WhatsApp Icon
BAZNAS DIY Jadi Tujuan Studi Tiru BAZNAS Provinsi Sumatera Barat

Yogyakarta — BAZNAS Provinsi Sumatera Barat melakukan kunjungan studi tiru ke BAZNAS DIY pada Rabu, 13 Mei 2026 bertempat di Kantor BAZNAS DIY. Kunjungan ini disambut langsung oleh Ketua BAZNAS DIY, Dra. Hj. Puji Astuti, M.Si., bersama jajaran pimpinan dan pelaksana.

Kegiatan studi tiru ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus berbagi pengalaman terkait pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, serta penguatan program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan masing-masing daerah.

Dalam sambutannya, Ketua BAZNAS DIY menyampaikan apresiasi atas kunjungan dari BAZNAS Provinsi Sumatera Barat. Ia berharap pertemuan ini dapat mempererat sinergi antarlembaga BAZNAS di tingkat provinsi dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta pengelolaan zakat yang profesional, amanah, dan berdampak.

“Semoga melalui studi tiru ini dapat menjadi sarana bertukar gagasan dan pengalaman untuk bersama-sama menguatkan peran BAZNAS dalam menyejahterakan umat,” ujar Dra. Hj. Puji Astuti, M.Si.

Sementara itu, rombongan BAZNAS Provinsi Sumatera Barat menyampaikan ketertarikan terhadap berbagai program unggulan dan tata kelola yang diterapkan di BAZNAS DIY, khususnya dalam bidang pendistribusian, pemberdayaan ekonomi umat, serta penguatan layanan kepada muzaki dan mustahik.

 

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban dengan sesi diskusi, pemaparan program, serta tukar pengalaman antarkedua lembaga. Diharapkan hasil dari studi tiru ini dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan program dan penguatan kelembagaan BAZNAS di masing-masing daerah.

13/05/2026 | Kontributor: admin
BAZNAS DIY Terima Audiensi Lazis UNISIA Bahas Pengelolaan UPZ UII

 

Yogyakarta — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) DIY menerima audiensi dari Lazis UNISIA dalam rangka membahas pengelolaan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Universitas Islam Indonesia (UII). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat BAZNAS DIY Lt. 2 dan dihadiri oleh perwakilan pimpinan serta pelaksana dari kedua lembaga.

Audiensi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di lingkungan perguruan tinggi, khususnya melalui optimalisasi peran UPZ UII. Dalam pertemuan tersebut, berbagai hal dibahas mulai dari tata kelola kelembagaan, penguatan penghimpunan, hingga strategi pendistribusian dan pelaporan dana zakat yang akuntabel dan profesional.

Perwakilan BAZNAS DIY menyampaikan pentingnya kolaborasi antar lembaga zakat dalam membangun ekosistem pengelolaan zakat yang semakin baik dan berdampak bagi masyarakat. Melalui penguatan UPZ di lingkungan kampus, diharapkan kesadaran berzakat di kalangan civitas akademika semakin meningkat.

Sementara itu, pihak Lazis UNISIA menyampaikan apresiasi atas sambutan dan masukan yang diberikan BAZNAS DIY. Audiensi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mempererat kerja sama serta meningkatkan efektivitas pengelolaan UPZ UII ke depan.

 

Kegiatan berlangsung dengan hangat dan penuh semangat kolaborasi demi mendukung penguatan tata kelola zakat yang amanah, transparan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

12/05/2026 | Kontributor: admin
BAZNAS DIY Salurkan Lebih dari 600 Paket Hidangan Fidyah ke Panti Asuhan di DIY

 

Yogyakarta — BAZNAS DIY kembali menyalurkan fidyah kepada sejumlah panti asuhan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kegiatan kali ini, lebih dari 600 paket hidangan fidyah disalurkan kepada anak-anak yatim dan dhuafa sebagai bentuk kepedulian serta amanah dari para muzaki.

Penyaluran fidyah dilakukan secara bertahap ke beberapa panti asuhan di DIY agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata. Paket hidangan yang diberikan diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan konsumsi harian anak-anak panti sekaligus menghadirkan kebahagiaan dan keberkahan bagi para penerima manfaat.

BAZNAS DIY menyampaikan bahwa program penyaluran fidyah ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan manfaat yang luas bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya anak-anak yatim dan dhuafa di berbagai wilayah DIY.

“Terima kasih kepada para muzaki yang telah menunaikan fidyah melalui BAZNAS DIY. Semoga menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT dan membawa keberkahan bagi semua,” ujar perwakilan BAZNAS DIY.

 

Melalui program ini, BAZNAS DIY terus mengajak masyarakat untuk menyalurkan zakat, infak, sedekah, dan fidyah melalui lembaga resmi agar penyalurannya lebih amanah, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat yang membutuhkan.

11/05/2026 | Kontributor: admin
Semesta Berpesta Ramai, Mushola Portabel BAZNAS DIY Tak Pernah Sepi

Yogyakarta — Kehadiran mushola portabel milik BAZNAS DIY di kawasan Stadion Kridosono menjadi perhatian sekaligus memberikan manfaat besar bagi para pengunjung dalam acara Semesta Berpesta. Sejak acara berlangsung, mushola portabel tersebut ramai dikunjungi masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah dengan nyaman di tengah kemeriahan kegiatan.

Mushola portabel ini disediakan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat agar tetap mudah menunaikan ibadah di sela-sela aktivitas dan hiburan yang berlangsung. Dengan fasilitas yang praktis, bersih, dan nyaman, para pengunjung mengaku sangat terbantu dengan hadirnya fasilitas ibadah tersebut.

Selain menjadi tempat beribadah, keberadaan mushola portabel juga menjadi wujud komitmen BAZNAS DIY dalam menghadirkan pelayanan sosial dan kemaslahatan umat di berbagai kegiatan masyarakat.

Antusiasme pengunjung terlihat dari silih bergantinya masyarakat yang datang untuk menunaikan salat maupun beristirahat sejenak di area mushola. Banyak pengunjung memberikan apresiasi atas inisiatif ini karena dinilai sangat membantu, terutama di tengah padatnya agenda acara.

 

Melalui kehadiran mushola portabel ini, BAZNAS DIY berharap dapat terus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus mengajak seluruh pihak untuk senantiasa menjaga ibadah di mana pun berada.

11/05/2026 | Kontributor: admin
BAZNAS DIY dan BTB DIY Berpartisipasi Aktif dalam Pameran Kebencanaan FPRB DIY di UMY

 

BAZNAS DIY bersama BAZNAS Tanggap Bencana DIY turut berpartisipasi dalam kegiatan Pameran Kebencanaan FPRB DIY yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan IABI Riset Kebencanaan ke-9.

Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan edukasi, kesiapsiagaan, serta penguatan sinergi penanggulangan bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran BAZNAS DIY dan BTB DIY merupakan bentuk komitmen dalam mendukung upaya mitigasi dan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, BAZNAS DIY dan BTB DIY melaksanakan berbagai giat pelayanan, di antaranya mengikuti pembukaan pameran kebencanaan, menghadiri pertemuan ilmiah tahunan, berpartisipasi dalam kegiatan donor darah, memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada pengunjung, membagikan souvenir, serta menghadirkan layanan dapur air bagi peserta dan masyarakat yang hadir.

 

Melalui kegiatan ini, BAZNAS DIY berharap dapat memperluas edukasi kebencanaan kepada masyarakat sekaligus mempererat sinergi antar lembaga dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana. Semangat kolaborasi dan kepedulian menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan kemanusiaan yang cepat, tanggap, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

07/05/2026 | Kontributor: admin

Berita Terbaru

Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
Menjelang akhir bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia bersiap menunaikan kewajiban zakat fitrah. Zakat ini menjadi penyempurna ibadah puasa sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada fakir miskin agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di hari raya Idulfitri. Namun di tengah perkembangan zaman dan perubahan sistem ekonomi masyarakat, muncul pertanyaan yang sering dibahas: apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan dalam Islam? Sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi membayar zakat fitrah dengan bahan makanan pokok seperti beras atau gandum. Namun di sisi lain, banyak pula yang memilih menunaikan zakat fitrah dengan uang karena dianggap lebih praktis dan memudahkan penerima zakat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam memahami hukum dan penjelasan ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang agar pelaksanaan ibadah ini tetap sesuai dengan syariat. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang hukum zakat fitrah dibayar uang, pandangan para ulama, dalil yang digunakan, serta bagaimana praktiknya di masyarakat saat ini. Pengertian Zakat Fitrah Sebelum membahas apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang mampu pada bulan Ramadhan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk membersihkan jiwa orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang kurang baik, serta membantu kaum fakir miskin. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang miskin.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Besaran zakat fitrah yang dikeluarkan adalah satu sha’ bahan makanan pokok. Dalam konteks Indonesia, hal ini biasanya setara dengan sekitar 2,5 hingga 3 kilogram beras. Namun seiring perkembangan sistem ekonomi modern, muncul pertanyaan baru mengenai apakah zakat fitrah dibayar uang dapat menggantikan bahan makanan tersebut. Dalil Zakat Fitrah dalam Islam Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok. Ibnu Umar RA meriwayatkan: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap muslim, baik budak maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini sering dijadikan dasar oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dibayarkan dalam bentuk makanan pokok. Namun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan atau tidak. Pandangan Ulama Tentang Zakat Fitrah Dibayar Uang Perbedaan pendapat ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah terjadi sejak masa klasik. Berikut beberapa pandangan dari mazhab-mazhab fikih dalam Islam. 1. Pendapat Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi memperbolehkan zakat fitrah dibayar uang. Mereka berpendapat bahwa tujuan utama zakat fitrah adalah membantu fakir miskin dan memenuhi kebutuhan mereka pada hari raya. Menurut pandangan ini, uang justru seringkali lebih bermanfaat bagi penerima zakat karena mereka dapat membeli kebutuhan yang lebih mendesak sesuai kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, dalam mazhab Hanafi, membayar zakat fitrah dengan uang dianggap sah selama nilainya setara dengan makanan pokok yang seharusnya dikeluarkan. 2. Pendapat Mazhab Syafi’i Mazhab Syafi’i yang banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok, bukan uang. Menurut ulama Syafi’iyah, karena Rasulullah SAW secara jelas menyebutkan zakat fitrah dalam bentuk makanan, maka hal tersebut sebaiknya tetap dipertahankan. Meski demikian, dalam praktik modern, sebagian ulama Syafi’i kontemporer memberikan kelonggaran jika zakat fitrah dibayar uang melalui lembaga zakat yang kemudian menyalurkannya dalam bentuk makanan pokok kepada mustahik. 3. Pendapat Mazhab Maliki dan Hanbali Mazhab Maliki dan Hanbali pada dasarnya juga lebih menganjurkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok. Namun dalam kondisi tertentu, beberapa ulama dari mazhab ini juga membolehkan zakat fitrah dibayar uang jika dianggap lebih membawa maslahat bagi penerima zakat. Misalnya dalam kondisi masyarakat perkotaan di mana distribusi makanan pokok lebih rumit dibandingkan uang. Hikmah dan Tujuan Zakat Fitrah Untuk memahami apakah zakat fitrah dibayar uang dapat diterima dalam Islam, kita juga perlu melihat hikmah di balik kewajiban zakat fitrah. Beberapa tujuan zakat fitrah antara lain: 1. Membersihkan Jiwa Orang yang Berpuasa Zakat fitrah menjadi sarana penyucian diri dari kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan ibadah puasa. 2. Membantu Kaum Fakir Miskin Tujuan utama zakat fitrah adalah membantu kaum yang membutuhkan agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya. Dalam konteks ini, sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah dibayar uang justru dapat lebih membantu karena penerima dapat menggunakan uang tersebut untuk berbagai kebutuhan. 3. Menciptakan Kepedulian Sosial Zakat fitrah juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial antar sesama muslim. Dengan adanya zakat fitrah, kesenjangan ekonomi di masyarakat dapat sedikit berkurang, terutama menjelang Idulfitri. Praktik Zakat Fitrah Dibayar Uang di Indonesia Di Indonesia, praktik zakat fitrah dibayar uang semakin banyak dilakukan, terutama melalui lembaga zakat resmi. Lembaga zakat biasanya menentukan nilai zakat fitrah berdasarkan harga beras yang berlaku di wilayah tertentu. Nilai tersebut kemudian dibayarkan oleh muzakki dalam bentuk uang. Setelah terkumpul, dana zakat fitrah tersebut biasanya akan digunakan untuk membeli beras atau bahan makanan pokok yang kemudian disalurkan kepada mustahik. Cara ini dianggap sebagai solusi yang tetap menjaga prinsip syariat sekaligus memudahkan proses distribusi zakat. Waktu Membayar Zakat Fitrah Baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, waktu pembayarannya tetap mengikuti ketentuan syariat. Beberapa waktu penting dalam membayar zakat fitrah antara lain: Waktu wajib: Sejak terbenam matahari pada malam Idulfitri. Waktu sunnah: Setelah salat Subuh sebelum salat Idulfitri. Waktu boleh: Sejak awal bulan Ramadhan. Waktu makruh: Setelah salat Idulfitri. Waktu haram: Jika sengaja menunda hingga setelah hari raya tanpa alasan. Karena itu, umat Islam dianjurkan menunaikan zakat fitrah tepat waktu agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para penerima sebelum hari raya tiba. Cara Menentukan Nilai Zakat Fitrah Jika Dibayar dengan Uang Jika seseorang memilih zakat fitrah dibayar uang, maka nilai yang dibayarkan harus setara dengan harga makanan pokok yang menjadi standar zakat fitrah. Di Indonesia, biasanya nilai ini dihitung berdasarkan harga 2,5 hingga 3 kilogram beras. Misalnya jika harga beras Rp15.000 per kilogram, maka nilai zakat fitrah yang dibayarkan sekitar Rp37.500 hingga Rp45.000 per orang. Namun angka ini dapat berbeda-beda tergantung wilayah dan keputusan lembaga zakat setempat. Perdebatan mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dalam tradisi fikih Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah harus dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Namun ada pula ulama yang membolehkan zakat fitrah dibayar uang, terutama jika hal tersebut lebih bermanfaat bagi penerima zakat dan memudahkan proses distribusi. Di Indonesia sendiri, kedua praktik ini masih berjalan berdampingan. Banyak masyarakat yang tetap membayar zakat fitrah dengan beras, sementara sebagian lainnya memilih menunaikannya dalam bentuk uang melalui lembaga zakat resmi. Yang terpenting adalah memastikan bahwa zakat fitrah ditunaikan tepat waktu, sesuai ketentuan syariat, dan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak menerimanya. Dengan demikian, baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, tujuan utama zakat fitrah yaitu membantu fakir miskin dan menyempurnakan ibadah puasa tetap dapat tercapai. Setelah memahami ketentuan zakat fitrah, yang terpenting adalah memastikan kewajiban tersebut benar-benar tertunaikan sebelum Idul Fitri. Mari sempurnakan ibadah Ramadhan dengan menunaikan zakat fitrah melalui BAZNAS DIY ?????Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa YogyakartaNo: Kep.-013/MUI-DIY/I/2026 tentang Besaran Zakat Fitri, Zakat Mal, Fidyah, Pembayaran dan Penyalurannya,besaran zakat fitrah tahun ini adalah Rp45.000/jiwa.Tunaikan zakat fitrah Anda tepat waktu, agar suci diri dan berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui rekening:BSI 340-7799-736atau melalui link diy.baznas.go.id/bayarzakatTambahkan kode unik (013) dibelakang nominal transfer untuk zakat fitrah.???? Salurkan melalui BAZNAS DIY – Amanah, Transparan, dan Tepat Sasaran.
BERITA10/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Puasa merupakan salah satu ibadah wajib bagi umat Islam yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadan. Ibadah ini tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari berbagai hal yang dapat merusak atau bahkan membatalkan puasa. Banyak umat Muslim memahami bahwa makan dan minum adalah hal utama yang dapat membatalkan puasa, namun sebenarnya ada beberapa perkara lain yang juga dapat membatalkan ibadah tersebut. Memahami hal-hal yang dapat membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang dijalankan selama bulan Ramadan tetap sah dan bernilai pahala di sisi Allah SWT. Tidak sedikit umat Islam yang masih ragu atau bahkan belum mengetahui secara jelas apa saja yang termasuk dalam kategori membatalkan puasa selain makan dan minum. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami secara benar apa saja yang dapat membatalkan puasa menurut ajaran Islam. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai hal-hal yang dapat membatalkan puasa selain makan dan minum berdasarkan Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan para ulama. Pengertian Puasa dalam Islam Sebelum membahas lebih jauh tentang hal-hal yang membatalkan puasa, penting untuk memahami terlebih dahulu makna puasa itu sendiri. Secara bahasa, puasa berasal dari kata shaum yang berarti menahan diri. Sedangkan secara istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai dengan niat karena Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga sarana untuk meningkatkan ketakwaan. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu memahami dengan baik segala hal yang dapat membatalkan puasa agar ibadahnya tetap sempurna. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum Selain makan dan minum secara sengaja, ada beberapa perkara lain yang termasuk dalam kategori membatalkan puasa menurut syariat Islam. Berikut penjelasannya. 1. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Salah satu perkara yang jelas membatalkan puasa adalah melakukan hubungan suami istri pada siang hari di bulan Ramadan. Perbuatan ini tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga mewajibkan pelakunya untuk membayar kafarat yang berat. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa seseorang pernah datang kepada Rasulullah SAW dan mengaku telah berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadan. Rasulullah SAW kemudian memerintahkannya untuk membayar kafarat, yaitu memerdekakan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri pada siang hari Ramadan termasuk perbuatan serius yang membatalkan puasa. 2. Keluar Mani dengan Sengaja Keluar mani secara sengaja, baik melalui onani, rangsangan fisik, atau aktivitas lain yang disengaja juga termasuk perkara yang membatalkan puasa. Namun para ulama menjelaskan bahwa jika mani keluar karena mimpi basah saat tidur, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa, karena terjadi di luar kendali seseorang. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menjaga pandangan dan menghindari hal-hal yang dapat memicu syahwat selama menjalankan ibadah puasa. 3. Muntah dengan Sengaja Muntah juga dapat membatalkan puasa jika dilakukan dengan sengaja, misalnya dengan memasukkan jari ke dalam tenggorokan atau melakukan tindakan lain untuk memicu muntah. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha, tetapi barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib mengganti puasanya.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa muntah yang disengaja termasuk hal yang membatalkan puasa, sedangkan muntah yang terjadi tanpa disengaja tidak membatalkan puasa. 4. Haid dan Nifas Bagi perempuan Muslim, datangnya haid atau nifas juga termasuk perkara yang membatalkan puasa. Ketika seorang wanita mengalami haid atau nifas di siang hari Ramadan, maka puasanya otomatis batal dan wajib diganti di hari lain setelah Ramadan. Hal ini merupakan ketentuan syariat yang telah disepakati para ulama berdasarkan hadis Rasulullah SAW. Aisyah RA pernah berkata: “Kami dahulu mengalami haid pada masa Rasulullah SAW, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha salat.”(HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan bahwa haid merupakan salah satu kondisi yang membatalkan puasa bagi wanita Muslim. 5. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal, misalnya karena gila atau pingsan sepanjang hari, juga tidak dianggap menjalankan puasa. Dalam kondisi tersebut, puasanya dianggap batal karena syarat sah puasa adalah berakal. Walaupun kondisi ini tidak selalu disebut sebagai hal yang membatalkan puasa secara langsung, tetapi status puasanya tidak sah karena tidak memenuhi syarat ibadah. 6. Murtad (Keluar dari Islam) Hal paling berat yang dapat membatalkan puasa adalah murtad atau keluar dari agama Islam. Ketika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh ibadahnya termasuk puasa menjadi batal. Namun tentu saja hal ini merupakan perkara besar dalam akidah dan sangat dijauhi oleh umat Islam. Hal yang Tidak Membatalkan Puasa Tetapi Perlu Dihindari Selain hal-hal yang jelas membatalkan puasa, ada juga beberapa perbuatan yang tidak membatalkan puasa tetapi dapat mengurangi pahala puasa jika dilakukan, antara lain: Berkata kasar Bergosip atau menggunjing Berbohong Marah berlebihan Melihat hal-hal yang tidak pantas Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari) Hadis ini mengingatkan bahwa tujuan puasa bukan hanya menahan diri dari hal yang membatalkan puasa, tetapi juga menjaga akhlak dan perilaku. Hikmah Mengetahui Hal yang Membatalkan Puasa Mengetahui berbagai perkara yang dapat membatalkan puasa memiliki banyak hikmah bagi umat Islam. Beberapa di antaranya adalah: 1. Menjaga Kesempurnaan Ibadah Dengan memahami apa saja yang membatalkan puasa, seorang Muslim dapat lebih berhati-hati dalam menjalankan ibadah sehingga puasanya tetap sah. 2. Meningkatkan Ketakwaan Menjauhi segala hal yang membatalkan puasa membantu seseorang lebih disiplin dalam menjaga diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. 3. Menghindari Kesalahan yang Tidak Disadari Banyak orang mungkin tanpa sadar melakukan hal yang membatalkan puasa karena kurangnya pengetahuan. Dengan mempelajari hukum-hukum puasa, kesalahan tersebut dapat dihindari. Puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang sangat mulia dan penuh keberkahan. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami dengan baik berbagai perkara yang dapat membatalkan puasa, tidak hanya makan dan minum, tetapi juga hal-hal lain seperti berhubungan suami istri di siang hari, keluar mani dengan sengaja, muntah dengan sengaja, haid, nifas, hingga murtad. Dengan mengetahui secara jelas apa saja yang membatalkan puasa, umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih hati-hati dan penuh kesadaran. Hal ini tentu akan membantu menjaga kesempurnaan ibadah serta meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga dengan memahami berbagai perkara yang membatalkan puasa, kita semua dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih baik dan mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA10/03/2026 | admin
Tips Memburu Pahala Berlipat Ganda Melalui Sedekah Subuh di Sisa Ramadhan
Tips Memburu Pahala Berlipat Ganda Melalui Sedekah Subuh di Sisa Ramadhan
Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Di bulan penuh berkah ini, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Tidak heran jika banyak umat Islam berlomba-lomba melakukan berbagai ibadah untuk meraih keberkahan tersebut. Salah satu amalan yang semakin populer dan dianjurkan adalah berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh. Banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan pada waktu subuh memiliki keutamaan tersendiri. Dalam hadis disebutkan bahwa setiap pagi ada malaikat yang mendoakan orang-orang yang bersedekah. Oleh karena itu, menjelang berakhirnya bulan suci, momen ini menjadi kesempatan emas untuk semakin giat berburu pahala ramadhan melalui amalan sedekah subuh. Artikel ini akan membahas berbagai tips dan keutamaan sedekah subuh agar umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di sisa bulan Ramadhan. Keutamaan Berburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Salah satu cara terbaik dalam berburu pahala ramadhan adalah dengan memperbanyak sedekah. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa sedekah memiliki nilai yang sangat besar dalam Islam, terlebih ketika dilakukan di bulan penuh rahmat ini. Allah SWT juga menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa sedekah akan dilipatgandakan pahalanya. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 menyebutkan bahwa orang yang bersedekah di jalan Allah akan mendapatkan balasan seperti satu benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai memiliki seratus biji. Ayat tersebut menunjukkan betapa besar pahala yang dijanjikan Allah bagi orang yang gemar bersedekah. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah menjadi salah satu strategi penting dalam berburu pahala ramadhan. Keistimewaan Sedekah Subuh dalam Islam Sedekah subuh adalah sedekah yang dilakukan pada waktu subuh atau setelah melaksanakan salat subuh. Waktu ini dianggap sangat istimewa karena pada saat itulah malaikat turun untuk mendoakan manusia. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap pagi hari dua malaikat turun. Salah satu dari mereka berdoa: Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang bersedekah. Sedangkan yang lainnya berdoa: Ya Allah, binasakanlah harta orang yang menahan sedekah."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah subuh memiliki keutamaan yang luar biasa. Ketika seseorang bersedekah pada waktu subuh, malaikat akan mendoakan keberkahan bagi dirinya. Hal ini tentu menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk semakin giat berburu pahala ramadhan dengan memanfaatkan waktu subuh untuk bersedekah. Mengapa Sedekah Subuh Sangat Dianjurkan di Sisa Ramadhan? Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Hal ini karena pada periode tersebut terdapat malam yang sangat istimewa yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, melakukan sedekah subuh di sisa bulan Ramadhan dapat menjadi cara efektif untuk terus berburu pahala ramadhan. Beberapa alasan mengapa sedekah subuh sangat dianjurkan antara lain: Waktu yang penuh keberkahanWaktu subuh merupakan salah satu waktu yang diberkahi oleh Allah SWT. Banyak doa yang mudah dikabulkan pada waktu ini. Didukung doa malaikatMalaikat secara langsung mendoakan orang yang bersedekah setiap pagi. Meningkatkan keikhlasanSedekah di waktu subuh biasanya dilakukan dalam keadaan sepi dan tanpa diketahui banyak orang sehingga lebih menjaga keikhlasan. Menjadi pembuka pintu rezekiBanyak ulama menjelaskan bahwa sedekah dapat membuka pintu rezeki dan keberkahan hidup. Dengan berbagai keutamaan tersebut, sedekah subuh menjadi amalan yang sangat baik untuk dilakukan ketika sedang berburu pahala ramadhan. Tips Memburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Subuh Agar sedekah subuh dapat dilakukan secara konsisten hingga akhir Ramadhan, ada beberapa tips yang dapat diterapkan oleh umat Islam. 1. Niatkan untuk Berburu Pahala Ramadhan Langkah pertama adalah meluruskan niat. Setiap amalan dalam Islam sangat bergantung pada niatnya. Niatkan sedekah subuh semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT dan sebagai bentuk berburu pahala ramadhan. Dengan niat yang tulus, sedekah yang diberikan meskipun kecil akan bernilai besar di sisi Allah. 2. Sisihkan Rezeki Khusus untuk Sedekah Agar sedekah subuh bisa dilakukan secara rutin, sebaiknya sisihkan sebagian rezeki sejak awal Ramadhan. Misalnya dengan membuat anggaran khusus untuk sedekah harian. Cara ini akan membantu seseorang tetap konsisten dalam berburu pahala ramadhan tanpa merasa terbebani secara finansial. 3. Sedekah Tidak Harus Besar Banyak orang mengira bahwa sedekah harus dalam jumlah besar. Padahal dalam Islam, sedekah sekecil apa pun sangat bernilai jika dilakukan dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang dapat bersedekah bahkan dengan setengah butir kurma. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memulai berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh meskipun dengan nominal kecil. 4. Gunakan Platform Sedekah yang Terpercaya Di era digital saat ini, sedekah bisa dilakukan dengan sangat mudah melalui berbagai platform donasi atau lembaga zakat terpercaya. Dengan memanfaatkan teknologi, umat Islam tetap dapat berburu pahala ramadhan meskipun memiliki aktivitas yang padat. 5. Ajak Keluarga untuk Ikut Sedekah Subuh Mengajak keluarga untuk bersama-sama melakukan sedekah subuh dapat menjadi kebiasaan baik yang penuh berkah. Misalnya dengan menyediakan kotak sedekah di rumah yang diisi setelah salat subuh. Cara ini tidak hanya membantu berburu pahala ramadhan, tetapi juga mendidik anak-anak agar terbiasa berbagi sejak dini. 6. Sedekah dalam Bentuk Makanan Sahur atau Berbuka Selain uang, sedekah juga bisa diberikan dalam bentuk makanan. Memberikan makanan untuk sahur atau berbuka kepada orang yang membutuhkan merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Ini menjadi salah satu cara praktis dalam berburu pahala ramadhan di sisa hari bulan suci. Hikmah Berburu Pahala Ramadhan Melalui Sedekah Ada banyak hikmah yang bisa dirasakan ketika seseorang rajin bersedekah, terutama di bulan Ramadhan. Pertama, sedekah dapat membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Kedua, sedekah mampu menumbuhkan rasa empati kepada sesama manusia. Ketiga, sedekah dapat menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup. Selain itu, sedekah juga memiliki dampak sosial yang sangat besar. Melalui sedekah, kita dapat membantu saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dengan demikian, semangat berburu pahala ramadhan tidak hanya memberikan manfaat spiritual bagi diri sendiri, tetapi juga membawa kebaikan bagi masyarakat luas. Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan. Salah satu cara terbaik untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini adalah dengan berburu pahala ramadhan melalui sedekah subuh. Sedekah subuh memiliki banyak keutamaan, mulai dari doa malaikat, keberkahan rezeki, hingga pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan sisa Ramadhan dengan memperbanyak sedekah, baik dalam bentuk uang, makanan, maupun bantuan lainnya. Semoga dengan semangat berburu pahala ramadhan, kita semua dapat meraih keberkahan, ampunan, dan ridha Allah SWT di bulan suci ini. Mengawali hari dengan tangan di atas adalah cara terbaik untuk mengundang datangnya rida Allah sepanjang hari. Jangan biarkan momentum fajar berlalu tanpa jejak kebaikan yang menetap di buku amal Anda. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA10/03/2026 | admin
BAZNAS DIY Salurkan Hidangan Berkah Ramadhan untuk Anak-anak Panti Asuhan
BAZNAS DIY Salurkan Hidangan Berkah Ramadhan untuk Anak-anak Panti Asuhan
Yogyakarta – Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan serta memperkuat kepedulian sosial kepada sesama, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyalurkan program Hidangan Berkah Ramadhan kepada anak-anak di sejumlah panti asuhan yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Hidangan Berkah Ramadhan merupakan salah satu kegiatan sosial BAZNAS DIY yang bertujuan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak panti asuhan melalui pemberian hidangan berbuka puasa. Melalui program ini, BAZNAS DIY menyalurkan paket hidangan berbuka kepada para penerima manfaat agar mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan penuh kebahagiaan. Pendistribusian hidangan dilakukan oleh tim BAZNAS DIY bersama relawan dengan mengunjungi langsung panti asuhan penerima manfaat. Selain sebagai bentuk penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat selama bulan Ramadhan. Program Hidangan Berkah Ramadhan ini dilaksanakan hampir setiap hari selama bulan suci Ramadhan. Hidangan yang didistribusikan merupakan amanah dari para donatur yang telah menitipkan infak, sedekah, maupun fidyah melalui BAZNAS DIY untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk anak-anak panti asuhan. Salah satu perwakilan BAZNAS DIY menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen BAZNAS dalam menyalurkan amanah para muzaki dan donatur kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. “Melalui program Hidangan Berkah Ramadhan ini, kami berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan kebahagiaan bagi anak-anak panti asuhan serta memperkuat semangat berbagi di tengah masyarakat. Bantuan ini juga merupakan amanah dari para donatur yang telah mempercayakan infak, sedekah, dan fidyahnya melalui BAZNAS DIY,” ujarnya. BAZNAS DIY berharap program Hidangan Berkah Ramadhan ini dapat memberikan manfaat serta menambah kebahagiaan bagi para penerima manfaat dalam menjalankan ibadah di bulan suci. Ke depan, BAZNAS DIY akan terus menghadirkan berbagai program sosial dan kemanusiaan agar manfaat zakat, infak, dan sedekah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta.
BERITA10/03/2026 | Admin
Berbagi Berkah Ramadhan, BAZNAS DIY dan PWI DIY Turun ke Jalan Bagikan Takjil
Berbagi Berkah Ramadhan, BAZNAS DIY dan PWI DIY Turun ke Jalan Bagikan Takjil
Yogyakarta – Dalam rangka mengisi keberkahan bulan suci Ramadhan 1447 H, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) DIY bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY menggelar aksi sosial berbagi takjil kepada para pengguna jalan. Kegiatan yang berlangsung pada Senin sore (9/3/2026) di depan Kantor PWI DIY, Jalan Gambiran 45, Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Aksi sosial tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Para pengendara yang melintas tampak antusias menerima paket takjil untuk berbuka puasa. Ketua PWI DIY, Hudono, mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada BAZNAS DIY atas terjalinnya sinergi dalam kegiatan sosial tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memiliki makna tersendiri karena untuk pertama kalinya para pengurus PWI DIY terlibat langsung dalam kegiatan berbagi di depan kantor organisasi mereka. “Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Momentum Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk berbagi dan mempererat kepedulian sosial. Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi kami berbagi langsung di depan kantor PWI DIY,” ujar Hudono. Ia menuturkan bahwa sebanyak 150 paket takjil yang disiapkan habis dibagikan dalam waktu singkat, bahkan kurang dari sepuluh menit. Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan. “Tak sampai sepuluh menit, semua paket sudah habis. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias. Kami berharap kerja sama antara PWI DIY dan BAZNAS DIY tidak berhenti di sini, tetapi dapat berlanjut pada kegiatan sosial lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya. Sementara itu, Wakil Ketua IV BAZNAS DIY Bidang SDM, Administrasi, dan Umum, H. Ahmad Lutfi SS., MA., menyampaikan bahwa besarnya antusiasme masyarakat menjadi catatan tersendiri bagi BAZNAS DIY untuk meningkatkan jumlah paket pada kegiatan serupa di masa mendatang. “Ternyata 150 paket masih kurang karena begitu banyak masyarakat yang membutuhkan. Ada beberapa yang belum kebagian. Hal ini menjadi evaluasi bagi kami agar ke depan jumlah paket yang disediakan bisa lebih banyak lagi,” jelas H. Ahmad Lutfi SS., MA.,. Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan berbagi takjil merupakan bagian dari program Ramadhan BAZNAS DIY yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun. Selain membagikan takjil di berbagai titik, BAZNAS DIY juga menyalurkan takjil ke sejumlah panti asuhan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. “Hingga saat ini, sekitar 2.000 paket takjil telah kami distribusikan ke berbagai panti asuhan di DIY. Program ini merupakan bentuk kepedulian kami agar adik-adik di panti juga dapat merasakan kebahagiaan berbuka puasa di bulan Ramadhan,” ujarnya. Selain program takjil, BAZNAS DIY juga menyalurkan bantuan “Ramadhan Bahagia” kepada hampir 2.000 pegawai honorer di wilayah DIY dengan nilai bantuan sekitar Rp200.000 per paket. “Ini adalah bagian dari amanah yang diberikan para muzaki kepada kami. Dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun kami salurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” kata H. Ahmad Lutfi SS., MA., Melalui kegiatan ini, BAZNAS DIY dan PWI DIY berharap kolaborasi antara lembaga zakat dan organisasi profesi wartawan dapat terus terjalin, sehingga semakin banyak kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas sekaligus menghadirkan keberkahan bagi para muzakki yang telah menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS DIY.
BERITA10/03/2026 | admin
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, kaum muslimin menjalankan ibadah puasa, meningkatkan amal ibadah, serta memperbanyak doa dan sedekah. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi hingga lupa untuk menilai kembali kualitas iman dan amalnya. Karena itu, hadirnya bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk merenung, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seorang muslim dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Makna Muhasabah dalam Islam Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata Arab hasaba – yuhasibu – muhasabah yang berarti menghitung atau mengevaluasi. Dalam konteks spiritual, muhasabah berarti proses introspeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan. Muhasabah merupakan ajaran penting dalam Islam. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”(HR. Tirmidzi) Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya selalu melakukan evaluasi diri agar dapat memperbaiki kesalahan sebelum datang hari perhitungan di akhirat. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi waktu yang sangat tepat untuk menilai kembali kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia. Mengapa Ramadhan Menjadi Waktu Terbaik untuk Muhasabah Diri? Ada beberapa alasan mengapa bulan suci ini sangat tepat dijadikan sebagai waktu refleksi spiritual. 1. Pintu Ampunan Allah Dibuka Lebar Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keadaan ini menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan besar untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan Salah satu keutamaan Ramadhan adalah dilipatgandakannya pahala amal kebaikan. Hal ini memotivasi umat Islam untuk meningkatkan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Dengan memanfaatkan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kualitas ibadahnya selama ini dan berusaha memperbaikinya. 3. Suasana Spiritual yang Lebih Kuat Ramadhan identik dengan berbagai aktivitas ibadah seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, hingga sedekah. Suasana spiritual ini membantu seseorang untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kondisi tersebut menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri yang sangat efektif untuk memperbaiki kualitas keimanan. Cara Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri Agar Ramadhan benar-benar menjadi waktu refleksi spiritual, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Mengevaluasi Ibadah yang Selama Ini Dilakukan Langkah pertama dalam menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri adalah mengevaluasi kualitas ibadah yang telah dilakukan selama ini. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan renungan antara lain: Apakah shalat lima waktu sudah dilakukan tepat waktu? Seberapa sering membaca Al-Qur’an? Apakah ibadah dilakukan dengan khusyuk atau hanya sekadar rutinitas? Dengan melakukan evaluasi tersebut, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. 2. Memperbanyak Taubat dan Istighfar Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak taubat dan istighfar. Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. An-Nur: 31) Dengan memperbanyak taubat, hati menjadi lebih bersih dan kehidupan spiritual pun semakin meningkat. 3. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam Ramadhan momentum muhasabah diri, penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti Menghindari konflik dan permusuhan Mempererat silaturahmi Membantu sesama yang membutuhkan Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. 4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebaikan Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, terutama ketika Ramadhan. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kepeduliannya terhadap sesama. Sedekah tidak selalu berupa uang. Amal kebaikan juga dapat dilakukan melalui: Memberi makanan berbuka puasa Membantu orang yang kesulitan Menyebarkan ilmu yang bermanfaat Memberikan senyuman dan kebaikan kepada orang lain 5. Memperbanyak Membaca dan Merenungi Al-Qur’an Ramadhan dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Dalam konteks Ramadhan momentum muhasabah diri, membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan ayat, tetapi juga memahami maknanya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat Muhasabah Diri di Bulan Ramadhan Menjadikan Ramadhan sebagai waktu introspeksi membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim. 1. Meningkatkan Kualitas Iman Muhasabah membantu seseorang untuk lebih sadar akan kesalahan yang pernah dilakukan. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. 2. Menumbuhkan Keikhlasan dalam Beribadah Ketika seseorang melakukan evaluasi diri, ia akan menyadari bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Hal ini membuat ibadah menjadi lebih ikhlas dan bermakna. 3. Membentuk Pribadi yang Lebih Baik Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada kehidupan sosial dan moral. Agar Semangat Muhasabah Tidak Berhenti Setelah Ramadhan Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Banyak orang yang rajin beribadah selama bulan suci, tetapi kembali lalai setelahnya. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya semangat sementara. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: Menjaga shalat tepat waktu Membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari Melanjutkan kebiasaan sedekah Menghindari perbuatan maksiat Dengan konsistensi tersebut, nilai-nilai Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Ramadhan momentum muhasabah diri merupakan waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk mengevaluasi amal perbuatan, memperbanyak taubat, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan melakukan muhasabah selama Ramadhan, seseorang dapat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Lebih dari itu, proses introspeksi ini membantu membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa. Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin. Jadikan Ramadhan momentum muhasabah diri untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat. Setelah kita menyelami kedalaman hati dan menyadari segala kekurangan diri, saatnya menyucikan jiwa serta harta yang kita miliki. Zakat bukan sekadar kewajiban melainkan instrumen pembersih harta agar keberkahan senantiasa mengalir dalam kehidupan kita. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri
Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, kaum muslimin menjalankan ibadah puasa, meningkatkan amal ibadah, serta memperbanyak doa dan sedekah. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi hingga lupa untuk menilai kembali kualitas iman dan amalnya. Karena itu, hadirnya bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk merenung, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seorang muslim dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Makna Muhasabah dalam Islam Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata Arab hasaba – yuhasibu – muhasabah yang berarti menghitung atau mengevaluasi. Dalam konteks spiritual, muhasabah berarti proses introspeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan. Muhasabah merupakan ajaran penting dalam Islam. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”(HR. Tirmidzi) Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya selalu melakukan evaluasi diri agar dapat memperbaiki kesalahan sebelum datang hari perhitungan di akhirat. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi waktu yang sangat tepat untuk menilai kembali kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia. Mengapa Ramadhan Menjadi Waktu Terbaik untuk Muhasabah Diri? Ada beberapa alasan mengapa bulan suci ini sangat tepat dijadikan sebagai waktu refleksi spiritual. 1. Pintu Ampunan Allah Dibuka Lebar Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keadaan ini menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri menjadi kesempatan besar untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan Salah satu keutamaan Ramadhan adalah dilipatgandakannya pahala amal kebaikan. Hal ini memotivasi umat Islam untuk meningkatkan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Dengan memanfaatkan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kualitas ibadahnya selama ini dan berusaha memperbaikinya. 3. Suasana Spiritual yang Lebih Kuat Ramadhan identik dengan berbagai aktivitas ibadah seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, hingga sedekah. Suasana spiritual ini membantu seseorang untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kondisi tersebut menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri yang sangat efektif untuk memperbaiki kualitas keimanan. Cara Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah Diri Agar Ramadhan benar-benar menjadi waktu refleksi spiritual, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Mengevaluasi Ibadah yang Selama Ini Dilakukan Langkah pertama dalam menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri adalah mengevaluasi kualitas ibadah yang telah dilakukan selama ini. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan renungan antara lain: Apakah shalat lima waktu sudah dilakukan tepat waktu? Seberapa sering membaca Al-Qur’an? Apakah ibadah dilakukan dengan khusyuk atau hanya sekadar rutinitas? Dengan melakukan evaluasi tersebut, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. 2. Memperbanyak Taubat dan Istighfar Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak taubat dan istighfar. Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. An-Nur: 31) Dengan memperbanyak taubat, hati menjadi lebih bersih dan kehidupan spiritual pun semakin meningkat. 3. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam Ramadhan momentum muhasabah diri, penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti Menghindari konflik dan permusuhan Mempererat silaturahmi Membantu sesama yang membutuhkan Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. 4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebaikan Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, terutama ketika Ramadhan. Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang dapat menilai kembali kepeduliannya terhadap sesama. Sedekah tidak selalu berupa uang. Amal kebaikan juga dapat dilakukan melalui: Memberi makanan berbuka puasa Membantu orang yang kesulitan Menyebarkan ilmu yang bermanfaat Memberikan senyuman dan kebaikan kepada orang lain 5. Memperbanyak Membaca dan Merenungi Al-Qur’an Ramadhan dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Dalam konteks Ramadhan momentum muhasabah diri, membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan ayat, tetapi juga memahami maknanya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat Muhasabah Diri di Bulan Ramadhan Menjadikan Ramadhan sebagai waktu introspeksi membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim. 1. Meningkatkan Kualitas Iman Muhasabah membantu seseorang untuk lebih sadar akan kesalahan yang pernah dilakukan. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. 2. Menumbuhkan Keikhlasan dalam Beribadah Ketika seseorang melakukan evaluasi diri, ia akan menyadari bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Hal ini membuat ibadah menjadi lebih ikhlas dan bermakna. 3. Membentuk Pribadi yang Lebih Baik Dengan menjadikan Ramadhan momentum muhasabah diri, seseorang akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada kehidupan sosial dan moral. Agar Semangat Muhasabah Tidak Berhenti Setelah Ramadhan Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Banyak orang yang rajin beribadah selama bulan suci, tetapi kembali lalai setelahnya. Karena itu, Ramadhan momentum muhasabah diri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya semangat sementara. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: Menjaga shalat tepat waktu Membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari Melanjutkan kebiasaan sedekah Menghindari perbuatan maksiat Dengan konsistensi tersebut, nilai-nilai Ramadhan dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Ramadhan momentum muhasabah diri merupakan waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk mengevaluasi amal perbuatan, memperbanyak taubat, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan melakukan muhasabah selama Ramadhan, seseorang dapat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Lebih dari itu, proses introspeksi ini membantu membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa. Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin. Jadikan Ramadhan momentum muhasabah diri untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat. Setelah kita menyelami kedalaman hati dan menyadari segala kekurangan diri, saatnya menyucikan jiwa serta harta yang kita miliki. Zakat bukan sekadar kewajiban melainkan instrumen pembersih harta agar keberkahan senantiasa mengalir dalam kehidupan kita. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Zakat Kurangi Beban Pajak: Membaca Ulang PMK 114 Tahun 2025 Dalam Perspektif Kepatuhan dan Tata Kelola
Zakat Kurangi Beban Pajak: Membaca Ulang PMK 114 Tahun 2025 Dalam Perspektif Kepatuhan dan Tata Kelola
Di Indonesia, zakat dan pajak sering diposisikan dalam dua ruang yang berbeda: satu berbasis keyakinan, satu berbasis kewarganegaraan. Padahal secara regulatif, keduanya sudah lama dipertemukan dalam satu kerangka hukum. Terbitnya PMK Nomor 114 Tahun 2025 bukan sekadar pembaruan administratif, tetapi penegasan kembali bahwa zakat yang dibayarkan melalui lembaga resmi dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh). Fondasi Hukumnya Tidak Berdiri Sendiri Pengakuan zakat dalam sistem perpajakan Indonesia bertumpu pada beberapa regulasi penting, antara lain: Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) yang mengatur pengurang penghasilan bruto. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, yang menegaskan peran negara dalam tata kelola zakat. Peraturan teknis Kementerian Keuangan, termasuk PMK 114/2025, yang mengatur prosedur administratif dan pembuktiannya. Dari konstruksi hukum ini terlihat bahwa negara tidak memposisikan zakat sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kewajiban keagamaan yang diakui dalam sistem fiskal — dengan syarat tertentu. Apa yang Ditegaskan dalam PMK 114/2025? PMK 114/2025 memperjelas beberapa hal krusial: Zakat harus dibayarkan melalui lembaga resmi yang dibentuk atau disahkan pemerintah dan memiliki NPWP. Bukti pembayaran menjadi dokumen kunci dalam pelaporan SPT Tahunan. Pengakuan sebagai pengurang penghasilan bruto berlaku sepanjang tidak menciptakan rugi fiskal pada tahun pajak berjalan. Kesesuaian nominal dan periode pembayaran harus dapat ditelusuri secara administratif. Artinya, pengakuan zakat dalam pajak sangat bergantung pada kepatuhan prosedural, bukan hanya pada substansi pembayaran. Untuk menggambarkan dampaknya secara konkret, misalnya sebuah perusahaan memiliki penghasilan bruto Rp10 miliar dengan laba sebelum pajak Rp4 miliar. Jika perusahaan tersebut menunaikan zakat Rp100 juta melalui lembaga resmi, maka nilai tersebut dapat menjadi pengurang penghasilan bruto sebelum penghitungan PPh dilakukan. Dampaknya bukan langsung mengurangi pajak terutang, tetapi menurunkan basis pengenaan pajak. Dengan dasar pengenaan yang lebih rendah, kewajiban PPh pun ikut menyesuaikan secara proporsional. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa pengaruh zakat bersifat fiskal dan terukur, selama memenuhi ketentuan administratif. Mengapa Lembaga Resmi Menjadi Penting? Dalam konteks ini, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki posisi strategis. Sebagai lembaga yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan UU 23/2011, BAZNAS: Memiliki legalitas formal dan NPWP. Menerbitkan bukti setor zakat yang sah untuk kebutuhan perpajakan. Menjalankan tata kelola sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Diaudit serta diawasi sesuai mekanisme negara. Bagi wajib pajak individu maupun perusahaan, aspek ini menjadi pembeda antara zakat yang hanya bernilai spiritual dan zakat yang sekaligus memenuhi syarat fiskal. Dalam praktik kepatuhan, BAZNAS juga berfungsi sebagai gatekeeper administratif. Artinya, lembaga ini tidak hanya menerima dan menyalurkan zakat, tetapi memastikan setiap pembayaran terdokumentasi secara sah, teridentifikasi dengan jelas, serta memenuhi standar pelaporan perpajakan. Posisi ini menjadi krusial karena hanya zakat yang disalurkan melalui lembaga resmi yang dapat diakui sebagai pengurang penghasilan bruto. Dengan demikian, BAZNAS menjadi simpul yang menghubungkan kepatuhan syariah dan kepatuhan fiskal dalam satu sistem administrasi. Relevansi bagi Perusahaan Untuk perusahaan, isu zakat tidak lagi semata persoalan ibadah, tetapi juga bagian dari governance dan compliance, Beberapa implikasi strategisnya: Zakat perusahaan dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang terstruktur. Dokumentasi yang rapi membantu meminimalkan risiko koreksi fiskal. Penyaluran melalui lembaga resmi memastikan kepatuhan terhadap regulasi perpajakan. Dalam praktiknya, banyak perusahaan mulai melihat zakat sebagai elemen integral dari tata kelola keberlanjutan (sustainability governance), bukan sekadar kewajiban tahunan. Ke depan, penguatan sistem ini berpotensi diperluas melalui integrasi data antara lembaga pengelola zakat dan otoritas perpajakan (DJP). Integrasi tersebut dapat mempermudah verifikasi bukti setor zakat, meminimalkan kesalahan administrasi, serta meningkatkan transparansi dan kepatuhan prosedural. Dengan dukungan digitalisasi, pengakuan zakat dalam sistem pajak tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga didukung oleh sistem yang lebih efisien dan akuntabel. Harmonisasi Kewajiban Syariah dan Kewajiban Fiskal Zakat dan pajak sering dipahami sebagai dua kewajiban yang berdiri sendiri. Zakat dipandang sebagai kewajiban keagamaan, sementara pajak sebagai kewajiban kenegaraan. Namun dalam kerangka hukum Indonesia, keduanya tidak ditempatkan dalam posisi yang saling meniadakan, melainkan diatur agar dapat berjalan secara proporsional dan terintegrasi. PMK 114/2025 menegaskan bahwa zakat yang ditunaikan melalui lembaga resmi dapat diakui sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh). Artinya, zakat bukanlah pengurang pajak terutang secara langsung, melainkan mengurangi dasar pengenaan pajak sebelum kewajiban PPh dihitung. Beberapa prinsip yang perlu dipahami dalam kerangka harmonisasi ini antara lain: Zakat bukan pengurang pajak terutang, tetapi pengurang penghasilan bruto Efeknya mempengaruhi dasar penghitungan PPh. Validitasnya sangat ditentukan oleh ketepatan prosedur. Dengan pemahaman ini, zakat dan pajak tidak berada dalam posisi konflik, melainkan dalam sistem yang saling melengkapi. Secara etika publik, zakat berfungsi memperkuat redistribusi sosial dan pengentasan kemiskinan. Secara fiskal, pajak menopang pembiayaan pembangunan nasional. Keduanya berorientasi pada kemaslahatan, PMK 114/2025 dapat dibaca sebagai bentuk konsistensi negara dalam menjaga harmoni antara nilai keagamaan dan sistem administrasi modern. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA06/03/2026 | admin
Ingin Mudik Lebaran, Persiapkan Hal Penting Ini
Ingin Mudik Lebaran, Persiapkan Hal Penting Ini
Mudik Lebaran adalah tradisi yang sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan, momen Idulfitri menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Tidak heran jika jutaan umat Islam melakukan perjalanan mudik setiap tahun demi merayakan hari kemenangan bersama orang-orang tercinta. Namun, agar perjalanan berjalan lancar dan penuh berkah, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dengan baik. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan perjalanan, tetapi juga kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Oleh karena itu, memahami berbagai persiapan mudik lebaran sangat penting agar perjalanan menjadi aman, nyaman, dan tetap bernilai ibadah. Dalam Islam, perjalanan juga dianjurkan untuk dilakukan dengan perencanaan yang matang. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan umatnya untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan perjalanan jauh. Dengan perencanaan yang baik, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi momen silaturahmi yang membawa keberkahan. Niatkan Mudik Lebaran sebagai Ibadah dan Silaturahmi Salah satu persiapan mudik lebaran yang paling penting adalah meluruskan niat. Dalam Islam, setiap amal perbuatan sangat bergantung pada niat yang mendasarinya. Jika mudik dilakukan dengan niat untuk menyambung silaturahmi dan membahagiakan orang tua, maka perjalanan tersebut dapat bernilai ibadah. Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan fisik menuju kampung halaman. Lebih dari itu, mudik merupakan kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga yang mungkin jarang bertemu sepanjang tahun. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa menjaga silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim) Dengan niat yang baik, perjalanan mudik akan terasa lebih ringan dan penuh makna. Bahkan setiap langkah perjalanan dapat bernilai pahala jika diniatkan untuk kebaikan. Memastikan Kondisi Fisik Tetap Sehat Persiapan mudik lebaran juga harus mencakup kesiapan fisik. Perjalanan jauh sering kali menguras tenaga, apalagi jika dilakukan dalam kondisi berpuasa atau setelah menjalani aktivitas padat selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sebelum melakukan perjalanan sangat penting. Pastikan tubuh dalam kondisi prima agar perjalanan tidak terganggu oleh masalah kesehatan. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: Mengonsumsi makanan bergizi Istirahat yang cukup sebelum berangkat Membawa obat-obatan pribadi Memperhatikan waktu istirahat selama perjalanan Jika perjalanan dilakukan dengan kendaraan pribadi, sebaiknya pengemudi tidak memaksakan diri untuk terus mengemudi tanpa istirahat. Berhenti sejenak di rest area untuk meregangkan tubuh dan beristirahat dapat membantu menjaga konsentrasi saat berkendara. Dengan kondisi fisik yang sehat, perjalanan mudik akan terasa lebih nyaman dan aman. Menyiapkan Kendaraan atau Tiket Perjalanan Sejak Awal Hal lain yang tidak kalah penting dalam persiapan mudik lebaran adalah memastikan sarana transportasi telah dipersiapkan dengan baik. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, pemeriksaan kendaraan menjadi hal yang wajib dilakukan sebelum berangkat. Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain: Kondisi mesin kendaraan Tekanan ban dan cadangan ban Sistem pengereman Oli mesin Lampu kendaraan Jika menggunakan transportasi umum seperti kereta api, pesawat, atau bus, sebaiknya tiket sudah dipesan jauh-jauh hari. Menjelang Lebaran biasanya permintaan tiket meningkat drastis sehingga sulit mendapatkan tempat jika tidak memesan lebih awal. Perencanaan transportasi yang matang akan menghindarkan kita dari berbagai kendala yang dapat mengganggu perjalanan. Mengatur Keuangan untuk Perjalanan Mudik Persiapan mudik lebaran juga perlu mempertimbangkan aspek keuangan. Mudik biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari transportasi, konsumsi selama perjalanan, hingga kebutuhan selama berada di kampung halaman. Oleh karena itu, penting untuk membuat perencanaan anggaran agar pengeluaran tetap terkendali. Dengan perencanaan yang baik, perjalanan mudik dapat dilakukan tanpa menimbulkan beban finansial setelah kembali dari kampung halaman. Beberapa tips mengatur keuangan saat mudik antara lain: Menyusun anggaran perjalanan Menyediakan dana darurat Menghindari pengeluaran yang tidak perlu Membawa uang secukupnya Dalam Islam, mengelola keuangan dengan bijak merupakan bagian dari sikap hidup yang dianjurkan. Allah SWT melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”(QS. Al-Isra: 26) Dengan pengelolaan keuangan yang baik, perjalanan mudik dapat berjalan dengan lebih tenang. Membawa Perlengkapan Ibadah Selama Perjalanan Sebagai seorang muslim, ibadah tetap menjadi prioritas utama meskipun sedang melakukan perjalanan jauh. Oleh karena itu, persiapan mudik lebaran sebaiknya juga mencakup perlengkapan ibadah. Beberapa perlengkapan yang dapat dibawa antara lain: Mukena atau sarung Sajadah kecil Al-Qur’an atau aplikasi Al-Qur’an di ponsel Tasbih Dengan membawa perlengkapan ibadah, kita tetap dapat menjalankan salat tepat waktu meskipun sedang dalam perjalanan. Jika sulit menemukan tempat salat, banyak rest area yang kini telah menyediakan mushola untuk para pemudik. Perjalanan mudik juga bisa menjadi kesempatan untuk memperbanyak zikir dan doa agar perjalanan diberi keselamatan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa ketika melakukan perjalanan: “Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun.”(HR. Muslim) Membaca doa perjalanan menjadi bagian dari ikhtiar agar perjalanan mudik selalu berada dalam perlindungan Allah SWT. Menjaga Keselamatan dan Kesabaran di Jalan Mudik Lebaran sering kali identik dengan kemacetan panjang di berbagai jalur transportasi. Oleh karena itu, salah satu persiapan mudik lebaran yang penting adalah menyiapkan mental untuk tetap sabar selama perjalanan. Kemacetan, antrean panjang, atau perubahan jadwal transportasi bisa saja terjadi. Dalam kondisi seperti ini, kesabaran menjadi kunci agar perjalanan tetap nyaman dan tidak menimbulkan emosi yang berlebihan. Islam sangat menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, termasuk saat melakukan perjalanan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 153) Selain itu, keselamatan harus menjadi prioritas utama selama perjalanan. Jangan memaksakan diri jika merasa lelah, mengantuk, atau tidak fokus saat berkendara. Lebih baik berhenti sejenak untuk beristirahat daripada mengambil risiko yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Menjaga Adab dan Etika Selama Mudik Persiapan mudik lebaran tidak hanya berkaitan dengan hal teknis, tetapi juga berkaitan dengan adab dan etika selama perjalanan. Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk menjaga sikap baik kepada siapa pun. Selama perjalanan mudik, kita akan bertemu dengan banyak orang, mulai dari sesama pemudik hingga petugas transportasi. Menjaga sopan santun, tidak saling mendahului secara berbahaya, dan menghormati sesama pengguna jalan merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam. Mudik juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan sikap saling membantu. Misalnya membantu sesama pemudik yang membutuhkan pertolongan atau berbagi makanan di perjalanan. Perilaku seperti ini akan membuat perjalanan terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan. Mudik merupakan tradisi yang sangat berharga bagi umat Islam di Indonesia. Selain menjadi momen berkumpul bersama keluarga, mudik juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi yang dianjurkan dalam Islam. Agar perjalanan berjalan lancar, berbagai persiapan mudik lebaran perlu dilakukan dengan matang. Mulai dari meluruskan niat, menjaga kesehatan, menyiapkan transportasi, mengatur keuangan, hingga membawa perlengkapan ibadah selama perjalanan. Dengan persiapan yang baik, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi perjalanan penuh makna yang membawa keberkahan. Semoga setiap langkah perjalanan mudik kita selalu berada dalam perlindungan Allah SWT dan membawa kebahagiaan bagi keluarga di kampung halaman. Akhirnya, semoga setiap persiapan mudik lebaran yang dilakukan dapat membantu kita menjalani perjalanan dengan aman, nyaman, dan penuh keberkahan hingga kembali berkumpul dengan orang-orang tercinta pada hari yang fitri. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA05/03/2026 | admin
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang menjadi momen terbaik bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, adalah i'tikaf. Ibadah ini menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan lebih fokus, meninggalkan kesibukan dunia, serta memperbanyak ibadah di masjid. Banyak umat Islam yang ingin menjalankan i'tikaf namun belum memahami secara benar tata cara i'tikaf yang sesuai dengan tuntunan syariat. Padahal, memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, khusyuk, dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Melalui pemahaman yang benar mengenai tata cara i'tikaf, seorang muslim tidak hanya sekadar berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Artikel ini akan membahas secara lengkap tata cara i'tikaf agar tetap khusyuk dan memberikan manfaat spiritual yang maksimal. Pengertian I'tikaf dalam Islam Sebelum memahami tata cara i'tikaf, penting bagi umat Islam untuk mengetahui terlebih dahulu makna dari ibadah ini. Secara bahasa, i'tikaf berasal dari kata "‘akafa" yang berarti berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Dalam istilah syariat Islam, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT dalam waktu tertentu. Ibadah ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan memfokuskan hati hanya kepada-Nya. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga amalan i'tikaf. Dalam sebuah hadits disebutkan: "Rasulullah SAW selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa i'tikaf merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan karena pada malam-malam tersebut terdapat malam Lailatul Qadar. Waktu Pelaksanaan I'tikaf Dalam memahami tata cara i'tikaf, penting juga mengetahui waktu pelaksanaannya. I'tikaf sebenarnya dapat dilakukan kapan saja selama berada di masjid dengan niat ibadah. Namun waktu yang paling utama adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tujuannya adalah untuk mencari keberkahan malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa i'tikaf biasanya dimulai sejak sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan hingga akhir Ramadhan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa seseorang dapat memulai i'tikaf setelah melaksanakan shalat Subuh pada hari ke-21. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang paling penting adalah melaksanakan i'tikaf dengan niat yang ikhlas serta mengikuti tata cara i'tikaf sesuai dengan tuntunan syariat. Niat I'tikaf Salah satu bagian penting dalam tata cara i'tikaf adalah niat. Seperti halnya ibadah lainnya dalam Islam, i'tikaf harus diawali dengan niat karena Allah SWT. Niat tidak harus diucapkan secara lisan, namun cukup di dalam hati. Meski demikian, banyak ulama juga mengajarkan lafaz niat i'tikaf sebagai berikut: "Nawaitul i'tikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala." Artinya:"Aku berniat i'tikaf di masjid ini sebagai ibadah sunnah karena Allah Ta'ala." Dengan niat yang tulus, ibadah i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Tata Cara I'tikaf yang Benar Memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah ini tidak hanya menjadi aktivitas berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar menjadi momen spiritual yang mendalam. Berikut beberapa tata cara i'tikaf yang dapat dilakukan oleh umat Islam. 1. Dilakukan di Masjid Tata cara i'tikaf yang pertama adalah dilakukan di masjid. Para ulama sepakat bahwa i'tikaf harus dilakukan di masjid, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istri) sedang kamu beri'tikaf di dalam masjid."(QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menunjukkan bahwa tempat pelaksanaan i'tikaf adalah di masjid. Sebagian ulama juga menganjurkan agar i'tikaf dilakukan di masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah. 2. Memperbanyak Ibadah Tata cara i'tikaf berikutnya adalah memperbanyak ibadah selama berada di masjid. Tujuan utama i'tikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang dapat dilakukan selama i'tikaf antara lain: Membaca Al-Qur'an Melakukan shalat sunnah Berdzikir dan berdoa Mendengarkan kajian keislaman Muhasabah atau introspeksi diri Dengan memperbanyak ibadah, i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. 3. Menjaga Lisan dan Perilaku Dalam tata cara i'tikaf, menjaga lisan dan perilaku merupakan hal yang sangat penting. Orang yang sedang beri'tikaf dianjurkan untuk menjauhi perbuatan yang sia-sia seperti bercanda berlebihan, bergosip, atau melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat. I'tikaf seharusnya menjadi momen untuk menenangkan hati dan memperbanyak mengingat Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga adab selama berada di masjid menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah ini. 4. Fokus pada Ibadah Salah satu tujuan utama dari tata cara i'tikaf adalah membantu seorang muslim memusatkan perhatian pada ibadah. Oleh karena itu, selama i'tikaf sebaiknya mengurangi aktivitas yang berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya, mengurangi penggunaan ponsel untuk hal-hal yang tidak penting, tidak terlalu banyak berbincang, serta menghindari kegiatan yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Dengan fokus pada ibadah, i'tikaf akan memberikan ketenangan batin dan meningkatkan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. 5. Keluar dari Masjid Hanya untuk Keperluan Penting Dalam tata cara i'tikaf juga dijelaskan bahwa seseorang tidak dianjurkan keluar dari masjid kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Misalnya untuk makan, ke kamar mandi, atau hal mendesak lainnya. Hal ini dilakukan agar tujuan utama i'tikaf yaitu berdiam diri untuk beribadah kepada Allah tetap terjaga. Namun jika seseorang harus keluar dari masjid karena kebutuhan mendesak, maka hal tersebut tidak membatalkan i'tikaf selama masih dalam batas yang wajar. Amalan yang Dianjurkan Saat I'tikaf Agar tata cara i'tikaf dapat memberikan manfaat maksimal, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan selama menjalankannya. Pertama adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sehingga membaca dan mentadabburi ayat-ayatnya menjadi ibadah yang sangat utama. Kedua adalah memperbanyak doa. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa terutama doa memohon ampunan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan doa yang dibaca saat mencari malam Lailatul Qadar: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni." Artinya:"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku." Ketiga adalah memperbanyak dzikir dan istighfar. Dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, hati akan menjadi lebih tenang dan ibadah terasa lebih khusyuk. Hikmah Melaksanakan I'tikaf Melaksanakan tata cara i'tikaf dengan benar memberikan banyak hikmah bagi kehidupan seorang muslim. Pertama, i'tikaf membantu seseorang untuk lebih fokus dalam beribadah. Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, i'tikaf menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Kedua, i'tikaf melatih kesabaran dan pengendalian diri. Dengan berdiam diri di masjid, seorang muslim belajar mengendalikan hawa nafsu dan lebih disiplin dalam beribadah. Ketiga, i'tikaf menjadi sarana untuk membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dalam suasana masjid yang tenang, seorang muslim dapat merenungkan kehidupannya dan memperbaiki niat serta amal perbuatannya. Keempat, i'tikaf memberikan peluang besar untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan. Memahami tata cara i'tikaf merupakan langkah penting agar ibadah ini dapat dilakukan dengan benar dan penuh kekhusyukan. I'tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, tetapi merupakan bentuk ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amalan, serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dengan menjalankan tata cara i'tikaf sesuai tuntunan Rasulullah SAW, seorang muslim dapat memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan. Di saat banyak orang sibuk dengan urusan dunia, i'tikaf mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah, memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Semoga dengan memahami tata cara i'tikaf dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan, Allah SWT memberikan keberkahan dalam setiap ibadah yang kita lakukan serta mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. I’tikaf adalah waktu terbaik untuk memutus hiruk-pikuk dunia dan fokus pada Sang Pencipta. Namun, jangan lupakan hak kaum miskin dalam harta kita. Kini, Anda bisa tetap menjaga kekhusyukan di dalam masjid sambil tetap menunaikan kedermawanan secara praktis. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA05/03/2026 | admin
Ketentuan Imsak dan Subuh: Mana yang Jadi Batas Akhir Sahur
Ketentuan Imsak dan Subuh: Mana yang Jadi Batas Akhir Sahur
Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan ini, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, dalam praktik sehari-hari, sering muncul pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai ketentuan imsak dan subuh. Banyak orang masih bertanya-tanya, apakah imsak merupakan batas akhir makan sahur, atau justru waktu subuh yang menjadi penentu dimulainya puasa. Memahami ketentuan imsak dan subuh menjadi penting agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan benar sesuai tuntunan syariat. Kesalahpahaman mengenai dua waktu ini dapat membuat seseorang berhenti makan terlalu cepat atau bahkan masih makan ketika puasa sebenarnya sudah dimulai. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui perbedaan antara imsak dan subuh serta mana yang sebenarnya menjadi batas akhir sahur. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai ketentuan imsak dan subuh, dasar hukumnya dalam Islam, serta bagaimana umat Muslim sebaiknya menyikapi waktu imsak ketika menjalankan ibadah puasa. Pengertian Imsak dalam Tradisi Puasa Dalam praktik ibadah puasa di Indonesia, istilah imsak sudah sangat akrab didengar, terutama saat bulan Ramadan. Biasanya waktu imsak tercantum dalam jadwal imsakiyah yang dibagikan oleh masjid, lembaga Islam, maupun instansi pemerintah. Secara bahasa, imsak berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan atau berhenti. Dalam konteks puasa, imsak dipahami sebagai waktu untuk mulai menahan diri dari makan dan minum sebelum masuknya waktu subuh. Namun, dalam kajian fikih, imsak sebenarnya bukanlah waktu yang menentukan dimulainya puasa. Ketentuan imsak dan subuh dalam Islam menegaskan bahwa puasa dimulai ketika fajar telah terbit, yaitu ketika waktu subuh masuk. Imsak lebih berfungsi sebagai pengingat atau kehati-hatian agar seseorang dapat menyelesaikan sahurnya sebelum waktu subuh tiba. Biasanya, waktu imsak dibuat sekitar 10 menit sebelum azan subuh untuk memberikan jeda bagi umat Islam agar bersiap memulai puasa. Dengan demikian, dalam ketentuan imsak dan subuh, imsak bukanlah batas akhir yang mengharamkan makan dan minum, melainkan hanya sebagai tanda peringatan agar umat Islam berhenti makan sebelum waktu subuh benar-benar datang. Waktu Subuh sebagai Batas Dimulainya Puasa Dalam ajaran Islam, batas dimulainya puasa sudah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187: “Dan makan serta minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai datang malam.” Ayat tersebut menjadi dasar utama dalam memahami ketentuan imsak dan subuh. Yang dimaksud dengan benang putih adalah cahaya fajar yang menandakan masuknya waktu subuh. Ketika fajar telah terbit, maka saat itulah puasa dimulai dan umat Islam wajib menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa. Para ulama sepakat bahwa waktu subuh adalah batas akhir sahur. Artinya, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum hingga sebelum masuknya waktu subuh. Oleh karena itu, jika seseorang masih makan beberapa menit sebelum azan subuh berkumandang, maka puasanya tetap sah. Namun jika ia masih makan setelah waktu subuh masuk, maka puasanya bisa menjadi batal karena telah melewati batas yang ditetapkan dalam syariat. Pemahaman ini menegaskan kembali bahwa dalam ketentuan imsak dan subuh, yang menjadi batas dimulainya puasa adalah waktu subuh, bukan waktu imsak. Mengapa Ada Waktu Imsak dalam Jadwal Puasa? Sebagian orang mungkin bertanya, jika waktu subuh adalah batas akhir sahur, mengapa dalam jadwal Ramadan selalu terdapat waktu imsak? Jawabannya berkaitan dengan prinsip kehati-hatian dalam beribadah. Waktu imsak dibuat sebagai pengingat agar umat Islam memiliki waktu untuk menyelesaikan sahur sebelum azan subuh tiba. Pada masa Rasulullah SAW, tidak ada istilah imsak sebagaimana yang dikenal sekarang. Dalam hadis disebutkan bahwa terdapat jeda waktu antara sahur Nabi dan azan subuh. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa jarak antara sahur Rasulullah SAW dan azan subuh kira-kira seukuran membaca lima puluh ayat Al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi tidak menunda sahur hingga detik terakhir, tetapi tetap memberikan jarak sebelum masuknya waktu subuh. Tradisi menetapkan waktu imsak dalam jadwal puasa di Indonesia bertujuan untuk membantu umat Islam mengikuti sunnah tersebut. Dengan adanya waktu imsak, umat Islam diingatkan untuk segera menyelesaikan makan sahur agar tidak melewati waktu subuh. Dalam konteks ini, ketentuan imsak dan subuh tetap menegaskan bahwa imsak hanyalah pengingat, bukan penentu dimulainya puasa. Keutamaan Mengakhirkan Sahur Dalam ajaran Islam, sahur memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur meskipun hanya dengan seteguk air. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa sahur mengandung keberkahan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sahur dan tidak meninggalkannya. Selain itu, Nabi juga menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, yakni mendekati waktu subuh. Hal ini menunjukkan bahwa makan sahur sebaiknya tidak dilakukan terlalu awal di malam hari. Dalam praktiknya, memahami ketentuan imsak dan subuh membantu umat Islam menjalankan sunnah ini dengan benar. Dengan mengetahui bahwa batas akhir sahur adalah waktu subuh, seseorang dapat memanfaatkan waktu sahur dengan lebih baik tanpa merasa khawatir berlebihan terhadap waktu imsak. Namun demikian, tetap dianjurkan untuk berhenti makan beberapa menit sebelum subuh sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW. Sikap Bijak Menghadapi Waktu Imsak Di masyarakat, sering terjadi perbedaan pemahaman mengenai waktu imsak. Sebagian orang langsung berhenti makan ketika waktu imsak tiba karena khawatir puasanya tidak sah jika masih makan setelahnya. Sikap tersebut sebenarnya tidak salah, karena berhenti makan lebih awal merupakan bentuk kehati-hatian dalam beribadah. Namun penting untuk dipahami bahwa secara syariat, ketentuan imsak dan subuh tidak menjadikan imsak sebagai batas haram makan. Selama waktu subuh belum masuk, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum. Hal ini juga sejalan dengan pendapat banyak ulama yang menjelaskan bahwa batas sahur adalah terbitnya fajar. Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan untuk tidak menunda sahur hingga terlalu mepet dengan azan subuh. Hal ini untuk menghindari kemungkinan keliru dalam menentukan waktu atau keterlambatan dalam menghentikan makan. Sikap yang bijak adalah menjadikan imsak sebagai pengingat untuk segera menyelesaikan sahur, sekaligus memastikan bahwa seseorang sudah siap memasuki waktu puasa dengan tenang. Pentingnya Memahami Ketentuan Imsak dan Subuh Pemahaman yang benar mengenai ketentuan imsak dan subuh sangat penting agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan tepat. Kesalahan dalam memahami waktu ini dapat menyebabkan kebingungan bahkan kesalahan dalam menjalankan puasa. Dalam Islam, batas dimulainya puasa sudah sangat jelas, yaitu ketika waktu subuh telah masuk dan fajar telah terbit. Oleh karena itu, waktu subuh menjadi batas akhir sahur yang sebenarnya. Sementara itu, waktu imsak hanyalah pengingat agar umat Islam memiliki waktu untuk menyelesaikan sahur sebelum subuh tiba. Kehadiran waktu imsak dalam jadwal puasa bertujuan membantu umat Islam agar lebih disiplin dan berhati-hati dalam menjalankan ibadah. Dengan memahami ketentuan imsak dan subuh secara benar, umat Islam dapat menjalankan puasa Ramadan dengan lebih tenang, tanpa keraguan mengenai sah atau tidaknya ibadah yang dilakukan. Pada akhirnya, yang terpenting dalam menjalankan puasa bukan hanya soal waktu sahur, tetapi juga menjaga niat, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam ajaran Islam, ketentuan imsak dan subuh memiliki peran yang berbeda dalam pelaksanaan ibadah puasa. Waktu subuh merupakan batas resmi dimulainya puasa dan menjadi batas akhir sahur sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Sementara itu, waktu imsak hanyalah pengingat yang dibuat untuk membantu umat Islam bersiap menghentikan makan dan minum sebelum subuh tiba. Imsak bukanlah waktu yang mengharamkan makan, melainkan sekadar tanda kehati-hatian. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu merasa khawatir jika masih makan sebelum waktu subuh meskipun sudah melewati waktu imsak. Selama subuh belum masuk, sahur masih diperbolehkan. Memahami ketentuan imsak dan subuh secara benar akan membantu umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan lebih yakin, tenang, dan sesuai dengan tuntunan syariat.
BERITA04/03/2026 | admin
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan terbesar dalam bulan suci ini adalah hadirnya malam lailatur qadar, sebuah malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim karena di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperoleh pahala berlipat ganda serta ampunan dari Allah SWT. Malam lailatur qadar bukan sekadar malam biasa dalam kalender Islam. Ia merupakan malam penuh kemuliaan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan harapan dapat bertemu dengan malam yang sangat mulia ini. Makna dan Pengertian Malam Lailatur Qadar Secara bahasa, kata “lailatur qadar” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata: lailah yang berarti malam dan qadar yang memiliki makna kemuliaan, ketetapan, atau takdir. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir. Dalam pandangan Islam, malam lailatur qadar adalah malam ketika Allah SWT menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Pada malam ini pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatur qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatur qadar itu? Malam lailatur qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam lailatur qadar memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Keutamaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Keistimewaan malam lailatur qadar membuatnya menjadi salah satu waktu yang paling berharga bagi umat Islam. Ada beberapa keutamaan yang menjadikan malam ini sangat istimewa di bulan Ramadhan. Lebih Baik dari Seribu Bulan Salah satu keutamaan terbesar malam lailatur qadar adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan tanpa adanya malam tersebut. Artinya, seorang muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada malam ini dapat memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Turunnya Malaikat ke Bumi Dalam Surah Al-Qadr ayat keempat disebutkan bahwa para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi pada malam lailatur qadar dengan membawa berbagai kebaikan dan keberkahan. Turunnya para malaikat ini menandakan betapa agung dan mulianya malam tersebut. Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, serta doa bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Malam Penuh Ampunan Keutamaan lain dari malam lailatur qadar adalah adanya peluang besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatur qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa malam lailatur qadar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan penuh keimanan. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Malam lailatur qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadi. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah malam lailatur qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadis lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam lailatur qadar adalah agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya pada satu malam saja. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sejak awal sepuluh malam terakhir, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Walaupun waktu pasti malam lailatur qadar tidak diketahui, beberapa hadis menyebutkan tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh umat Islam. Beberapa tanda tersebut antara lain: Malam terasa tenang dan penuh kedamaian Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin Suasana malam terasa lebih tenteram dibanding malam lainnya Matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan Namun demikian, tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Oleh karena itu, umat Islam tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Agar dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Shalat Malam Shalat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam lailatur qadar. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalat malam dapat dilakukan dalam bentuk shalat tahajud, shalat witir, maupun shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an Karena malam lailatur qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT. Memperbanyak Doa Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari malam lailatur qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam lailatur qadar karena mengandung permohonan ampunan kepada Allah SWT. I’tikaf di Masjid Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Dengan melakukan i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan menghindari gangguan dari aktivitas duniawi. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Tidak diketahui secara pasti kapan malam lailatur qadar terjadi. Hal ini merupakan hikmah besar dari Allah SWT agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu. Dengan dirahasiakannya waktu malam lailatur qadar, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini membuat kualitas ibadah menjadi lebih konsisten dan penuh kesungguhan. Selain itu, dirahasiakannya malam lailatur qadar juga mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya karena mencari satu malam tertentu, tetapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sepanjang waktu. Pentingnya Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada masa inilah peluang untuk bertemu dengan malam lailatur qadar sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Mengurangi aktivitas yang tidak penting, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT menjadi langkah penting dalam meraih keberkahan malam tersebut. Semakin bersungguh-sungguh seseorang dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semakin besar pula peluangnya untuk mendapatkan keutamaan malam lailatur qadar. Malam lailatur qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Keistimewaan malam ini terletak pada pahala ibadah yang jauh lebih baik daripada seribu bulan, turunnya para malaikat, serta terbukanya pintu ampunan bagi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, setiap muslim seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah, diharapkan kita dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu dengan malam lailatur qadar dan meraih keutamaannya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan terbesar dalam bulan suci ini adalah hadirnya malam lailatur qadar, sebuah malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim karena di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperoleh pahala berlipat ganda serta ampunan dari Allah SWT. Malam lailatur qadar bukan sekadar malam biasa dalam kalender Islam. Ia merupakan malam penuh kemuliaan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan harapan dapat bertemu dengan malam yang sangat mulia ini. Makna dan Pengertian Malam Lailatur Qadar Secara bahasa, kata “lailatur qadar” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata: lailah yang berarti malam dan qadar yang memiliki makna kemuliaan, ketetapan, atau takdir. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir. Dalam pandangan Islam, malam lailatur qadar adalah malam ketika Allah SWT menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Pada malam ini pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatur qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatur qadar itu? Malam lailatur qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam lailatur qadar memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Keutamaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Keistimewaan malam lailatur qadar membuatnya menjadi salah satu waktu yang paling berharga bagi umat Islam. Ada beberapa keutamaan yang menjadikan malam ini sangat istimewa di bulan Ramadhan. Lebih Baik dari Seribu Bulan Salah satu keutamaan terbesar malam lailatur qadar adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan tanpa adanya malam tersebut. Artinya, seorang muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada malam ini dapat memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Turunnya Malaikat ke Bumi Dalam Surah Al-Qadr ayat keempat disebutkan bahwa para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi pada malam lailatur qadar dengan membawa berbagai kebaikan dan keberkahan. Turunnya para malaikat ini menandakan betapa agung dan mulianya malam tersebut. Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, serta doa bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Malam Penuh Ampunan Keutamaan lain dari malam lailatur qadar adalah adanya peluang besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatur qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa malam lailatur qadar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan penuh keimanan. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Malam lailatur qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadi. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah malam lailatur qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadis lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam lailatur qadar adalah agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya pada satu malam saja. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sejak awal sepuluh malam terakhir, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Walaupun waktu pasti malam lailatur qadar tidak diketahui, beberapa hadis menyebutkan tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh umat Islam. Beberapa tanda tersebut antara lain: Malam terasa tenang dan penuh kedamaian Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin Suasana malam terasa lebih tenteram dibanding malam lainnya Matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan Namun demikian, tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Oleh karena itu, umat Islam tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Agar dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Shalat Malam Shalat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam lailatur qadar. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalat malam dapat dilakukan dalam bentuk shalat tahajud, shalat witir, maupun shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an Karena malam lailatur qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT. Memperbanyak Doa Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari malam lailatur qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam lailatur qadar karena mengandung permohonan ampunan kepada Allah SWT. I’tikaf di Masjid Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Dengan melakukan i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan menghindari gangguan dari aktivitas duniawi. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Tidak diketahui secara pasti kapan malam lailatur qadar terjadi. Hal ini merupakan hikmah besar dari Allah SWT agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu. Dengan dirahasiakannya waktu malam lailatur qadar, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini membuat kualitas ibadah menjadi lebih konsisten dan penuh kesungguhan. Selain itu, dirahasiakannya malam lailatur qadar juga mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya karena mencari satu malam tertentu, tetapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sepanjang waktu. Pentingnya Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada masa inilah peluang untuk bertemu dengan malam lailatur qadar sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Mengurangi aktivitas yang tidak penting, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT menjadi langkah penting dalam meraih keberkahan malam tersebut. Semakin bersungguh-sungguh seseorang dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semakin besar pula peluangnya untuk mendapatkan keutamaan malam lailatur qadar. Malam lailatur qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Keistimewaan malam ini terletak pada pahala ibadah yang jauh lebih baik daripada seribu bulan, turunnya para malaikat, serta terbukanya pintu ampunan bagi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, setiap muslim seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah, diharapkan kita dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu dengan malam lailatur qadar dan meraih keutamaannya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Amalan Ini untuk Memperoleh Keberkahan di Malam Lailatur Qadar
Amalan Ini untuk Memperoleh Keberkahan di Malam Lailatur Qadar
Malam Lailatur Qadar merupakan salah satu malam yang paling istimewa dalam ajaran Islam. Malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keutamaan Malam Lailatur Qadar membuat banyak umat Muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan tentang keagungan Malam Lailatur Qadar melalui Surah Al-Qadr. Pada malam tersebut, para malaikat turun ke bumi dengan membawa berbagai keberkahan dan ketentuan dari Allah SWT hingga terbitnya fajar. Karena itulah, Malam Lailatur Qadar menjadi momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Bagi setiap Muslim, memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar merupakan anugerah yang sangat besar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami amalan-amalan yang dianjurkan agar dapat meraih keutamaan malam yang penuh rahmat ini. Keistimewaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Malam Lailatur Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang penuh kemuliaan tersebut. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Malam Lailatur Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih besar dibandingkan ibadah selama lebih dari 83 tahun. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Selain itu, pada Malam Lailatur Qadar para malaikat turun ke bumi membawa rahmat dan keberkahan. Malam tersebut juga dipenuhi dengan kedamaian hingga terbitnya fajar. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah agar tidak melewatkan kesempatan besar tersebut. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Para ulama sepakat bahwa Malam Lailatur Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam dianjurkan untuk mencari Malam Lailatur Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Malam tersebut bisa terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti Malam Lailatur Qadar adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dengan demikian, semangat ibadah tidak hanya terfokus pada satu malam saja. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Untuk memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amalan ibadah. Amalan-amalan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meraih pahala yang berlipat ganda. 1. Memperbanyak Shalat Malam Salah satu amalan utama pada Malam Lailatur Qadar adalah melaksanakan shalat malam atau qiyamul lail. Shalat ini dapat berupa shalat tarawih, tahajud, maupun witir. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah. Shalat malam pada Malam Lailatur Qadar menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 2. Membaca Al-Qur’an Amalan lain yang sangat dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar adalah membaca Al-Qur’an. Hal ini sangat relevan karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam yang mulia tersebut. Membaca, memahami, dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an pada Malam Lailatur Qadar akan menambah keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Aktivitas ini juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. 3. Memperbanyak Doa Berdoa merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar. Pada malam yang penuh rahmat ini, doa-doa yang dipanjatkan memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari Malam Lailatur Qadar adalah doa yang diajarkan kepada Aisyah RA, yaitu memohon ampunan kepada Allah SWT yang Maha Pengampun. Dengan memperbanyak doa pada Malam Lailatur Qadar, seorang Muslim dapat memohon berbagai kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. 4. Memperbanyak Istighfar dan Dzikir Istighfar dan dzikir merupakan amalan sederhana tetapi memiliki pahala yang sangat besar. Pada Malam Lailatur Qadar, memperbanyak istighfar menjadi cara untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Selain itu, dzikir seperti tasbih, tahmid, dan takbir juga dapat dilakukan untuk mengingat kebesaran Allah SWT. Aktivitas ini akan membuat hati menjadi lebih tenang dan semakin dekat dengan Sang Pencipta. 5. Bersedekah Bersedekah juga termasuk amalan yang dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar. Sedekah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar karena bertepatan dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bentuk sedekah dapat berupa membantu fakir miskin, memberikan makanan berbuka puasa, maupun menyumbang kepada lembaga sosial yang terpercaya. Dengan bersedekah pada Malam Lailatur Qadar, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga menebarkan kebaikan kepada sesama. 6. I’tikaf di Masjid I’tikaf merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Rasulullah SAW dikenal rutin melakukan i’tikaf untuk mencari Malam Lailatur Qadar. Dengan i’tikaf, seorang Muslim dapat lebih fokus beribadah tanpa terganggu oleh aktivitas duniawi. I’tikaf juga menjadi momen refleksi diri untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Sebagian ulama menyebutkan bahwa terdapat beberapa tanda yang dapat dirasakan ketika Malam Lailatur Qadar terjadi. Namun tanda-tanda tersebut biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Beberapa tanda yang sering disebutkan dalam berbagai riwayat antara lain suasana malam yang terasa tenang, udara yang sejuk, serta matahari yang terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut. Meskipun demikian, umat Islam tidak dianjurkan untuk terlalu fokus mencari tanda-tanda tersebut. Yang lebih penting adalah memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Allah SWT tidak menjelaskan secara pasti kapan Malam Lailatur Qadar terjadi. Hal ini memiliki hikmah yang besar bagi umat Islam. Jika waktu Malam Lailatur Qadar diketahui secara pasti, kemungkinan sebagian orang hanya akan beribadah pada malam tersebut saja. Namun dengan dirahasiakannya waktu malam itu, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah secara konsisten sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Selain itu, dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar juga menjadi ujian kesungguhan iman seseorang dalam beribadah kepada Allah SWT. Malam Lailatur Qadar merupakan kesempatan luar biasa bagi umat Islam untuk meraih pahala dan keberkahan yang sangat besar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, bersedekah, dan melakukan i’tikaf, seorang Muslim memiliki peluang besar untuk memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar. Kesungguhan dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi kunci utama untuk meraih kemuliaan malam tersebut. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Malam Lailatur Qadar dan mendapatkan keberkahan yang Allah SWT janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA04/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti oleh umat Islam. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan ibadah tersebut. Banyak di antara kita sudah memahami bahwa makan dan minum dengan sengaja termasuk yang membatalkan puasa. Namun, pertanyaannya, apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum? Memahami apa saja yang membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalani tidak sia-sia. Sebagai muslim, kita tentu ingin memastikan bahwa puasa yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menegaskan batasan waktu puasa, sekaligus menjadi dasar bahwa ada hal-hal tertentu yang dapat membatalkan puasa. Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Saja yang Membatalkan Puasa Menurut Syariat Islam Dalam fikih Islam, para ulama telah merinci apa saja yang membatalkan puasa berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Berikut beberapa hal yang wajib kita pahami. 1. Makan dan Minum dengan Sengaja Ini adalah pembatal puasa yang paling jelas. Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja pada siang hari Ramadan, maka puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Namun, jika makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa lupa sedang ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Berhubungan badan pada siang hari Ramadan termasuk dosa besar dan membatalkan puasa. Bahkan, pelakunya tidak hanya wajib mengqadha puasa, tetapi juga membayar kafarat (denda) yang berat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Kafarat tersebut berupa: Memerdekakan budak (jika mampu), Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 orang miskin. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam syariat Islam. 3. Keluar Mani dengan Sengaja Apa saja yang membatalkan puasa juga mencakup keluarnya mani dengan sengaja, misalnya karena onani atau rangsangan tertentu yang disengaja. Jika mani keluar karena perbuatan yang disengaja, maka puasanya batal. Namun, jika keluar karena mimpi basah, maka puasanya tetap sah karena hal itu terjadi di luar kendali seseorang. 4. Muntah dengan Sengaja Muntah juga termasuk dalam daftar apa saja yang membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha atasnya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja maka wajib baginya qadha.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, misalnya karena sakit atau mual tiba-tiba, maka puasa tetap sah. 5. Haid dan Nifas Bagi perempuan, datangnya haid atau nifas termasuk yang membatalkan puasa. Bahkan jika darah haid keluar beberapa menit sebelum maghrib, maka puasa hari itu tetap batal dan wajib diganti di lain waktu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa perempuan yang haid tidak diwajibkan shalat dan puasa, serta wajib mengganti puasa yang ditinggalkan. 6. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal karena gila atau pingsan sepanjang hari, puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sah puasa adalah berakal. Namun, jika pingsan hanya sebagian waktu dan masih sempat sadar walau sebentar di siang hari, maka menurut sebagian ulama puasanya tetap sah. 7. Murtad (Keluar dari Islam) Keluar dari Islam atau murtad juga termasuk apa saja yang membatalkan puasa. Karena syarat utama sahnya puasa adalah beragama Islam. Jika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh amalnya gugur hingga ia kembali bertobat. Allah SWT berfirman: “Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 217) Hal-Hal yang Dikira Membatalkan Puasa, Padahal Tidak Agar tidak salah paham dalam memahami apa saja yang membatalkan puasa, penting juga mengetahui hal-hal yang sering disangka membatalkan, padahal tidak. Beberapa di antaranya: Berkumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu (selama tidak berlebihan) Menelan ludah sendiri Menggunakan obat tetes mata menurut mayoritas ulama Suntikan yang tidak mengandung nutrisi (menurut sebagian pendapat ulama kontemporer) Mimpi basah Namun, tetap dianjurkan untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal yang meragukan. Hikmah Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Mengetahui apa saja yang membatalkan puasa bukan sekadar untuk menghindari kesalahan teknis, tetapi juga untuk menjaga kesucian ibadah. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia melatih kejujuran, karena hanya diri kita dan Allah yang benar-benar tahu apakah kita menjaga puasa dengan baik atau tidak. Sebagai muslim, memahami hukum-hukum puasa juga bagian dari menuntut ilmu yang diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah) Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan sesuai tuntunan. Pentingnya Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Pada akhirnya, memahami apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga ibadah Ramadan. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus seharian, tetapi lalai terhadap hal-hal lain yang justru membatalkan puasa. Sebagai umat Islam, mari kita terus memperdalam ilmu fikih agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari jaga ibadah sekaligus kuatkan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti oleh umat Islam. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan ibadah tersebut. Banyak di antara kita sudah memahami bahwa makan dan minum dengan sengaja termasuk yang membatalkan puasa. Namun, pertanyaannya, apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum? Memahami apa saja yang membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalani tidak sia-sia. Sebagai muslim, kita tentu ingin memastikan bahwa puasa yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menegaskan batasan waktu puasa, sekaligus menjadi dasar bahwa ada hal-hal tertentu yang dapat membatalkan puasa. Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Saja yang Membatalkan Puasa Menurut Syariat Islam Dalam fikih Islam, para ulama telah merinci apa saja yang membatalkan puasa berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Berikut beberapa hal yang wajib kita pahami. 1. Makan dan Minum dengan Sengaja Ini adalah pembatal puasa yang paling jelas. Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja pada siang hari Ramadan, maka puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Namun, jika makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa lupa sedang ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Berhubungan badan pada siang hari Ramadan termasuk dosa besar dan membatalkan puasa. Bahkan, pelakunya tidak hanya wajib mengqadha puasa, tetapi juga membayar kafarat (denda) yang berat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Kafarat tersebut berupa: Memerdekakan budak (jika mampu), Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 orang miskin. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam syariat Islam. 3. Keluar Mani dengan Sengaja Apa saja yang membatalkan puasa juga mencakup keluarnya mani dengan sengaja, misalnya karena onani atau rangsangan tertentu yang disengaja. Jika mani keluar karena perbuatan yang disengaja, maka puasanya batal. Namun, jika keluar karena mimpi basah, maka puasanya tetap sah karena hal itu terjadi di luar kendali seseorang. 4. Muntah dengan Sengaja Muntah juga termasuk dalam daftar apa saja yang membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha atasnya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja maka wajib baginya qadha.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, misalnya karena sakit atau mual tiba-tiba, maka puasa tetap sah. 5. Haid dan Nifas Bagi perempuan, datangnya haid atau nifas termasuk yang membatalkan puasa. Bahkan jika darah haid keluar beberapa menit sebelum maghrib, maka puasa hari itu tetap batal dan wajib diganti di lain waktu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa perempuan yang haid tidak diwajibkan shalat dan puasa, serta wajib mengganti puasa yang ditinggalkan. 6. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal karena gila atau pingsan sepanjang hari, puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sah puasa adalah berakal. Namun, jika pingsan hanya sebagian waktu dan masih sempat sadar walau sebentar di siang hari, maka menurut sebagian ulama puasanya tetap sah. 7. Murtad (Keluar dari Islam) Keluar dari Islam atau murtad juga termasuk apa saja yang membatalkan puasa. Karena syarat utama sahnya puasa adalah beragama Islam. Jika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh amalnya gugur hingga ia kembali bertobat. Allah SWT berfirman: “Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 217) Hal-Hal yang Dikira Membatalkan Puasa, Padahal Tidak Agar tidak salah paham dalam memahami apa saja yang membatalkan puasa, penting juga mengetahui hal-hal yang sering disangka membatalkan, padahal tidak. Beberapa di antaranya: Berkumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu (selama tidak berlebihan) Menelan ludah sendiri Menggunakan obat tetes mata menurut mayoritas ulama Suntikan yang tidak mengandung nutrisi (menurut sebagian pendapat ulama kontemporer) Mimpi basah Namun, tetap dianjurkan untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal yang meragukan. Hikmah Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Mengetahui apa saja yang membatalkan puasa bukan sekadar untuk menghindari kesalahan teknis, tetapi juga untuk menjaga kesucian ibadah. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia melatih kejujuran, karena hanya diri kita dan Allah yang benar-benar tahu apakah kita menjaga puasa dengan baik atau tidak. Sebagai muslim, memahami hukum-hukum puasa juga bagian dari menuntut ilmu yang diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah) Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan sesuai tuntunan. Pentingnya Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Pada akhirnya, memahami apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga ibadah Ramadan. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus seharian, tetapi lalai terhadap hal-hal lain yang justru membatalkan puasa. Sebagai umat Islam, mari kita terus memperdalam ilmu fikih agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari jaga ibadah sekaligus kuatkan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti oleh umat Islam. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan ibadah tersebut. Banyak di antara kita sudah memahami bahwa makan dan minum dengan sengaja termasuk yang membatalkan puasa. Namun, pertanyaannya, apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum? Memahami apa saja yang membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalani tidak sia-sia. Sebagai muslim, kita tentu ingin memastikan bahwa puasa yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menegaskan batasan waktu puasa, sekaligus menjadi dasar bahwa ada hal-hal tertentu yang dapat membatalkan puasa. Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Saja yang Membatalkan Puasa Menurut Syariat Islam Dalam fikih Islam, para ulama telah merinci apa saja yang membatalkan puasa berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Berikut beberapa hal yang wajib kita pahami. 1. Makan dan Minum dengan Sengaja Ini adalah pembatal puasa yang paling jelas. Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja pada siang hari Ramadan, maka puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Namun, jika makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa lupa sedang ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Berhubungan badan pada siang hari Ramadan termasuk dosa besar dan membatalkan puasa. Bahkan, pelakunya tidak hanya wajib mengqadha puasa, tetapi juga membayar kafarat (denda) yang berat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Kafarat tersebut berupa: Memerdekakan budak (jika mampu), Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 orang miskin. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam syariat Islam. 3. Keluar Mani dengan Sengaja Apa saja yang membatalkan puasa juga mencakup keluarnya mani dengan sengaja, misalnya karena onani atau rangsangan tertentu yang disengaja. Jika mani keluar karena perbuatan yang disengaja, maka puasanya batal. Namun, jika keluar karena mimpi basah, maka puasanya tetap sah karena hal itu terjadi di luar kendali seseorang. 4. Muntah dengan Sengaja Muntah juga termasuk dalam daftar apa saja yang membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha atasnya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja maka wajib baginya qadha.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, misalnya karena sakit atau mual tiba-tiba, maka puasa tetap sah. 5. Haid dan Nifas Bagi perempuan, datangnya haid atau nifas termasuk yang membatalkan puasa. Bahkan jika darah haid keluar beberapa menit sebelum maghrib, maka puasa hari itu tetap batal dan wajib diganti di lain waktu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa perempuan yang haid tidak diwajibkan shalat dan puasa, serta wajib mengganti puasa yang ditinggalkan. 6. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal karena gila atau pingsan sepanjang hari, puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sah puasa adalah berakal. Namun, jika pingsan hanya sebagian waktu dan masih sempat sadar walau sebentar di siang hari, maka menurut sebagian ulama puasanya tetap sah. 7. Murtad (Keluar dari Islam) Keluar dari Islam atau murtad juga termasuk apa saja yang membatalkan puasa. Karena syarat utama sahnya puasa adalah beragama Islam. Jika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh amalnya gugur hingga ia kembali bertobat. Allah SWT berfirman: “Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 217) Hal-Hal yang Dikira Membatalkan Puasa, Padahal Tidak Agar tidak salah paham dalam memahami apa saja yang membatalkan puasa, penting juga mengetahui hal-hal yang sering disangka membatalkan, padahal tidak. Beberapa di antaranya: Berkumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu (selama tidak berlebihan) Menelan ludah sendiri Menggunakan obat tetes mata menurut mayoritas ulama Suntikan yang tidak mengandung nutrisi (menurut sebagian pendapat ulama kontemporer) Mimpi basah Namun, tetap dianjurkan untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal yang meragukan. Hikmah Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Mengetahui apa saja yang membatalkan puasa bukan sekadar untuk menghindari kesalahan teknis, tetapi juga untuk menjaga kesucian ibadah. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia melatih kejujuran, karena hanya diri kita dan Allah yang benar-benar tahu apakah kita menjaga puasa dengan baik atau tidak. Sebagai muslim, memahami hukum-hukum puasa juga bagian dari menuntut ilmu yang diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah) Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan sesuai tuntunan. Pentingnya Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Pada akhirnya, memahami apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga ibadah Ramadan. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus seharian, tetapi lalai terhadap hal-hal lain yang justru membatalkan puasa. Sebagai umat Islam, mari kita terus memperdalam ilmu fikih agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari jaga ibadah sekaligus kuatkan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Keutamaan Sedekah Subuh dan Dalil yang Mendasarinya
Keutamaan Sedekah Subuh dan Dalil yang Mendasarinya
Keutamaan sedekah subuh menjadi salah satu amalan yang semakin banyak diamalkan umat Islam, khususnya di bulan Ramadan maupun di hari-hari biasa. Banyak kaum muslimin yang berusaha menyisihkan sebagian rezekinya selepas shalat Subuh karena meyakini adanya keistimewaan waktu tersebut. Lalu, apa sebenarnya keutamaan sedekah subuh dan dalil yang mendasarinya dalam ajaran Islam? Sebagai seorang muslim, kita memahami bahwa sedekah adalah bagian dari ibadah yang sangat dianjurkan. Namun ketika sedekah dilakukan di waktu Subuh, ada nilai spiritual tambahan yang membuatnya terasa lebih istimewa. Artikel ini akan mengulas secara lengkap tentang keutamaan sedekah subuh, dalil-dalilnya, serta hikmah yang bisa kita ambil untuk kehidupan sehari-hari. Pengertian Sedekah dalam Islam Sebelum membahas lebih jauh tentang keutamaan sedekah subuh, penting untuk memahami makna sedekah itu sendiri. Dalam ajaran Islam, sedekah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain dengan niat mencari ridha Allah SWT. Sedekah tidak terbatas pada harta, tetapi juga bisa berupa tenaga, pikiran, bahkan senyuman. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan betapa besar balasan bagi orang yang gemar bersedekah. Apalagi jika sedekah tersebut dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan seperti waktu Subuh. Dalil Keutamaan Sedekah Subuh Keutamaan sedekah subuh memiliki dasar yang kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap pagi hari dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.’”(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim) Hadis ini menjadi dalil utama tentang keutamaan sedekah subuh. Waktu pagi, khususnya setelah Subuh, adalah saat malaikat mendoakan kebaikan bagi orang yang berinfak. Doa malaikat adalah doa yang mustajab karena mereka makhluk yang taat dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah. Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak ulama menganjurkan untuk membiasakan sedekah di waktu pagi. Waktu Subuh sebagai Waktu Penuh Keberkahan Subuh adalah waktu dimulainya aktivitas manusia. Dalam Islam, waktu pagi dikenal sebagai waktu yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW bahkan berdoa agar umatnya diberkahi di waktu pagi. “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Ketika sedekah dilakukan di waktu yang diberkahi, maka diharapkan keberkahan tersebut akan menyertai harta dan kehidupan kita sepanjang hari. Keutamaan sedekah subuh tidak hanya soal pahala, tetapi juga keberkahan rezeki dan ketenangan hati. Keutamaan Sedekah Subuh bagi Kehidupan Seorang Muslim Berikut beberapa keutamaan sedekah subuh yang bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari: 1. Mendapat Doa Malaikat Sebagaimana disebutkan dalam hadis, orang yang bersedekah di pagi hari akan didoakan oleh malaikat agar mendapatkan ganti dari Allah SWT. Ini adalah keutamaan sedekah subuh yang sangat besar, karena doa malaikat tidak akan tertolak. 2. Membuka Pintu Rezeki Banyak kaum muslimin yang merasakan kelapangan rezeki setelah rutin bersedekah di waktu Subuh. Meskipun tidak selalu dalam bentuk materi yang langsung terlihat, namun bisa berupa kesehatan, kemudahan urusan, atau dijauhkan dari musibah. Allah SWT berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”(QS. Saba’: 39) Ayat ini menguatkan keyakinan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Justru dengan memahami keutamaan sedekah subuh, kita semakin yakin bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. 3. Membersihkan Hati dari Sifat Kikir Sedekah adalah obat bagi hati yang keras dan kikir. Dengan membiasakan diri bersedekah setiap pagi, kita melatih diri untuk tidak terlalu mencintai dunia. Hati menjadi lebih lembut dan peduli terhadap sesama. 4. Mengawali Hari dengan Amal Saleh Keutamaan sedekah subuh juga terletak pada momentum spiritualnya. Mengawali hari dengan amal saleh membuat kita lebih semangat menjalani aktivitas. Secara psikologis, hati terasa ringan karena telah melakukan kebaikan sejak awal hari. 5. Menjadi Sebab Diangkatnya Musibah Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa sedekah dapat menolak bala. Meskipun tidak selalu terlihat secara kasat mata, namun banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah menjadi sebab terhindarnya seseorang dari musibah yang seharusnya menimpanya. Praktik Keutamaan Sedekah Subuh di Era Modern Di era digital saat ini, keutamaan sedekah subuh semakin mudah diamalkan. Banyak lembaga amil zakat dan sedekah yang menyediakan layanan transfer otomatis setiap pagi. Dengan kemudahan ini, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda kebaikan. Di Indonesia, salah satu lembaga yang aktif mengajak masyarakat untuk bersedekah adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Melalui berbagai program pemberdayaan, sedekah yang kita keluarkan dapat membantu pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi umat. Dengan memahami keutamaan sedekah subuh, kita tidak hanya beramal secara individual, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun kesejahteraan umat secara kolektif. Niat dan Keikhlasan dalam Sedekah Subuh Perlu diingat bahwa keutamaan sedekah subuh akan sempurna jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Sedekah bukan untuk dipuji, bukan untuk dipamerkan di media sosial, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tangan kanan yang memberi sebaiknya tidak diketahui oleh tangan kiri. Artinya, sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa riya. Namun apabila publikasi dilakukan untuk menginspirasi orang lain dan tetap menjaga keikhlasan, maka hal itu pun diperbolehkan selama niatnya lurus. Konsistensi dalam Mengamalkan Keutamaan Sedekah Subuh Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu memiliki harta berlimpah untuk memulai sedekah subuh. Mulailah dari nominal yang ringan, tetapi rutin. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap pagi akan membentuk karakter dermawan dalam diri kita. Lambat laun, keutamaan sedekah subuh tidak hanya menjadi teori, tetapi menjadi gaya hidup seorang muslim. Bayangkan jika setiap muslim membiasakan diri bersedekah setiap pagi, betapa banyak fakir miskin yang terbantu, betapa banyak anak yatim yang tersenyum, dan betapa kuatnya solidaritas umat Islam. Meraih Keutamaan Sedekah Subuh dalam Kehidupan Sehari-hari Keutamaan sedekah subuh bukan sekadar tren atau kebiasaan yang viral di media sosial. Ia memiliki landasan dalil yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Doa malaikat di waktu pagi, janji Allah tentang penggantian harta, serta keberkahan waktu Subuh menjadi alasan kuat mengapa amalan ini layak kita prioritaskan. Sebagai umat Islam, sudah selayaknya kita menjadikan keutamaan sedekah subuh sebagai bagian dari rutinitas harian. Tidak perlu menunggu kaya, tidak perlu menunggu sempurna. Yang dibutuhkan hanyalah niat yang tulus dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya. Semoga dengan memahami dan mengamalkan keutamaan sedekah subuh, Allah SWT melapangkan rezeki kita, menenangkan hati kita, serta menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya yang gemar berbagi. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Ketentuan Puasa bagi Musafir: Jarak, Keringanan, dan Qadha
Ketentuan Puasa bagi Musafir: Jarak, Keringanan, dan Qadha
Puasa Ramadan merupakan salah satu kewajiban utama bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah ini tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana untuk melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat empati terhadap sesama. Namun dalam Islam, Allah SWT memberikan berbagai kemudahan bagi umat-Nya dalam menjalankan ibadah, termasuk bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan atau menjadi musafir. Ketentuan puasa bagi musafir menjadi salah satu bentuk keringanan yang diberikan oleh syariat Islam. Seorang muslim yang sedang melakukan perjalanan jauh tidak diwajibkan berpuasa jika kondisi perjalanan membuatnya sulit menjalankan ibadah tersebut. Meski demikian, ada aturan yang perlu dipahami terkait jarak perjalanan, bentuk keringanan yang diberikan, serta kewajiban mengganti puasa di kemudian hari. Memahami ketentuan puasa bagi musafir sangat penting agar seorang muslim dapat menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan pengetahuan yang benar, seseorang tidak akan ragu dalam menentukan apakah ia tetap berpuasa atau mengambil keringanan yang diberikan oleh Allah SWT. Dasar Hukum Ketentuan Puasa bagi Musafir dalam Islam Dalam Islam, ketentuan puasa bagi musafir telah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT memberikan keringanan kepada orang yang sedang melakukan perjalanan agar tidak merasa terbebani dalam menjalankan ibadah puasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain."(QS. Al-Baqarah: 184) Ayat tersebut menjadi landasan utama dalam pembahasan ketentuan puasa bagi musafir. Islam memandang perjalanan sebagai kondisi yang dapat menimbulkan kesulitan, sehingga Allah memberikan kemudahan agar umat Islam tetap dapat menjalankan agama dengan baik tanpa memberatkan diri. Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah memberikan contoh dalam berbagai perjalanan beliau. Dalam beberapa kesempatan, Nabi Muhammad SAW tetap berpuasa ketika safar, sementara pada kesempatan lain beliau berbuka. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan tersebut bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Dalam sebuah hadis disebutkan: "Bukanlah suatu kebaikan berpuasa dalam perjalanan."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini merujuk pada kondisi ketika puasa menyebabkan kesulitan yang berat selama perjalanan. Pengertian Musafir dalam Islam Sebelum memahami lebih jauh tentang ketentuan puasa bagi musafir, penting untuk mengetahui siapa yang disebut musafir dalam pandangan syariat Islam. Musafir adalah seseorang yang melakukan perjalanan keluar dari daerah tempat tinggalnya dengan jarak tertentu yang menurut syariat dianggap sebagai perjalanan jauh. Status musafir memberikan beberapa keringanan ibadah, seperti boleh mengqashar salat dan mendapatkan rukhsah (keringanan) dalam puasa. Dalam konteks ketentuan puasa bagi musafir, perjalanan yang dimaksud biasanya bukan sekadar perjalanan singkat di dalam kota, melainkan perjalanan yang memenuhi batas jarak tertentu yang diakui dalam fikih Islam. Para ulama sepakat bahwa seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan niat safar diperbolehkan untuk tidak berpuasa selama perjalanan tersebut, selama ia belum menetap di tempat tujuan. Jarak Perjalanan yang Membolehkan Musafir Tidak Berpuasa Salah satu aspek penting dalam ketentuan puasa bagi musafir adalah jarak perjalanan yang membuat seseorang diperbolehkan mengambil keringanan tersebut. Mayoritas ulama menyebutkan bahwa jarak safar yang membolehkan seseorang mendapatkan keringanan ibadah sekitar dua marhalah, yang setara dengan kurang lebih 80–90 kilometer. Pendapat ini dipegang oleh sebagian besar ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali. Jika seseorang melakukan perjalanan sejauh jarak tersebut atau lebih, maka ia dianggap sebagai musafir dan boleh tidak berpuasa. Namun, terdapat beberapa syarat tambahan dalam ketentuan puasa bagi musafir, antara lain: Perjalanan dilakukan dengan tujuan yang baik atau tidak untuk maksiat Jarak perjalanan memenuhi ketentuan safar menurut ulama Perjalanan dilakukan sebelum waktu subuh atau saat sedang berpuasa kemudian memulai perjalanan Perjalanan menimbulkan kesulitan yang wajar Dengan memahami jarak safar ini, seorang muslim dapat menentukan apakah dirinya termasuk kategori musafir yang mendapatkan keringanan dalam menjalankan puasa Ramadan. Bentuk Keringanan Puasa bagi Musafir Dalam syariat Islam, ketentuan puasa bagi musafir memberikan pilihan kepada seseorang untuk tetap berpuasa atau mengambil keringanan dengan tidak berpuasa. Kedua pilihan ini sama-sama diperbolehkan selama memenuhi ketentuan yang ada. Tetap Berpuasa Saat Safar Sebagian orang tetap memilih berpuasa ketika melakukan perjalanan. Hal ini diperbolehkan jika kondisi perjalanan tidak terlalu berat dan seseorang merasa mampu menjalankan ibadah tersebut. Rasulullah SAW pernah melakukan perjalanan bersama para sahabat pada bulan Ramadan. Sebagian sahabat tetap berpuasa, sementara yang lain memilih berbuka. Nabi tidak mencela kedua pilihan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ketentuan puasa bagi musafir, Islam memberikan fleksibilitas sesuai kemampuan masing-masing individu. Tidak Berpuasa Saat Safar Jika perjalanan terasa berat atau mengganggu kondisi fisik, seorang musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Bahkan dalam kondisi tertentu, tidak berpuasa justru lebih dianjurkan agar seseorang tidak membahayakan dirinya sendiri. Islam adalah agama yang penuh rahmat dan tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya. Oleh karena itu, ketentuan puasa bagi musafir merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Kewajiban Mengganti Puasa (Qadha) Meskipun seorang musafir diperbolehkan tidak berpuasa, kewajiban puasa Ramadan tetap harus dipenuhi. Oleh karena itu, puasa yang ditinggalkan wajib diganti pada hari lain setelah bulan Ramadan. Hal ini disebut dengan qadha puasa. Dalam ketentuan puasa bagi musafir, qadha dilakukan sebanyak jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Jika seseorang tidak berpuasa selama tiga hari perjalanan, maka ia wajib menggantinya tiga hari setelah Ramadan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka wajib mengganti pada hari-hari yang lain."(QS. Al-Baqarah: 185) Qadha puasa dapat dilakukan kapan saja sebelum datangnya Ramadan berikutnya. Namun, para ulama menganjurkan agar qadha dilakukan sesegera mungkin agar tidak menumpuk kewajiban ibadah. Hikmah Keringanan Puasa bagi Musafir Ketentuan puasa bagi musafir tidak hanya sekadar aturan fikih, tetapi juga mengandung hikmah yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim. Pertama, keringanan ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang tidak memberatkan umatnya. Allah SWT memahami kondisi manusia yang memiliki keterbatasan fisik. Kedua, aturan ini mengajarkan keseimbangan antara menjalankan ibadah dan menjaga kesehatan tubuh. Islam tidak menganjurkan seseorang memaksakan diri jika hal tersebut berpotensi menimbulkan bahaya. Ketiga, ketentuan puasa bagi musafir juga mengajarkan nilai kemudahan dalam syariat. Banyak ulama menyebutkan bahwa prinsip dasar Islam adalah memudahkan, bukan mempersulit. Allah SWT berfirman: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu."(QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menjadi prinsip penting dalam memahami berbagai rukhsah atau keringanan dalam ibadah. Memahami Ketentuan Puasa bagi Musafir dengan Bijak Bagi seorang muslim, memahami ketentuan puasa bagi musafir sangat penting agar dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. Keringanan yang diberikan bukanlah bentuk kelonggaran yang boleh disalahgunakan, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Seorang muslim sebaiknya menilai kondisi perjalanan yang sedang dilakukan. Jika perjalanan ringan dan tidak menyulitkan, berpuasa tetap menjadi pilihan yang baik. Namun jika perjalanan berat dan menguras tenaga, mengambil keringanan untuk tidak berpuasa juga merupakan bagian dari menjalankan syariat. Pada akhirnya, ketentuan puasa bagi musafir menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh hikmah dan keseimbangan. Allah SWT tidak hanya memerintahkan ibadah, tetapi juga memberikan kemudahan agar manusia dapat menjalankannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Dengan memahami jarak perjalanan, bentuk keringanan yang diperbolehkan, serta kewajiban qadha setelah Ramadan, seorang muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan sesuai tuntunan agama. Semoga dengan memahami ketentuan puasa bagi musafir, kita semakin mampu menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS DIY — lembaga resmi dan terpercaya untuk mengelola dana umat demi kesejahteraan bersama. - Dengan zakat, kita bersihkan harta. - Dengan infak, kita kuatkan solidaritas. - Dengan sedekah, kita tebarkan kebaikan. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah, profesional, dan transparan untuk membantu mereka yang membutuhkan — dari anak yatim, dhuafa, lansia, hingga program pemberdayaan ekonomi umat. - Salurkan ZIS Anda melalui BAZNAS DIY ZAKAT BSI : 309 12 2015 5 an.BAZNAS DIY INFAQ/SEDEKAH BSI : 309 12 2019 8 an.BAZNAS DIY atau melalui link: diy.baznas.go.id/bayarzakat - Informasi & Konfirmasi: 0852-2122-2616 - Website: diy.baznas.go.id - Media Sosial: @baznasdiy__official BAZNAS DIY — Membantu Sesama, Menguatkan Umat
BERITA03/03/2026 | admin
Gubernur DIY dan Ketua DPRD DIY Tunaikan Zakat dalam Gerakan Keteladanan Pemimpin Daerah 2026
Gubernur DIY dan Ketua DPRD DIY Tunaikan Zakat dalam Gerakan Keteladanan Pemimpin Daerah 2026
Yogyakarta — Kegiatan Zakat Keteladanan Pemimpin Daerah Tahun 2026 yang diselenggarakan di Bangsal Kepatihan, Selasa (3/3/2026), berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Acara ini menjadi momentum penting dalam menguatkan peran zakat sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Ketua DPRD DIY-Nuryadi, S.Pd, secara langsung menunaikan zakat melalui BAZNAS DIY sebagai wujud keteladanan bagi para pemimpin daerah dan jajaran instansi di lingkungan Pemerintah Daerah DIY. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh semangat untuk mengajak masyarakat semakin patuh dalam menunaikan zakat, yang ditandai dengan keteladanan pimpinan daerah. Nilai manfaat zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) dinilai memiliki dampak besar dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat serta penanggulangan kemiskinan di DIY. Sepanjang tahun 2025, BAZNAS DIY berhasil menghimpun dan mengelola dana ZIS-DSKL sebesar ± Rp12,5 miliar, serta donasi bencana Aceh-Sumatera sebesar ± Rp1,4 miliar. Dana tersebut disalurkan melalui lima program strategis kepada delapan asnaf sesuai syariat Islam. Pengelolaan keuangan BAZNAS DIY juga telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama sembilan tahun berturut-turut, serta memperoleh predikat transparan dan sangat baik dalam audit syariah oleh Kementerian Agama RI. Mengusung tema “Zakat Menguatkan Indonesia”, pengelolaan ZIS-DSKL difokuskan pada lima aspek utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kemanusiaan, dan keagamaan. Dalam bulan suci Ramadan 1447 H, BAZNAS DIY menyiapkan berbagai program penyaluran, antara lain Syiar Al-Qur’an (100 paket), Zakat Fitrah (1.500 paket), Paket Logistik Keluarga dan Paket Ramadan Bahagia (2.750 paket), Hidangan Berkah Ramadan dan Fidyah (1.111 boks), bantuan living cost mahasiswa terdampak bencana tahap kedua, serta pendirian Posko Mudik BAZNAS. Prestasi BAZNAS DIY juga mendapat apresiasi nasional melalui ajang BAZNAS Award 2025 dengan meraih tujuh penghargaan, di antaranya sebagai Koordinator Kantor Digital Terbaik, Pengguna SimbaLite Terbaik, Koordinator Simba Terbaik, Perencanaan Terbaik, Penanganan Stunting Terbaik, Kantor Digital Terbaik, dan Pelaporan Terbaik. Capaian ini menjadi perolehan penghargaan terbanyak se-Indonesia dalam pengelolaan ZIS-DSKL. Dalam rangkaian acara, turut diserahkan piagam apresiasi BAZNAS DIY Award kepada mitra strategis, serta penyerahan dana zakat keteladanan pemimpin daerah oleh Gubernur DIY dan Wakil Gubernur DIY. Melalui kegiatan ini diharapkan para pimpinan instansi, OPD, dan perusahaan di DIY dapat mengikuti keteladanan Gubernur dalam menunaikan zakat melalui lembaga resmi yang dibentuk pemerintah. BAZNAS DIY juga menegaskan bahwa pengelolaan ZIS-DSKL dilaksanakan berdasarkan prinsip 3 Aman: Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI, dengan pengawasan yang ketat serta menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik kebangkitan zakat di DIY, sehingga semakin banyak masyarakat yang menunaikan ZIS-DSKL melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi negara, demi terwujudnya kebermanfaatan yang lebih luas dan berkelanjutan bagi umat.
BERITA03/03/2026 | admin
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →