan menjadi batas akhir sahur sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Sementara itu, waktu imsak hanyalah pengingat yang dibuat untuk membantu umat Islam bersiap menghentikan makan dan minum sebelum subuh tiba. Imsak bukanlah waktu yang mengharamkan makan, melainkan sekadar tanda kehati-hatian. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu merasa khawatir jika masih makan sebelum waktu subuh meskipun sudah melewati waktu imsak. Selama subuh belum masuk, sahur masih diperbolehkan. Memahami ketentuan imsak dan subuh secara benar akan membantu umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan lebih yakin, tenang, dan sesuai dengan tuntunan syariat.
BERITA04/03/2026 | admin
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan terbesar dalam bulan suci ini adalah hadirnya malam lailatur qadar, sebuah malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim karena di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperoleh pahala berlipat ganda serta ampunan dari Allah SWT. Malam lailatur qadar bukan sekadar malam biasa dalam kalender Islam. Ia merupakan malam penuh kemuliaan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan harapan dapat bertemu dengan malam yang sangat mulia ini. Makna dan Pengertian Malam Lailatur Qadar Secara bahasa, kata “lailatur qadar” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata: lailah yang berarti malam dan qadar yang memiliki makna kemuliaan, ketetapan, atau takdir. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir. Dalam pandangan Islam, malam lailatur qadar adalah malam ketika Allah SWT menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Pada malam ini pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatur qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatur qadar itu? Malam lailatur qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam lailatur qadar memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Keutamaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Keistimewaan malam lailatur qadar membuatnya menjadi salah satu waktu yang paling berharga bagi umat Islam. Ada beberapa keutamaan yang menjadikan malam ini sangat istimewa di bulan Ramadhan. Lebih Baik dari Seribu Bulan Salah satu keutamaan terbesar malam lailatur qadar adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan tanpa adanya malam tersebut. Artinya, seorang muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada malam ini dapat memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Turunnya Malaikat ke Bumi Dalam Surah Al-Qadr ayat keempat disebutkan bahwa para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi pada malam lailatur qadar dengan membawa berbagai kebaikan dan keberkahan. Turunnya para malaikat ini menandakan betapa agung dan mulianya malam tersebut. Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, serta doa bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Malam Penuh Ampunan Keutamaan lain dari malam lailatur qadar adalah adanya peluang besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatur qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa malam lailatur qadar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan penuh keimanan. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Malam lailatur qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadi. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah malam lailatur qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadis lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam lailatur qadar adalah agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya pada satu malam saja. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sejak awal sepuluh malam terakhir, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Walaupun waktu pasti malam lailatur qadar tidak diketahui, beberapa hadis menyebutkan tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh umat Islam. Beberapa tanda tersebut antara lain: Malam terasa tenang dan penuh kedamaian Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin Suasana malam terasa lebih tenteram dibanding malam lainnya Matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan Namun demikian, tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Oleh karena itu, umat Islam tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Agar dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Shalat Malam Shalat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam lailatur qadar. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalat malam dapat dilakukan dalam bentuk shalat tahajud, shalat witir, maupun shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an Karena malam lailatur qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT. Memperbanyak Doa Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari malam lailatur qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam lailatur qadar karena mengandung permohonan ampunan kepada Allah SWT. I’tikaf di Masjid Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Dengan melakukan i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan menghindari gangguan dari aktivitas duniawi. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Tidak diketahui secara pasti kapan malam lailatur qadar terjadi. Hal ini merupakan hikmah besar dari Allah SWT agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu. Dengan dirahasiakannya waktu malam lailatur qadar, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini membuat kualitas ibadah menjadi lebih konsisten dan penuh kesungguhan. Selain itu, dirahasiakannya malam lailatur qadar juga mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya karena mencari satu malam tertentu, tetapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sepanjang waktu. Pentingnya Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada masa inilah peluang untuk bertemu dengan malam lailatur qadar sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Mengurangi aktivitas yang tidak penting, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT menjadi langkah penting dalam meraih keberkahan malam tersebut. Semakin bersungguh-sungguh seseorang dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semakin besar pula peluangnya untuk mendapatkan keutamaan malam lailatur qadar. Malam lailatur qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Keistimewaan malam ini terletak pada pahala ibadah yang jauh lebih baik daripada seribu bulan, turunnya para malaikat, serta terbukanya pintu ampunan bagi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, setiap muslim seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah, diharapkan kita dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu dengan malam lailatur qadar dan meraih keutamaannya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan terbesar dalam bulan suci ini adalah hadirnya malam lailatur qadar, sebuah malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim karena di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperoleh pahala berlipat ganda serta ampunan dari Allah SWT. Malam lailatur qadar bukan sekadar malam biasa dalam kalender Islam. Ia merupakan malam penuh kemuliaan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan harapan dapat bertemu dengan malam yang sangat mulia ini. Makna dan Pengertian Malam Lailatur Qadar Secara bahasa, kata “lailatur qadar” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata: lailah yang berarti malam dan qadar yang memiliki makna kemuliaan, ketetapan, atau takdir. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir. Dalam pandangan Islam, malam lailatur qadar adalah malam ketika Allah SWT menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Pada malam ini pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatur qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatur qadar itu? Malam lailatur qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam lailatur qadar memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Keutamaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Keistimewaan malam lailatur qadar membuatnya menjadi salah satu waktu yang paling berharga bagi umat Islam. Ada beberapa keutamaan yang menjadikan malam ini sangat istimewa di bulan Ramadhan. Lebih Baik dari Seribu Bulan Salah satu keutamaan terbesar malam lailatur qadar adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan tanpa adanya malam tersebut. Artinya, seorang muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada malam ini dapat memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Turunnya Malaikat ke Bumi Dalam Surah Al-Qadr ayat keempat disebutkan bahwa para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi pada malam lailatur qadar dengan membawa berbagai kebaikan dan keberkahan. Turunnya para malaikat ini menandakan betapa agung dan mulianya malam tersebut. Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, serta doa bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Malam Penuh Ampunan Keutamaan lain dari malam lailatur qadar adalah adanya peluang besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatur qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa malam lailatur qadar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan penuh keimanan. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Malam lailatur qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadi. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah malam lailatur qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadis lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam lailatur qadar adalah agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya pada satu malam saja. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sejak awal sepuluh malam terakhir, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Walaupun waktu pasti malam lailatur qadar tidak diketahui, beberapa hadis menyebutkan tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh umat Islam. Beberapa tanda tersebut antara lain: Malam terasa tenang dan penuh kedamaian Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin Suasana malam terasa lebih tenteram dibanding malam lainnya Matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan Namun demikian, tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Oleh karena itu, umat Islam tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Agar dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Shalat Malam Shalat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam lailatur qadar. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalat malam dapat dilakukan dalam bentuk shalat tahajud, shalat witir, maupun shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an Karena malam lailatur qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT. Memperbanyak Doa Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari malam lailatur qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam lailatur qadar karena mengandung permohonan ampunan kepada Allah SWT. I’tikaf di Masjid Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Dengan melakukan i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan menghindari gangguan dari aktivitas duniawi. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Tidak diketahui secara pasti kapan malam lailatur qadar terjadi. Hal ini merupakan hikmah besar dari Allah SWT agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu. Dengan dirahasiakannya waktu malam lailatur qadar, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini membuat kualitas ibadah menjadi lebih konsisten dan penuh kesungguhan. Selain itu, dirahasiakannya malam lailatur qadar juga mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya karena mencari satu malam tertentu, tetapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sepanjang waktu. Pentingnya Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada masa inilah peluang untuk bertemu dengan malam lailatur qadar sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Mengurangi aktivitas yang tidak penting, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT menjadi langkah penting dalam meraih keberkahan malam tersebut. Semakin bersungguh-sungguh seseorang dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semakin besar pula peluangnya untuk mendapatkan keutamaan malam lailatur qadar. Malam lailatur qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Keistimewaan malam ini terletak pada pahala ibadah yang jauh lebih baik daripada seribu bulan, turunnya para malaikat, serta terbukanya pintu ampunan bagi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, setiap muslim seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah, diharapkan kita dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu dengan malam lailatur qadar dan meraih keutamaannya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →